Rasanya sudah mentok Wawancara tempo dengan m.djaelani,60, di dili, tentang jadwal kepulangan kpn
ke jakarta, hasil kerja kpn serta rekonstruksi di santa cruz dan pembongkaran
kuburan. |
HAKIM Agung Mayor Jenderal (Purn.) M. Djaelani, 60 tahun, hampir tak pernah
berhenti membongkar kejadian Santa Cruz, sejak mendarat di Dili pada 28
November lalu. Barangkali sudah lebih dari 140 orang diwawancarai, sudah
puluhan tempat dikunjungi, dan beberapa tempat yang disangka kuburan
kemudian dibongkar. Rekonstruksi insiden di Santa Cruz pun sampai dua kali
dilakukan oleh KPN. Walhasil, Ketua Komisi Penyelidik Nasional ini, dan enam
anggota timnya, memang benar-benar all out sampai saat akhir meninggalkan
Dili, Sabtu siang lalu, untuk melaporkan hasil kerjanya ke Presiden
Soeharto, yang pulang ke Tanah Air tiga hari lebih cepat dari jadwal
kunjungannya ke Amerika Latin dan Afrika.
Sehari sebelum bertolak ke Jakarta, Djaelani, orang Solo yang pernah menerima
Bintang Gerilya ini, menerima Sandra Hamid dari TEMPO, di kamarnya nomor 202
di Hotel Mahkota. Berikut petikan wawancara itu:
Presiden Soeharto pulang ke Tanah Air lebih cepat dari jadwal. Apakah ini
mempengaruhi jadwal kepulangan KPN ke Jakarta?
Bukan mempengaruhi, tapi kami mempertimbangkan.
Sudah tuntaskah pekerjaan KPN?
Relatif sekali pengertian tuntas itu. KPN saat ini sulit mendapat data yang
lebih dari yang kami miliki sekarang. Sampai detik ini, rasanya sudah sampai
batasnya. Sudah tak bisa lagi ditambah. Sudah mentok. Misalnya saja soal
banyaknya korban yang katanya lebih banyak dari yang diungkapkan Pemerintah.
Keras, suara adanya korban yang lebih dari angka Pemerintah itu. KPN sudah
berusaha mencari bukti bahwa memang lebih dari itu. Tapi sampai sekarang tak
ada bukti.
Apa yang akan dilakukan di Jakarta?
Semua akan dilaporkan pada Presiden. Bila kemudian dipandang perlu kami akan
kembali ke Dili.
Pembongkaran kuburan akhirnya dilakukan KPN. Apakah karena KPN meragukan
angka korban yang 19 orang?
Kami ingin melihat apakah yang dikebumikan itu sesuai dengan agamanya.
Nyatanya, mereka memakai baju, sesuai dengan agama mereka. Kami juga
membongkar karena ada laporan yang mengatakan mungkin di bawah peti mati itu
ada mayat-mayat lain. Ternyata, tidak ada.
Lalu, soal jumlah korban. Apakah KPN meragukan angka 19 orang?
Bukan begitu. Kami memperhatikan suara-suara rakyat. Ada yang melaporkan
adanya kuburan di Hera, Pasirputih, Tasitolu, juga di Tibar. Ternyata tak ada.
(Kecuali kuburan yang sudah dibongkar KPN di HeraRed.)
Tapi, mengapa KPN sampai perlu tiga kali bertandang ke kuburan Hera?
Karena paling logis di sana.
Mengapa pembongkaran kuburan baru dilakukan pada hari-hari terakhir KPN di
Dili?
Kami sudah merencanakan sejak pertama, tapi kami harus konsentrasi ke lain
hal dulu. Setelah semua selesai, kami lebih mampu konsentrasi.
Bagaimana dengan rekonstruksi di Santa Cruz?
Hari pertama rekonstruksi itu hanya dengan komandan-komandan (ABRI). Tak
semua yang bertugas (ketika kejadian) ada di situ.
Apakah rekonstruksi ini menurut kejadian yang dilaporkan ABRI?
Ya.
Apakah KPN juga akan melaporkan kepada Presiden keterangan saksi-saksi mata
yang menduga korban Santa Cruz lebih dari 19 orang?
Akan kami laporkan semuanya. Apa adanya.
|