Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXI/18 - 24 Januari 1992
   
Agama

Sejarah berubahnya kiblat

Imam besar masjidil aqsa, syekh ikrima sabri menjelaskan berdirinya kembali masjidil aqsa.

UNTUK pertama kali dalam sejarah, seorang imam besar Masjidil Aqsa, Yerusalem,
berkunjung ke Indonesia. Syekh Ikrima Sabri, pemimpin Islam di Yerusalem itu,
direncanakan pekan ini akan memberikan beberapa kali ceramah, di Yogyakarta
dalam pekan persahabatan Indonesia-Palestina, dan kemudian di Jakarta, di
beberapa kalangan.

Mungkin nama besar Syekh Sabri kurang bergema di sini. Namun, bersamanya adalah
sejarah Islam yang penting: Masjidil Aqsa. "Mahasuci Allah yang telah
memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al
Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya . . . ." (Surat Al Isra'
Ayat 1).

Di Masjidil Aqsa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya" itulah pernah terjadi dua
peristiwa besar yang berkaitan dengan penyempurnaan ajaran Islam: Israk dan
Mikraj. Salat lima waktu mulai disyariatkan di sini.

Lalu yang kedua, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama bagi umat Islam. Itu terjadi
pada awal ketika Nabi dan umat Islam berada di Madinah. Ini agak aneh, sebab
menurut sejarahnya Masjidil Haram di Mekah lebih tua umurnya daripada
Masjidil Aqsa. Mengapa justru kiblat pertama di Masjidil Aqsa?

Menurut Dr. Quraish Shihab, ahli tafsir Quran, Allah tidak pernah memerintahkan
agar Nabi berkiblat ke Masjidil Aqsa. Yang terang, di awal sejarah Islam
beberapa hal tak langsung diputuskan. Larangan-larangan, misalnya, turun
bertahap. Tampaknya, selain untuk menarik orang masuk Islam, juga agar tak
terjadi gejolak sosial yang bisa merugikan Islam. Soal perbudakan misalnya,
tak langsung dilarang, tetapi tahap demi tahap. Dianjurkan para tuan
menikahi budaknya. Dan kemudian baru turun ayat yang maknanya melarang
perbudakan di muka bumi ini.

Dalam hal Masjidil Aqsa, menurut Quraish Shihab, faktornya adalah kaum Yahudi yang
tinggal di Madinah. Kaum itu berkiblat ke Masjidil Aqsa. "Mungkin, dalam
rangka pendekatan terhadap Yahudi itu, dan juga untuk menunjukkan bahwa
sumber ajaran itu sama, maka Nabi juga menghadap ke Masjidil Aqsa," kata
Quraish.

Namun, sebagaimana tercatat dalam sejarah, setelah 17 bulan Nabi di Madinah,
ternyata, orang-orang Yahudi masih enggan masuk Islam. Maka, turunlah Surat
Al Baqarah Ayat 142 yang menentukan arah kiblat ke Masjidil Haram.

Peralihan kiblat itu, menurut tafsiran Quraish Shihab, Tuhan ingin mengajak umat
mengakui jasa-jasa pendahulunya, dalam hal ini Nabi Ibrahim, yang disebut
bapak semua Nabi.

Yang jelas, ketika itu orang-orang Yahudi masih ingin mengganggu Nabi. Mereka
mengatakan, kalau kiblat dikembalikan ke Masjidil Aqsa, mereka bersedia
masuk Islam. Tapi Nabi tahu tipu-muslihat itu. Sebab bagi Tuhan, arah kiblat,
timur dan barat, itu sama saja. Allah tak di mana dan ada di mana-mana.
"Adalah kepunyaan Allahlah timur dan barat . . . ." Dengan bekal Surat
Al Baqarah Ayat 142 itulah Nabi menangkis provokasi orang-orang Yahudi.

Tapi tak lalu Masjidil Aqsa menjadi kurang penting. Nama itu tetap melekat pada
Israk dan Mikraj. Dan bila tempat itu bisa dilestarikan setelah dihancurkan
peperangan yang banyak terjadi di situ, adalah jasa Umar Bin Khatab. Dialah
pemimpin Islam tertinggi yang pertama menemukan tempat mikraj Nabi itu. Itu
terjadi setelah Jerusalem jatuh ke tangan umat Islam pada 638 Masehi. Umar,
yang terkenal dengan kearifan dan keadilannya, diminta oleh penduduk Yerusalem
yang baru saja ditinggalkan pasukan Bizantium, untuk menerima langsung kunci
kota.

Kesempatan itu digunakan oleh Umar mencari lokasi bekas Masjidil Aqsa. Ia
minta pada Patrik Sophronius, pemimpin Yerusalem, menunjukkan lokasinya.
Sophronius mengajak Umar ke Gereja Al Kiayamah, yang dianggapnya tempat Haykal
Sulaiman pernah berdiri. Umar tak yakin. Kemudian diajaknya Sophronius ke
Gereja Shahyun. Masih tetap Umar belum yakin bahwa itu Masjidil Aqsa.

Konon, Sophronius menunjukkan tempat-tempat yang salah karena malu. Karena di
tempat berdirinya Masjidil Aqsa dahulu telah menjadi tempat pembuangan sampah.
Orangorang yang ingin menghina agama Yahudi membuang sampah ke Masjid Daud
itu. Itu terjadi karena perintah tentara Romawi yang begitu membenci agama
Yahudi.

Akhirnya, Sophronius sadar bahwa Umar tahu benar ciri-ciri Masjidil Aqsa.
Dibawanyalah Umar ke tempat itu. Umar menatap tempat itu dengan cermat
sambil mencocokkan dengan keterangan yang pernah diterimanya dari Nabi setelah
peristiwa Isra Miraj. Umar yakin, itulah tempat yang dicarinya. Lalu, Umar
mengucapkan, "Allahu Akbar. Demi Zat yang jiwaku ada padaNya, inilah Masjid
Daud yang pernah dikatakan Rasulullah." Lalu, Umar turun dari kendaraannya,
dengan tangannya sendiri ia membersihkan tempat itu. Kemudian, para sahabat
yang lain mengikutinya.

Di zaman kehalifahan Umaiyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan mengabadikan tempat
berpijak Nabi untuk mikraj, dan ini disebut Masjid Kubah Batu. Di selatannya
didirikan masjid untuk salat. Yang terakhir inilah yang kini dikenal sebagai
Masjidil Aqsa.

Dalam usianya yang menjelang 14 abad, Masjidil Aqsa tidaklah begitu terbuka bagi
umat Islam, karena sejak 1967 wilayah sekitarnya dikuasai Israel. Namun,
sejarahnya tetap bergema di hati umat Islam di mana saja.

Julizar Kasiri dan Siti Nurbaiti


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data