Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXI/13 - 19 April 1991
   
Kesehatan

Bongkar pasang kaki

Tim kedokteran rs hasan sadikin dibantu para dokter rs. dr. soetomo surabaya akan melakukan operasi terhadap ahmad zaelani, 14 bulan, yang sejak lahir berkaki tiga. ia dalam perawatan.

SEJAK lahirnya, Ahmad Zaelani, 14 bulan, berkaki tiga. Tapi kaki kanannya
normal. Sedangkan yang kiri bercabang dua, mulai dari pangkal paha di bawah
pantat. Makanya, dia memiliki dua tulang kaki, yakni tulang betis (fibula) dan
tulang kering (tibia) yang tumbuh terpisah. Kalau pertumbuhannya normal, kedua
tulang tersebut menyatu membentuk kerangka tungkai bawah.

Tulang fibula yang bercabang ini (istilah kedokterannya panoxial fibula hemi
milia sinistra) mempunyai lima jari kaki, dan tulang tibia memiliki satu jari
kaki yang tumbuh ke arah bawah, seperti kaki normal. Tulang fibula yang tumbuh
beda itu harus disatukan dengan tulang tibia. Di samping itu, telapak kaki
dengan satu jari yang menyatu dengan tulang tibia bakal dipotong dan diganti
dengan lima jari kaki lainnya.

Untuk maksud "bongkar pasang" itu, sejak Januari silam, anak dari pasangan
Hanafi dan Adah dari Kampung Cibolang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat ini
sekarang dirawat intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Kesibukan meningkat dari tim ahli yang dipimpin Prof. dr. H. Azhali M.S. untuk
mengoperasi Ahmad. Tapi belum dipastikan kapan. "Itu tergantung kondisi
Ahmad," ujar Azhali kepada TEMPO. Diperkirakan akhir April atau awal Mei,
operasinya baru dilakukan.

Hambatannya adalah berat badan Ahmad yang masih di bawah berat ideal, yaitu
8,5 kg. Mestinya, untuk anak seusia dia, bobotnya sudah 9 kg. Selama ia
dirawat di RSHS, nafsu makannya kendur. Padahal, sejak di rumah, menurut
Hanafi, makannya banyak meskipun dengan ikan asin. Di RSHS, setiap makan
daging selalu dibuang. Mungkin itulah salah satu yang membuat badannya masih
di bawah berat ideal.

Ahmad juga menderita kekurangan darah. Mungkin karena infeksi pada
paru-parunya, atau kekurangan gizi. Tim dokter RSHS yang terdiri dari ahli
gizi, darah, jantung, hati dan paru-paru, sudah melakukan tes terhadap organ
tubuh Ahmad, seperti fungsi ginjal, jantung, dan paru-paru.

Untuk operasi besar itu -- diperkirakan memakan waktu 8 sampai 10 jam --
semua organ tubuh harus bekerja baik. Bisa saja operasinya berhasil, tapi
kemudian muncul kelainan pada salah satu organ tubuhnya. Ini bisa fatal.

Ketika Ahmad dioperasi nanti, tim kedokteran RSHS dibantu ahli bedah mikro
dan ahli anestesi dari RS dr. Soetomo Surabaya. Ini karena Bandung baru
pertama kalinya menangani kasus jenis itu. "Mereka sudah berpengalaman
menangani berbagai kasus bedah tulang," tutur Azhali.

Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSHS dan FK Universitas Padjadjaran
tersebut memperkirakan hambatan lain yang dihadapi, seperti tentang pembuluh
darah pada kaki ketiga sama besarnya atau tidak dengan pembuluh kaki kedua.
Nanti, keduanya akan disambungkan. Setelah diteliti melalui arteriografi,
kedua pembuluh darah tadi memang sama. Tapi secara pasti itu baru tampak di
saat Ahmad dioperasi.

Risiko lain yang utama kemungkinan adanya pendarahan, infeksi, dan kelumpuhan
yang terjadi di meja operasi. Sedangkan jangka waktu pembiusan yang mencapai
sekitar 10 jam merupakan risiko umum. Usai dioperasi, bisa saja si pasien
tidak bangun lagi.

