Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXI/13 - 19 April 1991
   
Film

Pemberontakan sebuah boneka

Pemain : meriam bellina, didi petet, lidya kandouw, eeng saptohadi sutradara/skenario : nya' abbas akup produksi : parkit film, resensi oleh: putu wijaya.

BONEKA DARI INDIANA
Pemain: Meriam Bellina, Didi Petet, Lidya Kandouw, Eeng Saptohadi
Sutradara/Skenario: Nya' Abbas Akup
Produksi: Parkit Film

EGI (Didi Petet) takluk pada istrinya (Lidya Kandouw). Karena ia merasa
mendapat hidup dari mertuanya yang konglomerat. Ia jadi boneka, yang harus
menurut, mesti selalu bilang ya.

Kehadiran seorang tetangga cantik, Eya (Meriam Bellina), membuat istrinya
cemburu buta. Egi sempat dikunci dalam kamar, karena ditakutkan akan main
belakang. Tapi justru karena dikekang, Egi menerobos genting rumah dan
bertandang ke tetangga dengan santai.

Tetangga lain meneror dengan mengirimkan potret Egi bersama Eya. Istri pun
naik pitam dan lapor pada orangtua (Ami Prijono dan Ida Kusuma). Anehnya, sang
mertua malah meminta Egi meneruskan hubungan gelap guna mendapatkan surat izin
penampungan limbah berbahaya dari luar negeri. Karena wanita di sebelah itu
adalah peliharaan seorang babe gede (Bob Sadino).

Akhirnya Egi berhasil mendapatkan izin. Tetapi ketika mertuanya
bergembira-ria dan tidak menghiraukan pesan bahwa limbah itu bisa berbahaya
pada masyarakat, Egi terpanggil. Ia naik ke kursi dan merobek surat itu. "Saya
sudah bosan disuruh-suruh dan mengatakan ya," katanya, lalu pergi.

Demikianlah pemberontakan Nya' Abbas Akup (almarhum) dalam filmnya yang
terakhir: Boneka dari Indiana. Sebuah film yang bertaburan sentilan halus pada
kehidupan sosial, tetapi juga lucu. Kali ini yang ditembak adalah kelas
pemburu duit dengan tokoh-tokoh yang karikatural. Sambil memamerkan Egi
sebagai simbol boneka Indonesia yang hanya pintar mengangguk-angguk.

Almarhum juga menampilkan tokoh-tokoh sampingan yang merupakan fenomena
sosial. Karikatur pelayan yang berontak dari kaidah umumnya pelayan. Ia tampil
genit dan pecicilan. Seakan berebut fokus dengan majikannya yang menjadi peran
utama. Muncul juga tokoh pegawai menengah (Eeng Saptohadi) yang suka
membohongi istri dan kencan dengan orang lain. Tapi satu saat KO karena
istrinya membalas telak: pulang larut dengan alasan persis sebagaimana yang
biasa diucapkan suaminya.

Nya' Abbas lewat film ini terasa meledak. Ia tak dapat lagi menahan diri
untuk tidak menyemburkan semuanya. Tetapi, sementara itu, humornya tak
kehilangan gigitan. Setiap ada peluang, tak henti-hentinya ia menampilkan
anekdot-anekdot kecil yang jeli. Tentang si konglomerat yang mengeluh terhadap
anak muda yang dianggapnya sudah tidak bermoral lagi, sementara di tangannya
tergeber majalah Playboy. Contoh yang khas almarhum: ketika Egi mencatat
pesan-pesan istrinya di telapak tangan. Setelah seabrek pesan, Egi
memperlihatkan catatan itu pada penonton: ternyata gambar kepala yang bagai
menyala-nyala. Kita langsung teringat film Mat Dower, ketika tokoh yang
dimainkan S. Bagio memperlihatkan peta yang sedang dibacanya: ternyata hanya
sobekan teka-teki silang.

Sejak Tiga Buronan, Mat Dower, Bing Slamet Koboi Cengeng, Inem Pelayan Seksi,
Rumah Susun, dan kini Boneka, Nya' Abbas teguh pada kubunya. Ia menampilkan
gagasan -- yang terpenting dalam sebuah film adalah gagasan. Ide. Masyarakat
adalah sumber dan sekaligus sasaran, karena itu filmnya jadi komunikatif.
Dikemas dengan anekdot-anekdot, kritik yang jeli dan tajam itu menjadi ramah.
Mampu mendarat baik pada masyarakat bawah maupun atas. Buat saya, ini hebat.
Karena biasanya, bila orang tak jelas memihak, risikonya bisa fatal. Ditolak
oleh seluruh lapisan masyarakat. Nyatanya, almarhum diterima.

Seperti yang diucapkan oleh K.H. Zainuddin M.Z., yang berceramah sebelum
acara preview Boneka ini, Ahad pekan lalu, Nya' Abbas Akup adalah seorang
penari yang lihai merespons suara gendang. Ia tahu situasi. Ia melenturkan
dialognya sehingga teradaptasi oleh situasi, tanpa bisa dicap sebagai
pelacuran. Almarhum adalah seorang pemberontak yang santun. Kritiknya keras
dan lantang tetapi penuh seloroh dan hangat.

Dalam Boneka, Nya' Abbas memperlihatkan betapa rakusnya manusia memburu uang.
Tak peduli limbah dapat merusakkan kehidupan (digambarkan dengan anak sekolah
dan bayi yang terpaksa pakai masker) asal bisa membuat lebih kaya. Lewat Egi,
Nya' Abbas memekikkan kebebasan. Cabut dari kehidupan mengangguk itu. Orang
harus berani mengambil risiko dan memilih jalan yang dibenarkan oleh hati
nuraninya. Almarhum mengakhiri filmnya dengan optimistis. Manusia yang gemar
mengangguk itu pada suatu saat akhirnya akan merdeka dan bebas. Masalahnya
hanya soal waktu.

Sayang sedikit, cerita sampingan yang sebenarnya justru menambah warna
gebrakan ini sempat mengganggu karena banyak pemain kurang terkontrol. Tokoh
pelayan, misalnya, bermain amat mentah. Memang ada pemain berkelas seperti
Didi Petet, Meriam Bellina, Lidya Kandouw, dan Eeng. Mereka sebenarnya sebuah
tim yang kuat. Tetapi almarhum ketika mengerjakan film ini agaknya begitu
memanjakan ide-idenya yang datang deras dan tak sempat memperhatikan
pertukangannya. Maklum, kondisi fisiknya tidak seprima ketika ia menghasilkan
Inem Pelayan Seksi.

Film ini tidak untuk dinilai, tetapi dinikmati sebagai peninggalan terakhir
almarhum. Sebagai sebuah dialog, ia utuh, lantang, memikat, dan amat khas Nya'
Abbas. Hal itu membuat kita merasa bertambah kehilangan lagi. Seorang pengamat
sosial yang mampu menyampaikan kritik dengan senyum tapi "membunuh" telah
tiada.

Putu Wijaya


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi - 23 Jul 2008 | 21:35 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data