Penelitian dari makam ke makam Kpn kembali ke jakarta. sempat membongkar kuburankuburan yang disebutkan
saksi mata. melakukan rekonstruksi insiden dengan 2 versi. batalyon 303, yon
141, dan yon 401 ditarik dari tim-tim. |
KPN kembali ke Jakarta setelah melakukan dua versi rekonstruksi insiden. Yon
303 pulang, dan juga Yon 141 dan 401. DELAPAN belas makam di Pekuburan Hera,
sebelas kilometer dari Dili, terlihat kering dan sepi. Tak ada taburan bunga
seperti umumnya makam di Tim-Tim yang lain. Juga tak ada batu nisan, tempat
sanak keluarga menorehkan nama almarhum. Makam-makam tanpa nama ini adalah
tempat peristirahatan terakhir para korban insiden Santa Cruz, 12 November
lalu. Satu makam lainnya, tempat Kamal Ahmed Bamadhaj, 20 tahun, dikubur,
sudah kosong. Mayat aktivis LSM asal Selandia Baru yang merupakar satu-
satunya korban asing itu sudah diterbangkan ke Malaysia. Tapi, benarkah korban
insiden Santa Cruz cuma 19 orang? Benarkah ada makam lain selain di Hera
seperti isu-isu yang beredar keras di Dili?
Dua hari sebelum bertolak ke Jakarta, Sabtu lalu, Komisi Penyelidik Nasional
(KPN) akhirnya membuat keputusan penting: membongkar kuburan Hera. Ini sebuah
makam yang dipilih pihak ABRI untuk mengebumikan 19 orang korban Santa Cruz.
Empat anggota KPN dipimpin Djaelani sendiri kemudian memilih satu dari 18
makam tadi. Tiga anggota ABRI dengan sigap menggali kuburan yang baru berusia
sebulan itu. Peti mati dibuka, tampak sesosok mayat yang mulai membusuk.
Penggalian terus dilakukan di bagian bawah peti, untuk mengecek benarkah ada
timbunan mayat dalam satu lubang kubur. Hasilnya, nihil. Dan memang cuma
sebuah kubur itulah yang dibongkar KPNdan sempat disaksikan sejumlah
wartawan.
Sebelum berangkat ke Hera, KPN memang mendapat sejumlah laporan dari para
saksi mata soal kemungkinan adanya kuburan "masal" yang lain. Lokasi yang
banyak disebut adalah Hera, Tasitolu, Tibar, dan Pasirputih di Dili.
Barangkali saking penasarannya, KPN sampai mendatangkan traktor dan menggali
sebuah lokasi di Heradi luar 18 kuburan tadi. Tak ada hasil.
Dari Hera, hari itu juga KPN memutuskan untuk menggali lokasi Pasirputih di
pinggir Dili. Juga tanpa perolehan. Jumat dan Sabtu lalu giliran Tasitolu,
sembilan kilometer dari Dili, dan Tibar, 12 kilometer, digali oleh sekitar 20
orang petugas. Toh tak secuil pun bukti adanya timbunan mayat "ditanam" bisa
ditemukan.
"Kalau saja kami bisa menemukannya ...," kata seorang anggota KPN, setelah
penggalian tanpa hasil. Entah apa maksudnya. Konon, adalah sebuah perkiraan:
insiden Santa Cruz menelan korban 130 orang cedera dan tewas. Yang jelas
tewas cuma 19 orang, sedangkan yang masih dalam perawatan rumah sakit, atau
tercatat namanya di Palang Merah Internasional, atau masih dalam tahanan
Polwil Dili seluruhnya berjumlah 95 orang. Data versi ini memang masih
menyisakan 16 orang yang belum ketahuan "dirawat" di mana. Soal kebenaran
angka-angka ini, walahualam.
Yang pasti, KPN memang mengumpulkan angka-angka tadi dari keterangan berbagai
pihak, tak hanya dari pihak ABRI. Bahkan, saksi yang ditemui KPN di luar
wilayah Polwil Dili atau rumah sakit militer, konon, tak dilaporkan ke pihak
ABRI. Misalnya, KPN akhirnya menemui lima saksi mata yang melaporkan kejadian
Santa Cruz pada Uskup Dili Carlos Ximenes Belo. Dalam perjumpaan dengan
Uskup Belo, beberapa hari setelah KPN mendarat di Dili 28 November lalu, Uskup
Belo kabarnya masih merahasiakan nama-nama ini. Alasannya, KPN harus memberi
jaminan lebih dulu agar nama-nama yang disebutnya tak ditangkap setelah
memberikan kesaksian. Alhasil, selama 17 hari berada di Tim-Tim, sekitar 140
saksi sudah ditemui. Tapi, menurut Ketua Djaelani, mereka merasa sudah mentok
(lihat Rasanya Sudah Mentok). "Kesulitan kami, mereka semua takut bicara,"
kata sebuah sumber di KPN. Penduduk mau bicara, tapi ketika sudah menyangkut
insiden 12 November, mereka berkelit.
