Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. //14 - 20 Desember 1991
   
Nasional

Perjalanan seorang pemuda

Kamal ahmed bamadhaj,20 mahasiswa universitas new south wales, australia, tewas dalam peristiwa 12 november di dili, ada tuduhan ia terlibat dalam merencanakan aksi tersebut.

Kamal Ahmed Bamadhaj baru berusia 20 tahun Desember ini, tapi takdir
menentukan ia tewas di Timor Timur.

SEJAUH ini, Kamal adalah satu-satunya warga asing yang diketahui tewas dalam
peristiwa 12 November di Dili. Ia berada di tempat demonstrasi ketika akhirnya
unjuk rasa itu berubah menjadi kerusuhan yang memakan korban.

Tentu saja pertanyaan yang muncul adalah apa yang dilakukan Bamadhaj di
tempat yang rawan itu. Ada tuduhan bahwa ia terlibat dalam merencanakan aksi
itu.

Pemuda yang ibunya asal Selandia Baru (kemudian jadi warga negara Malaysia)
ini ternyata tak asing dengan Indonesia. Ia adalah mahasiswa Jurusan Sejarah
dan Politik Indonesia dan Asia di Universitas New South Wales, Australia.
Selain itu, ia mewarisi darah Indonesia dari ayah kandungnya, Ahmed Bamadhaj,
warga negara Singapura yang berdarah campuran Arab-Bugis.

la ternyata amat tertarik pada Timor Timur. Kamal sudah sejak 1989 berkenalan
dengan Tim-Tim. Ketika itu ia pergi lewat Kupang. Ia mengulangi kunjungannya
pada 1990, selama dua minggu. Terakhir, ia berjumpa dengan ibunya 18 Oktober
lalu di Bandara Sydney. "Ia sangat gembira memberi tahu saya, ia akan pergi ke
Tim-Tim," cerita ibunya, Ny. Helen Todd, kepada TEMPO.

Bamadhaj memang sangat dekat dengan ibunya. Ia memilih tinggal dengan Ny.
Todd dan menjadi warga negara Selandia Baru ketika orangtuanya bercerai.

Kematiannya yang mendadak otomatis menyulut rasa penasaran Ny. Todd, bekas
wartawati koran terbitan Malaysia, The New Straits Times. Segera setelah
mendapat kabar bahwa putranya menjadi korban, ia pun terbang ke Jakarta untuk
mencari tahu. Bahkan, berbekal surat dari Menko Polkam Sudomo, Ny. Todd sudah
berniat pergi ke Dili. Namun, sampai di bandara, ia dicegat petugas. "Saya
dicegah pergi ke Dili karena jenazah Kamal sudah diterbangkan ke Jakarta,"
cerita Ny. Todd.

Di Jakarta ia mendengar putranya banyak dikaitkan dengan Fretilin, bahkan
disebut-sebut punya hubungan dengan Xanana Gusmao, pemimpin Fretilin yang jadi
buron aparat keamanan. Tuduhan ini segera dibantah Ny. Todd. Menurut dia,
Bamadhaj yang baru 20 tahun tak mungkin dekat dengan para pentolan itu. Lagi
pula, "Ia selalu bercerita tentang soal apa pun pada saya. Jadi, itu tidak
benar," kata Ny. Todd yang kini menetap di Penang, Malaysia, bersama suaminya
yang baru, Profesor David Gibbons, pengajar di salah satu universitas di sana.

Sebagian cerita ini telah diungkapkan oleh Ny. Todd dalam tulisannya di
harian The Asian Wall Street Journal, dua pekan lalu. Dari situ memang
terlihat bahwa Bamadhaj tahu banyak tentang berbagai gerakan anti-integrasi di
Tim-Tim. Dalam catatan hariannya yang bertanggal 3 November tertulis begini: "
... Suasana tegang, para pemuda sedang menyiapkan penyambutan untuk delegasi
parlemen Portugal. Mereka, baik di Dili maupun di kota lain, secara rahasia
menyiapkan poster-poster prokemerdekaan dan merancang demonstrasi. Dan,
seperti mereka katakan pada saya, mereka siap mati untuk rakyat Tim-Tim
seandainya Indonesia menghentikan mereka...."

Menurut sang ibu, Bamadhaj adalah anak muda yang energetik, dan tampaknya
sedang gandrung pada hal-hal yang dianggapnya heroik. Rambutnya yang merah,
panjangnya sebahu dan dibiarkan tergerai, sering hanya ditutupi dengan topi.
Gaya hidupnya pun seadanya. Ia adalah seorang vegetarian. Darah muda yang
menggelegak ini membawa Bamadhaj bersimpati pada gerakan antiintegrasi
ini.

