Demokratisasi, dengan teori pegang Wawancara tempo dengan menteri moerdiono tentang proses demokratisasi,
generasi muda, golput, dan komunisme. masih ada ganjalan dalam proses
demokratisasi. |
SEMAKIN berat tugas Moerdiono, Menteri Sekretaris Negara, semakin cenderung
ia membatasi diri agar tak banyak bicara. Namun, ia tetap dikenal sebagai
seorang yang tak enggan berdiskusi dan kuat dalam adu argumentasi. Ia tak
terjebak dalam slogan-slogan: ia menyukai pemikiran konsepsional dan selalu
ingin menelaah persoalan sampai tuntas.
Di bawah ini hasil rangkuman wawancara Menteri Moerdiono dengan Susanto
Pudjomartono dan Ahmed K. Soeriawidjaja dari TEMPO, menjelang pertengahan
Desember 1990:
Tentang Proses Demokratisasi.
Saya pernah mengatakan bahwa proses demokratisasi itu seperti ini: Kita maju
selangkah, lalu kita lihat barisan, sudah maju semua atau belum. Iramanya juga
kita lihat. Kalau perlu, mundur sedikit, lalu maju lagi. Siapa yang kasih
komando, saya tidak tahu. Dan apakah perlu komando, saya juga tak tahu.
Saya punya teori. Namanya: Teori Pegang Burung. Nah, proses demokratisasi
itu, ya seperti memegang burung. Kalau terlalu keras pegangnya, ya mati. Kalau
longgar, ya lepas.
Memang masih ada ganjalan di sana-sini. Seperti soal perbedaan pendapat yang
belum jelas batasan-batasannya. Juga tentang bagaimana kita memberikan
interpretasi terhadap UUD, yang satu bilang sesuai dengan UUD, yang lain
bilang tidak. Dalam hal ini, harus kita akui, banyak di antara kita yang tak
membaca baik-baik UUD '45 atau GBHN, misalnya.
Soal lain yang juga masih menjadi ganjalan dalam proses demokratisasi ini
adalah karena belum jelasnya budaya politik, etika politik, dan komunikasi
politik. Betul, kini sekarang masih dalam proses pembentukannya. Tapi, jangan
sampai proses pembentukannya ini terganggu. Nanti seperti bunga yang layu
sebelum berkembang. Sebaiknya kita semua menahan diri dan berhati-hati.
Dalam soal pembatalan pembacaan sajak Rendra dan pementasan Teater Koma, saya
berharap semua pihak merenung. Mudah-mudahan dengan hasil renungannya itu,
nanti kita bisa lebih arif dalam menghadapi masalah-masalah seperti itu.
Tentang Generasi Muda.
Secara hipotetis, generasi baru yang ada ini lahir dalam alam pembangunan.
Persepsi mereka lebih "pendek". Maksudnya begini: mereka tak pernah mengalami
sama sekali perjuangan fisik untuk merebut kemerdekaan. Mereka tak mengalami
pergolakan dan instabilitas yang berkepanjangan. Saya khawatir bagaimana
persepsi mereka mengenai demokrasi. Saya khawatir mereka artikan demokrasi itu
adalah kebebasan tanpa batas. Persepsi seperti ini yang tak saya inginkan.
Kalau karena kebebasan kemudian semua yang ada jadi tercerai-berai, ya buat
apa kebebasan. Yang perlu, buat generasi muda, adalah kemandirian dan bukan
kesendirian.
Tentang "Golput".
Kalau ada "golput", itu tak sehat karena mereka tak berpendirian terhadap
proses politik dan demokrasi yang kita kembangkan bersama. Bagaimanapun, ini
merupakan tantangan terhadap infrastruktur yang ada. Jangan sampai para calon
pemilih mengalami disillusion.
Tentang komunisme.
Buat saya, secara konseptual, komunisme sudah mati. Saya ingin
menggarisbawahi apa yang sudah dikatakan Presiden Soeharto yang mengingatkan
bahwa ancaman terhadap Pancasila itu bukan datang dari luar. Ancamannya
adalah, kalau pelaksanaan terhadap Pancasila itu tak ada. Itu yang berbahaya.
|