Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XX/17 - 23 Maret 1990
   
Catatan Pinggir

Milik

Arti milik menurut Pierre Joseph Proudhon. Milik adalah pencurian. Kekayaan adalah hasil mengambil hak orang lain. Tapi bagi kaum Marxis, milik adalah dosa dan ia tidak boleh ada.

APA arti kekayaan? Apa artinya milik? Pierre Joseph Proudhon menjawab pada
1841: "Milik adalah pencurian". Kekayaan adalah hasil mengambil hak orang
lain. Kaum yang empunya modal bisa mengumpulkan harta karena meskipun mereka
mengupah buruh dengan gaji penuh -- mereka sebenarnya tak membalas jasa para
pekerja itu secara setimpal.

Marx membaca itu, dan bertepuk tangan. Ini "manifesto ilmiah kaum proletar
Prancis", serunya. Bagi kaum Marxis, milik adalah dosa ia tak boleh ada. Marx
mengajukan teori "nilai lebih" yang terkenal itu, dan menunjuk sifat menghisap
yang terjadi dalam hubungan antara orang yang mengupah dan yang diupah.

Ketika Uni Soviet didirikan Lenin lewat Revolusi Oktober 1917, satu ajaran:
Marx yang dicoba dilaksanakan dengan takzim ialah dihilangkannya hak milik
atas perusahaan sekecil apa pun. Memang pernah suatu masa, pada 1920-an, Lenin
membebaskan wiraswasta bekerja -- asal tak tumbuh jadi besar. "Garis Ekonomi
Baru" ini diterapkan karena republik sosialis yang masih balita itu dirundung
kemacetan ekonomi. Tapi para bapak komunis pada dasarnya tak menyukai
kapitalis gurem sekalipun. Dan kemudian Lenin meninggal, Stalin berkuasa dan
ada perang dan macam-macam. "Garis Ekonomi Baru" itu tak terdengar lagi.

Lalu pada 1970-an ekonomi macet dahsyat. Muncullah Gorbachev. Di bawahnya,
Maret 1990, 350 anggota Parlemen Soviet menyetujui (hanya 3 menentang dan 11
abstain) sebuah undang-undang yang akan membolehkan orang Soviet punya
perusahaan kecil. Memang, istilah "milik swasta" tak dipakai dalam undang
undang itu -- yang dipakai ialah kata "milik warga" -- tapi tak pelak lagi:
jika kekayaan adalah "pencurian", maka kini sedang dibuka sebuah pintu gerbang
ke arah penghalalan "pencurian". Jika hubungan antara si pengupah dan si
diupah adalah eksploitasi, maka kini sedang disajikan satu arena penghisapan.

Tapi benarkah premis itu? Benarkah bahwa "milik itu pencurian" dan sebab itu
harus ditiadakan dari muka bumi? Benarkah hubungan yang bersendi pada upah itu
satu "penghisapan"? Bagi rakyat banyak di negeri sosialis, yang telah
mengalami ikhtiar sosialisme, jawabnya kini sudah jelas. Tapi di antara
cendekiawan dan aktivis "kiri" di negeri-negeri yang tak pernah mencicipi
sosialisme ala Soviet -- mereka yang selama ini hanya menyaksikan keburukan
kapitalisme -- debat belum selesai.

Ada yang seperti Roemer, ahli ekonomi Marxis yang menulis "teori umum tentang
eksploitasi", yang menunjukkan kesalahan Marx dalam soal yang satu itu. Tapi
ada yang masih taklid, setidaknya sebelum tahun 1980-an. Para pemikir "teologi
pembebasan" dari Amerika Latin, misalnya Gustavo Gutierrez dari Peru dan Juan
Luis Segundo dari Uruguay, ingin meniadakan sama sekali kemungkinan pribadi
atau swasta memiliki alat produksi -- dan itu berarti juga tanah.

Orang bisa mengatakan, Gutierrez dan Segundo bersikap demikian karena mereka
berdua adalah pastor Katolik -- yang sudah menyatakan "kaul kemiskinan" dan
hidup selibat dengan ditopang Gereja. Mereka bukan orang yang harus cari
nafkah sendiri untuk anak bini. Tentu, rasa setiakawan mereka mendalam
terhadap si miskin tapi kesadaran mereka bukanlah kesadaran dan impian orang
miskin. Mereka tak menghayati beban seorang buruh: beban tak punya apa-apa,
yang menghambat perkembangan dirinya. Marx dan Lenin juga tak bisa menghayati
apa arti milik bagi manusia yang tak punya milik: Marx dan Lenin tak
dibesarkan di rumah yang reyot, tak pernah bekerja sebagai proletar.

Mungkin itu yang membedakan Marx dari Proudhon. Proudhon pernah bekerja di
sebuah percetakan, dan di situlah ia belajar membaca. Tahu apa yang sebetulnya
diimpikan buruh, Proudhon tak bermaksud menghapuskan hak milik pribadi ia
cuma ingin membaginya lebih merata. Ia menyukai kelompok-kelompok kecil, bukan
organisasi sosialis yang besar. Ia tak mau revolusi: ia "lebih suka membakar
pemilikan (propriete) dengan api yang pelan," katanya. Ia tak melihat sejarah
akan berakhir dengan suatu sintesa agung yang bernama masyarakat komunis.
Baginya, sejarah berlangsung dan mengorak dalam kontradiksi yang
terus-menerus.

Tapi siapa kini ingat Proudhon? Marx kemudian menggebuknya dan Proudhon
tenggelam. Kita, yang tak tahu sejarah sosialisme, akhirnya pun mengira bahwa
jadi "kiri" identik dengan jadi Marxis (-- Leninis). Terkadang untuk
gagah-gagahan, terkadang untuk menjatuhkan hukuman.

Goenawan Mohamad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pengibaran Bendera Bintang Kejora Tak Terkait Sentimen Agama - 19 Jul 2008 | 16:34 WIB
Pengibar Bendera Bintang Kejora Dikenai Tuduhan Makar - 19 Jul 2008 | 16:27 WIB
41 Pengibar Bendera Bintang Kejora Ditangkap - 19 Jul 2008 | 16:20 WIB
Polres Pasuruan Dirikan Posko Pengaduan Pemilu - 19 Jul 2008 | 16:03 WIB
PMI Kabupaten Malang Kahabisan Kantong Darah - 19 Jul 2008 | 16:00 WIB
Makam Sumiarsih dan Sugeng Masih Terus Dikunjungi - 19 Jul 2008 | 15:58 WIB
33 Pengunjung Hiburan Malam Diperiksa - 19 Jul 2008 | 15:30 WIB
Penertiban Boker Batal - 19 Jul 2008 | 12:42 WIB
Kesatria Turun Pamor - 19 Jul 2008 | 11:12 WIB
RUU Pengadilan Korupsi Maju ke Dewan - 19 Jul 2008 | 11:09 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data