Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXI/18 - 24 Januari 1992
   
Catatan Pinggir

Boh

Aung San seorang pahlawan myanmar. bersama sejum- lah orang hasil didikan militer ia melakukan perlawanan terhadap inggris. kini putrinya, Suu Kyi, disekap rezim militer myanmar.

GAJAH mati meninggalkan belangnya, Aung San mati meninggalkan Suu Kyi.
Tentu, wanita itu bukan hanya seraut gading dari nama besar mendiang ayahnya.
Suu Kyi kini pemimpin oposisi untuk hak-hak asasi di Myanmar dan penerima
Hadian Nobel Perdamaian 1991. Namun, memang ada yang tak terelakkan bila
seseorang jadi anak seorang tokoh pergerakan nasional yang dianggap pahlawan.

Komitmen Suu Kyi tak bisa dilepaskan dari ayah itu, Aung San, dan tanah air
itu, Myanmar. Ia memang menikah dengan seorang Inggris, dan ia lebih lama
hidup di luar negeri. Tapi, sebelum perkawinannya, ia sudah menulis surat
kepada Michael, calon suaminya itu: "... kalau bangsaku memerlukan aku, kau
harus menolongku untuk menjalankan kewajibanku bagi mereka." Maka ketika
Myanmar jadi gelap, setelah sejumlah demonstran yang menentang pemerintah di
Rangoon ditembaki, ia tak menampik untuk dipilih sebagai pemegang obor. "Kamu
bukan cuma berani karena keyakinanmu, Suu, tapi juga karena
hubungan-hubunganmu," kata seorang teman keluarga.

"Hubungan" utama Suu memang ayahnya sendiri, yang di dalam pelbagai kesempatan ia
sebut dengan rasa kagum luar biasa. Freedom from Fear, buku yang memuat
pernyataan dan tulisan Suu Kyi dan diterbitkan baru-baru ini, dipersembahkan
kepada sang ayah. "Apabila aku menghormati ayahku, aku menghormati semua
yang berdiri tegak untuk integritas politik di Burma," tulisnya.

Aung San, sang ayah, lahir di tahun 1915 di Burma tengah. Anak laki-laki bungsu
dari keluarga petani ini dengan segera memasuki sebuah kehidupan yang cirinya
adalah perlawanan menentang Inggris, si penjajah. Pemuda desa yang pakaiannya
lusuh dan kurang pandai bergaul itu tak diperhitungkan dalam kalangan mahasiswa
Rangoon yang serba keren. Namun, dengan demikian, agaknya ia harus membuktikan
diri bahwa ia tak bisa disepelekan, atau ia dengan sendirinya memang tahu bahwa
ia lain dari yang lain. Ia aktif sebagai pengasuh majalah kampus yang berani,
dan setelah lulus dari Universitas Rangoon, ia bergabung ke dalam organisasi
Dohbama Asiayone ("Kami Orang Burma"). Dari sini, ia bergerak ke kegiatan di
bawah tanah, dan dari kegiatan rahasia itulah ia berangkat melaksanakan
rencananya: menggunakan perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan.

Agustus 1940, Aung San dan seorang temannya meninggalkan Burma dengan kapal ke
Amoy. Mereka mencoba mengontak orang-orang komunis Cina, tapi tak berhasil.
Seorang agen pemerintah Jepang kemudian muncul, dan kedua orang Burma itu
diterbangkan ke Tokyo. Di sana, ia bertemu dengan seorang kolonel Jepang yang
mengepalai badan rahasia untuk "memerdekakan Burma". Februari 1941, Aung San
kembali dengan menyamar sebagai seorang pelaut Cina. Ia menyiapkan sejumlah
orang yang akan menjalani latihan militer secara rahasia di Pulau Hainan,
sebagai inti perlawanan terhadap Inggris. Aung San kemudian memimpin
cikal-bakal tentara kemerdekaan Burma ini. Sang tokoh pergerakan politik
masuk menjadi tokoh militer, meskipun kemudian, menjelang kemerdekaan, ia
kembali ke kancah politik -- satu hal yang agaknya unik dalam sejarah
perjuangan kemerdekaan di Asia Tenggara.

Militer atau sipil, Aung San telah mendapatkan julukan Bogyoke. Kata ini berarti
mayor jenderal, tetapi dalam hal Aung San itu berarti juga "bapak tentara",
sebab dialah sang pendiri. Terkadang ia juga dipanggil "Boh Aung San". Dalam
sebuah tulisan Suu Kyi, disebutkan bahwa Boh, yang berarti "pemimpin", berasal
dari kata bala, yang dalam Bahasa Pali berarti "kekuatan". Namun, agaknya khas
buat Aung San -- yang dalam hidupnya jabatan militer bukan sebagai suatu karier,
melainkan sebagai alat perjuangan -- bahwa Boh tak bisa berdiri sendiri. Bala
itu harus tak mudah jadi balakara atau kekerasan.

Tentang itu, Suu Kyi pun menyebut betapa ayahnya sejalan dengan kata-kata seorang
penyair Burma abad ke-18, Let-We Thondara: "Betapa unggulnya pun siasat
perang, betapa dahsyatnya senjata, tanpa menemukan tempat di hati rakyat,
tanpa mempercayai kekuatan rakyat, ujung pedang akan hancur dan tombak akan
bengkok."

Mungkin sebab itu Suu Kyi yakin bahwa ia tak akan kalah: wanita yang berwajah
lembut dan bertubuh semampai itu memang didukung rakyat, meskipun ia disekap
oleh senapang. "Bukan kekuasaan yang merusak watak, melainkan ketakutan,"
katanya. "Takut kehilangan kekuasaan merusak mereka yang memegang kekuasaan,
dan takut akan dilanda kekuasaan merusak mereka yang dikuasai". Maka manusia
harus mengendalikan ketakutannya, bukan takluk kepadanya.

Goenawan Mohamad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi - 23 Jul 2008 | 21:35 WIB
Industri Mulai Geser Hari Kerja - 23 Jul 2008 | 21:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data