Saut dan baju koyaknya Serikat buruh merdeka (sbm) ricuh. sekjen sbm saut aritonang dituduh sebagai
intel yang disusupkan ke sbm oleh indro tjahjono yang sebelumnya dipecat saut.
h.c.princen mengundurkan diri. |
SERIKAT Buruh Merdeka Setia Kawan (SBM-SK) gonjang-ganjing setelah
demonstrasi buruh di sejumlah perusahaan, termasuk Gajah Tunggal, reda.
Organisasi buruh di luar SPSI dan tak diakui pemerintah, yang konon punya
andil di balik ribut-ribut buruh belakangan ini, "retak" di dalam.
Mulanya, per 1 Agustus lalu, serombongan pengurus, di antaranya Indro
Tjahjono dari Skephi, mengundurkan diri. Sebelumnya, orang-orang ini memang
diskors oleh Sekjen SBM Saut Aritonang karena berbagai kesalahan. "Indro,
misalnya, karena menjelekjelekkan SBM," kata Saut.
Namun, pada 4 September 1991, orang-orang yang sudah mundur itu berapat.
Keputusannya adalah memberhentikan Saut Aritonang sebagai Sekjen SBM dan
menggantinya dengan Indro Tjahjono. Susahnya, rapat ini juga dihadiri dan
direstui oleh Presiden SBM H.J.C. Princen. Adalah Princen juga yang meneken
surat skorsing untuk Saut Aritonang. Kabarnya, Princen diintimidasi orang
tertentu yang bahkan menodongnya dengan pisau belati. Namun pada TEMPO,
Princen membantah. "Saya tidak terintimidasi," teriak Princen keras-keras.
Anehnya, ketika tiga hari kemudian ganti Saut Aritnang yang mengundang
Princen rapat, keputusan 4 September itu diralat. Saut tak jadi diberhentikan
sebagai sekjen. Dan sebaliknya, ditegaskan bahwa pernyataan pengunduran diri
Indro Tjahjono dan kawan-kawan dianggap masih berlaku. Ada yang menduga, itu
hanyalah trick Princen agar kedua pihak yang bersengketa bisa bertemu lagi.
Namun, agaknya, justru karena sikapnya yang dianggap plin-plan, perpecahan
makin runyam.
Buktinya, pada 11 September 1991, kelompok Indro Tjahjono berhasil lagi
"merangkul" Princen. Kali ini langkah kelompok Indro lebih jauh. Indro yang
sudah aktif di SBM sejak kongres SBM akhir tahun lalu ini kemudian membekukan
kepengurusan SBM. Princen mengeluarkan surat bahwa kepengurusan SBM dinyatakan
demisioner sampai dilakukan kongres luar biasa. Sebagai gantinya, dibentuk
panitia ad-hoc. Duduk sebagai Ketua I Panitia Ad-Hoc, jabatan tertinggi,
adalah Indro Tjahjono. Saut Aritonang tergusur lagi. Dan jangan kaget, yang
menandatangani pembentukan panitia adhoc itu juga Princen -- duduk sebagai
penasihat panitia.
Persoalan kian runyam. Seminggu kemudian, ganti Princen yang mengundurkan
diri dari SBM. Namun, lagi-lagi ada keputusan Princen yang membingungkan: pada
19 September ia menyatakan mundur bersama Saut karena ada tekanan
"psikologis". Artinya, Princen kembali berdiri di sisi Saut Aritonang. Ada apa
dengan Princen? "Situasi mengharuskan saya melakukan manuver itu. Saya harus
melakukannya meskipun harus kehilangan muka," ujar Princen. Kini, ia giat
kasak-kusuk untuk mendudukkan Saut dalam panitia ad-hoc. Karena, katanya, ia
orang yang dipercaya buruh. Saya tak mau Saut keluar dari SBM."
Yang penting, kata Princen, sekarang ini urusannya adalah memperbaiki baju
Saut yang dinilainya koyak. Artinya, bagaimana Saut bisa merebut kepercayaan
"musuh-musuh"-nya di SBM.
Tapi, apa ujung-pangkal soal konflik Saut dan kelompok Indro Tjahjono? Tak
ada yang jelas. Indro menuduh Saut adalah intel yang disusupkan ke SBM. Saut
juga dituduh tak melakukan manajemen terbuka, terutama soal uang. "Sekretariat
SBM itu ada di dalam tasnya Saut," ujar Indro menyindir. Tuduhan paling serius
pada Saut adalah: penculikan atas diri Saut di kawasan Kuningan, Jakarta
Selatan, Juni lalu, tak lain hanya "karangan" Saut saja. "Itulah bentuk kerja
sama Saut dengan intel," kata Indro lagi. Benarkah ia hanya bersandiwara
pura-pura "diculik"? "Wah, tak tahulah aku harus bagaimana lagi bicara," kata
Saut. Lalu, kapan huru-hara di SBM ini usai? Rupanya, harus menunggu kongres
luar biasa SBM, yang rencananya diselenggarakan akhir November mendatang.
|