Namun, dari keterangan para saksi inilah KPN membuat rekonstruksi insiden
Santa Cruz, Sabtu subuh lalu. Sebelumnya, Selasa lalu, rekonstruksi
berdasarkan cerita pihak ABRI sudah pula dilakukan di tempat insiden yang
terkenal itu. Sedangkan yang kedua, "Memasukkan lebih banyak informasi dari
para saksi mata," ujar sebuah sumber di KPN.
Maka, seperti disaksikan wartawan TEMPO, rekonstruksi dipimpin oleh komandan
kompi gabungan Letnan Dua Moesanip. Perwira dari Kodim Dili inilah yang
memimpin kompi yang terdiri dari dua peleton Yonif 303 dan satu peleton Brimob
dalam pengamanan demo Santa Cruz. Tampak, kompi Moesanip ini mengikuti massa
sampai persimpangan jalan di dekat pintu makam Santa Cruz. Di mulut jalan,
lebih jauh dari pintu makam, berjaga-jaga satu peleton Brimob dalam sebuah
truk. Yang turun berjaga di jalan sekitar sepuluh orang tanpa senjata. Di
depan pintu makam Santa Cruz, sudah ada Yonif 744 yang datang bersamaan
dengan kompi gabungan. Beda dengan rekonstruksi pertama (versi ABRI), yang
menunjukkan bahwa Yon 744 datang setelah insiden.
Menurut sumber di KPN, jumlah lubang peluru di dinding luar Santa Cruz 63
buah. Di pintu besi, juga ditemukan bekas-bekas pelor. Tembakan pertama pecah
pukul 07.40, ketika massa mendesak dan anggota ABRI ada yang jatuh.
"Kemungkinan ada usaha merebut senjata," kata seorang anggota KPN. Barangkali,
saat anggota ABRI terjatuh inilah massa makin tak terkendali dan boleh jadi
ada pula granat yang sempat dilempar. Rentetan tembakan pertama berlangsung
sekitar dua menit, kata beberapa sumber. Massa cerai-berai. Sebagian besar
lari ke kapel di dalam Santa Cruz. Ada yang lari ke arah ABRI. Dalam
rekonstruksi, massa kemudian digiring ke dalam makam. Lalu, adegan berikut:
diperlihatkan bagaimana para demonstran dan korban disusun dan
dipisah-pisahkan di jalan depan makam. Ada yang dilepaskan, ada yang diangkut
ke rumah sakit, ada yang luka dimasukkan ke kapel. Truk pengangkut mayat tak
jelas yang mana. Seluruh kejadian Santa Cruz ditaksir berakhir pukul 11.00.
Syahdan, ada cerita tentang Batalyon 303 saat pecah insiden. Pada pukul
06.40, satu jam sebelum pecah letusan senapan M-16 pertama, kompi C Batalyon
303 tengah berlatih kesegaran fisik dengan lari pagi di Bairosekitar tiga
kilometer dari Santa Cruz. Tempat latihan ini kebetulan juga adalah base camp
Brimob dari Yon 744. Tiba-tiba, ada instruksi agar Yon 303 konsentrasi di
depan makam Santa Cruz. Sementara itu, anggota Yon 303 yang ditempatkan di
Tibar, 12 kilometer dari Dili, tiba setelah insiden berlalu sekitar lima
belas menit.
Batalyon ini sudah delapan bulan bertugas di sektor B TimTim, yakni daerah
Ainaro dan sekitarnya. Prestasinya antara lain mampu menangkap gembong
Fretilin Maukalo di hutan kawasan Same, Juni lalu (lihat Sosok Seorang (Bekas)
Fretilin). Kamis lalu, semua anggota Batalyon 303 ditarik dari Tim-Tim dan
berlayar dengan KRI Teluk Langsa 501 ke markasnya di Cikajang, Garut, Jawa
Barat. Sebelumnya, Panglima Rudolf Samuel Warouw menaikkan pangkat Prajurit
Satu Abu dan Kopral Dua Dahlan yang telah berhasil menangkap Maukalo. Dua
batalyon, 141 di Los Palos dan 401 di Viqueque, juga usai masa tugasnya dan
dilepas Panglima Warouw, Jumat pekan lalu.
Yang juga pulang dari Dili adalah KPN. Sabtu sore, pukul 19.40, tim KPN
didampingi Warouw, mendarat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Di sana sudah
menunggu Panglima Kodam Udayana Mayjen Sintong Panjaitan. Mereka bertemu lebih
dari satu jam. Ketika rombongan KPN terbang ke Jakarta, Warouw tidak ikut.
Konon, ada "sesuatu" yang penting harus dibicarakan dengan bosnya itu.
Di Dili, menjelang Natal ini, rupanya ada tamu penting dari Vatikan. Dialah
Mgr. Giovani Ariesta, yang selain sudah bicara panjang dengan Uskup Belo, juga
bertemu dengan Gubernur Mario Viegas Carrascalao. Pada Gubernur, Mgr. Giovani
mengatakan bahwa pihak Vatikan selalu mengikuti perkembangan Tim-Tim.
Suhu di Dili berangsur surut. Untuk pulih, kata Carrascalao, diperlukan
setahun atau dua tahun. Tinggallah kini menunggu hasil KPN dan keputusan
Presiden.
Toriq Hadad (Jakarta), Sandra Hamid dan Ruba'i Kadir (Dili)
|