Menurut Azhali, operasi bedah dengan cara mempersatukan tulang fibula dan
tibia bukan gampang. Sebab, kedua betis ter- sebut memiliki puluhan pembuluh
darah, yang masing-masing fungsinya berbeda. Selain itu, penyambungan tulang
tidak boleh menghambat pertumbuhannya. Maka, perlu ketelitian. Sebab,
sambungan yang tak normal membuat tulang dan daging pasien busuk. "Akibatnya
bisa menimbulkan kematian," katanya.

Dalam operasi ini, ada dua tim bekerja dalam waktu bersamaan. Tim pertama
bertugas memotong kaki ketiga dan tim kedua membuka kaki kedua, yang secara
singkat kedua kaki itu bisa disambung. Bila rencana ini berhasil, selanjutnya
menghambat pertumbuhan kaki kanan (yang normal), sehingga kaki kiri dan kanan
nanti tumbuh sama tinggi.

Seandainya anak ini tak dioperasi? "Pengaruhnya hanya secara psikis, karena
ia bakal jadi tontonan," ucap Azhali. Dilihat dari kondisi tubuhnya,
pertumbuhan Ahmad tampak normal seperti bocah seumurnya. Berdirinya cepat, dan
ia bisa berloncat-loncat mengelilingi boksnya. Mungkin, kalau kakinya normal,
Ahmad sudah bisa jalan. Juga, ia sudah belajar bicara, misalnya memanggil
"Bapak".

Selama ini, kaki ketiga itu memang tumbuh membesar, tetapi tak berfungsi.
Bahkan Ahmad susah dipakaikan celana. Kalau kaki ketiga cuma dibuang atau
dipotong, tanpa dipindah (disambung) ke kaki kedua, itu bisa mengganggu
kegiatannya sehari-hari.

Perihal tulang tibia dan kaki yang berjari itu, dipertanyakan oleh Azhali,
apakah mampu mendukung berat badan Ahmad. Apalagi antara kaki yang normal dan
kaki kirinya tak seimbang. Kaki kanannya lebih panjang 2 cm dibandingkan
dengan kaki yang kiri.

Memang, kasus yang dialami Ahmad itu jarang terjadi, sehingga Azhali belum
bisa memastikan sebabnya, apakah karena pengaruh genetik. Seperti seorang ibu
hamil minum obat X, indikasinya akan keluar anak tiga kaki. Padahal, ibu lain
minum obat yang sama, tapi kaki anaknya tidak tiga. Justru faktornya itu masih
banyak, maka penyebabnya belum diketahui. "Jadi, saya belum bisa memastikan
faktor apa yang menentukan," tutur Azhali.

Lazimnya, proses kelainan terjadi ketika kehamilan ibu berusia tiga bulan.
Ini disebut masa indifferent, sewaktu berlangsung proses pembentukan organ
tubuh, termasuk pembentukan kelamin. Biasanya, di masa inilah terjadi gangguan
-- entah pengaruh obat-obatan, aktivitas fisik di luar batas, atau stres.
Boleh dikatakan, masa tiga bulan kehamilan adalah masa sangat rawan.

Kelainan bisa juga karena keturunan. Hal itu diperkuat dengan kejadian yang
menimpa keluarga Ahmad Zaelani. Anak pertama buruh tani ini meninggal pada
usia enam bulan, sedangkan anak keduanya meninggal seminggu setelah lahir.
Keduanya diserang penyakit panas dan tak sempat ditolong.

Sementara itu, pada usia janin Ahmad enam bulan di kandungan bundanya, Adah
bermimpi akan melahirkan anak berkaki tiga. Jadi, saya tidak kaget begitu
melihat anak saya punya tiga kaki," ujar Adah. Lagi pula, pasangan Hanafi dan
Adah pasrah dengan kejadian yang menimpa anaknya itu. "Setelah dioperasi, yang
penting Ahmad selamat dan sehat," tambah Adah lagi.

Rudi Novrianto dan Ida Farida


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi - 23 Jul 2008 | 21:35 WIB
Industri Mulai Geser Hari Kerja - 23 Jul 2008 | 21:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data