Sebelum berangkat ke Dili untuk terakhir kali, ia sempat tiga minggu
mondar-mandir Bandung-Jakarta. Di sini ia bertemu dengan kenalan-kenalannya
sesama aktivis LSM. Dilihat sepintas, Bamadhaj kelihatan tidak acuh. Ia juga
tak bersemangat jika diajak berdiskusi tentang agama atau soal lain. Ayah
kandungnya Islam, sedang Bamadhaj mengikuti ibunya sebagai penganut Katolik.
Namun, sekali diajak bicara tentang politik, apalagi soal Timor Timur, ia
sangat bersemangat. Bahkan, menurut sebuah sumber, berkali-kali Bamadhaj
merayu para aktivis di sini agar ikut berdemonstrasi anti-integrasi. Ia juga
membawa puluhan buletin East Timor dan segepok brosur, entah ia peroleh dari
mana.

Kepada kawan-kawannya sesama aktivis di Bandung ia mengutarakan pandangannya,
" ... Pemuda Tim-Tim, ketika integrasi belum terjadi kan sudah merencanakan
kemerdekaan TimTim dari Portugal. Tiba-tiba rencana ini digagalkan karena
masuknya Indonesia. Jadi wajar kalau sekarang ada gerakan yang marah terhadap
Indonesia." Namun, ia dengan tegas menyatakan bukan Fretilin. "Saya hanya tak
suka dengan cara Indonesia masuk ke Tim-Tim," tuturnya.

Bamadhaj bekerja dengan sukarela di Tim-Tim. Menurut cerita Ny. Todd,
Bamadhaj sering memasarkan kain-kain tenun tradisional Tim-Tim ke Australia
lewat organisasi mahasiswanya, New South Wales Overseas Student College
(Nosca). Selain itu, ia berencana menjadi penerjemah gratis bagi wartawan
asing yang bakal menyertai kedatangan delegasi parlemen Portugal. Ia amat
fasih berbahasa Indonesia.

Seperti diketahui, delegasi ini akhirnya batal datang. Bantuan cuma-cuma
sebagai penerjemah ini akhirnya ditawarkan kepada Robert Howard Muntz, anggota
Community Aid Abroad (CAA), lembaga swadaya masyarakat dari Australia.

Sampai pada pagi hari 12 November itu, Munzt dan Bamadhaj tampak berdua.
Mereka sudah tahu akan ada misa di gereja dan upacara tabur bunga di Pemakaman
Santa Cruz. Itu sebabnya, pada pukul lima pagi mereka sudah berjalan kaki dari
hotel ke Gereja Motael. Di gereja, Muntz sibuk memotret para demonstran.
Berikutnya, mereka membuntuti aksi unjuk rasa itu sampai di Pemakaman Santa
Cruz. Petualangan bersama Bob Muntz inilah yang menjadi perjalanan terakhir
Bamadhaj.

Dalam kerusuhan itu Kamal rupanya ditabrak peluru. Dia tergeletak 500 meter
dari pusat kerusuhan, lengan dan dada kanannya terluka parah, banyak
mengeluarkan darah. Ada orang yang berusaha membawanya ke rumah sakit, tapi
terlambat karena suasana masih serba kacau. Jalan-jalan diblokir tentara. Ia
baru bisa dibawa ke rumah sakit di Dili 20 menit kemudian. "Seperti dinyatakan
visum dokter, anak saya meninggal karena kehabisan darah," kata Nyonya Todd.

Ekram H. Attamimi (Kuala Lumpur, Ahmad Taufik & Riza Sofiat (Bandung), YH


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008

 

Berita lainnya

Guru Warga Amerika Ditemukan Membusuk di Hotel - 19 Jul 2008 | 17:49 WIB
Pengibaran Bendera Bintang Kejora Tak Terkait Sentimen Agama - 19 Jul 2008 | 16:34 WIB
Pengibar Bendera Bintang Kejora Dikenai Tuduhan Makar - 19 Jul 2008 | 16:27 WIB
41 Pengibar Bendera Bintang Kejora Ditangkap - 19 Jul 2008 | 16:20 WIB
Polres Pasuruan Dirikan Posko Pengaduan Pemilu - 19 Jul 2008 | 16:03 WIB
PMI Kabupaten Malang Kahabisan Kantong Darah - 19 Jul 2008 | 16:00 WIB
Makam Sumiarsih dan Sugeng Masih Terus Dikunjungi - 19 Jul 2008 | 15:58 WIB
33 Pengunjung Hiburan Malam Diperiksa - 19 Jul 2008 | 15:30 WIB
Penertiban Boker Batal - 19 Jul 2008 | 12:42 WIB
Kesatria Turun Pamor - 19 Jul 2008 | 11:12 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data