Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXI/18 - 24 Januari 1992
   
Nasional

Yusuf kalla dan westerling

Masyarakat Sulawesi Selatan memprotes dan berupaya menghadapkan Yusuf Kalla ke pengadilan adat. Bermula dari wawancara Yusuf Kalla yang mengungkit kisah pembantaian westerling. Kalla minta maaf.

SEKITAR 100 anak muda yang menamakan dirinya Generasi Muda Sulawesi Selatan
mendatangi Fraksi PDI DPR, Selasa pekan lalu. Mereka menuntut agar Yusuf
Kalla, 50 tahun, pengusaha terkemuka dari Ujungpandang itu, diadili dalam
pengadilan adat. Ada apa?

Bos kelompok Bukaka itu rupanya sedang tertimpa musibah. Ia dituduh menghina para
pejuang kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Ini bermula dari wawancara Yusuf Kalla
yang dimuat Pedoman Rakyat Ujungpandang, 12 Desember 1991. Di bawah judul
berita "Perlu Perjuangan Meluruskan Sejarah Perjuangan", ditulis bahwa Yusuf
Kalla menyebutkan peristiwa 11 Desember 1946 sebagai musibah bagi rakyat
Sulawesi Selatan. ". . . karena hanya dalam waktu relatif singkat, puluhan
ribu rakyat dibantai . . .. Dan karena pembantaian dilakukan Belanda
tanpa perlawanan, sehingga sesungguhnya kejadian itu memalukan. Jangan
kita membesar-besarkan peristiwa yang justru memalukan," begitu katanya.
Yang dimaksudnya adalah pembantaian oleh tentara Belanda pimpinan Westerling
yang, konon, menewaskan 40 ribu rakyat Sul-Sel.

Berita tersebut merepotkan Kalla. Timbul protes dari berbagai kalangan, karena
pernyataannya itu dianggap meremehkan pengorbanan para pahlawan Sulawesi
Selatan. Untuk meluruskan wawancara itu, keesokan harinya koran yang sama
memuat penjelasan Kalla, isinya memperjelas pernyataan sebelumnya.

Toh pelurusan berita itu tak menjernihkan suasana. Malah reaksi bertambah luas.
Misalnya, datang pernyataan protes dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan
(KKSS) di Jakarta. Yang paling berat, 20 Desember 1991, ada surat keprihatinan
bersama yang ditandatangani Ketua Pepabri Sel-Sel H.A. Mattalata, Pelaksana
Legiun Veteran Arifin Nu'mang, serta Ketua DHD '45 Andi Sose. H.A. Mattalata
dan Andi Sose adalah tokoh tua yang disegani dan pengaruhnya amat besar di
Sulawesi Selatan.

Dan tampaknya Kalla harus surut. "Sebenarnya, saya tak ada niat untuk mengecilkan
arti perjuangan dari orangtua kita. Saya pun sudah langsung membuat surat
penjelasan dan minta maaf," kata bekas Ketua KAMI dan HMI Sulawesi Selatan
itu kepada TEMPO.

Untuk menjernihkan soal ini, Selasa pekan lalu, di ruang kerja Pangdam Wirabuana
Mayor Jenderal Zainal Basri Palaguna, Yusuf Kalla dipertemukan dengan
tokoh-tokoh masyarakat setempat. Di hadapan para tokoh masyarakat dan
disaksikan Panglima Kodam, Kalla minta maaf sedalam-dalamnya kepada para
pejuang di Sulawesi Selatan, termasuk kepada 40.000 keluarga korban
pembantaian Westerling. Keesokan harinya, harian Pedoman Rakyat memuat
pernyataan tertulis permohonan maaf Yusuf Kalla sampai duapertiga halaman.

Beres? Berbagai upaya memang dilakukan para tokoh tua untuk meredam kemarahan
masyarakat setempat, tetapi masih tetap ada yang berupaya menghadapkan
Kalla ke pengadilan adat.

Sebetulnya masih lumayan, yang menyenggol soal peka ini adalah Yusuf Kalla. Selain
pengusaha beken dan bekas tokoh Angkatan 66, dia adalah putra daerah setempat.
Tak terbayangkan apa jadinya kalau yang bicara bukan Kalla.

Agus Basri, Asdar Muis, W. Santing (Ujungpandang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
12/XXXVII/12 - 18 Mei 2008

 

Berita lainnya

Assegaf: Putusan Pemberhentian Todung Tidak Sah - 17 Mei 2008 | 10:29 WIB
Koantas Bima Tabrak Pejalan Kaki - 17 Mei 2008 | 09:35 WIB
Catatan Kecil Reformasi - 17 Mei 2008 | 09:34 WIB
Pengeroyokan Taruna Akpol Dibawa Ke Peradilan Umum - 17 Mei 2008 | 09:30 WIB
Truk Kontainer Menabrak Pembatas Jalan - 17 Mei 2008 | 09:21 WIB
KPU Jawa Tengah Siap Pemilihan Dua Putaran - 17 Mei 2008 | 09:15 WIB
Arab Saudi Tingkatkan Produksi Minyak - 17 Mei 2008 | 09:00 WIB
Todung Dipersilahkan Banding - 17 Mei 2008 | 08:40 WIB
NTB Butuh 350 MW Lebih Daya Listrik - 17 Mei 2008 | 07:38 WIB
Polisi Diminta Usut Perusakan Angkutan Pelat Hitam - 17 Mei 2008 | 07:21 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data