Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXI/18 - 24 Januari 1992
   
Olahraga

Reli pencabut nyawa

Reli paris-dakar diganti paris-cape town, afsel, menempuh 12.500 km. peserta harus melintasi daerah yg dilanda perang. sudah 3 jiwa melayang. klasemen sementara diduduki hubert auriol, dari mitsubishi.

RELI Paris-Dakar digelari "reli gila", saking ganasnya. Tapi, reli
Paris-Cape Town, yang menggantikannya, bisa saja disebut "reli edan" karena
tak kalah ganasnya. Reli ini, yang dimulai 23 Desember silam dan berakhir
pekan ini, sama-sama melintasi misteriusnya lautan gurun pasir dan rimbunnya
hutan tropis. Yang membuat edan, reli Paris-Cape Town ini melintasi beberapa
wilayah yang dilanda peperangan.

Mulai dari Chad, kebutkebutan Paris-Cape Town itu harus melalui wilayah yang
diduduki para pemberontak yang beringas. Di perbatasan Angola, para pereli
juga harus hati-hati. Belum lama ini, di sekitar lintasan Lobito-Namibe, dua
turis Inggris dan seorang Selandia Baru ditemukan tewas dibantai gerombolan
tak dikenal. Itu membuat reli ini harus mengalami beberapa kali penundaan.

Namun, panitia bertekad meneruskan reli ini sampai ke Cape Town, Afrika Selatan.
"Perlombaan harus berjalan terus sesuai dengan ketentuan dalam olahraga," ujar
Gilbert Sabine, ketua penyelenggara. Sampai akhir pekan lalu, para pereli
sudah menempuh etape XIV yang tidak aman di Angola. Cape Town, di ujung
selatan Afrika, tinggal 3.500 kilometer lagi.

Hasil sementara, Hubert Auriol dari tim Mitsubishi mengumpulkan angka hukuman
terkecil, disusul dua rekan se timnya, Erwin Weber dan Kenjiro Shinozuka. Tim
Mitsubishi bisa memecundangi saingan kakapnya, tim Citroen karena peralatan
navigasi mereka yang memang mutakhir, yaitu dilengkapi transmisi satelit.
Mereka jarang kesasar seperti yang dialami para pereli lain. Motor tim
Citroen, Ari Vatanen, harus terus berjuang untuk mengejar ketinggalannya.
Vatanen, yang empat kali menjuarai reli Paris-Dakar, masih terpaut 2 jam lebih
di belakang Auriol. Vatanen berada di posisi ke-5.

Pada kelompok sepeda motor, pereli Prancis yang menggunakan Yamaha, Stephane
Peterhansel, masih melesat di puncak peringkat. Peterhansel menyimpan selisih
waktu 2 jam lebih di depan pereli Amerika Serikat, Danny Laporte, yang
menggunakan Cagiva.

Reli gila-gilaan di benua hitam Afrika ini sudah berlangsung sejak 1979. Bermula
ketika Thierry Sabine, saat itu (1978) sebagai peserta reli Abijan-Nice,
kehabisan bensin dan tersesat di tengah genangan pasir tak bertepi selama
sepekan. Ia lalu bersumpah, kalau bisa selamat akan menyelenggarakan reli
besar yang menyeberangi gurun pasir. Setahun kemudian, kaul itu terkabul dan
lahirlah apa yang disebut reli Paris-Dakar yang menempuh jarak 10.000
kilometer.

Belakangan, gara-gara banyak korban jiwa, reli itu dikecam keras oleh berbagai
pihak. Bahkan, ada yang menganggap reli ini hanya memamerkan kemewahan kepada
penduduk Afrika yang papa. Di tengah ramainya perdebatan itu, arsitek reli
Thierry Sabine tewas ketika helikopter yang ditumpanginya jatuh diterjang
badai di padang pasir Mali, Januari 1986. Enam orang penumpangnya, termasuk
Thierry, tewas seketika.

Karena masih banyak para petualang dan industri mobil yang meminati reli gila ini,
Gilbert Sabine mengambil alih bisnis almarhum anaknya. Ia membentuk Thierry
Sabine Organization (TSO) dan melanjutkan tradisi akhir tahun itu. Meskipun
Federasi Otomotif Internasional (FISA) sudah mengeluarkan kecaman kerasnya,
Gilbert dengan TSOnya tetap berlalu.

Berubahnya politik apartheid di Afrika Selatan membuat Gilbert mengalihkan tujuan
akhir reli dari Dakar ke Cape Town. Jadilah reli Paris-Cape Town dan jarak
pun semakin panjang, yakni 12.500 kilometer. Mungkin karena rute ini masih
baru, peserta reli hanya 342 orang dengan berbagai macam kendaraan, separo
ratarata peserta reli Paris-Dakar. Hari yang dibutuhkan hampir sebulan.

Ternyata, reli Paris-Cape Town yang semula diduga lebih aman, juga mengundang
maut. Belum jauh para pereli memasuki ganasnya alam Afrika, terjadilah
kecelakaan pertama. Dua anggota tim pereli Prancis, Jean-Marie Sounillac
dan Laurent Lebourgeois, tewas seketika setelah Land Rover mereka jungkir
balik akibat menubruk gunung pasir di kawasan Libya. Lalu, kecelakaan
berikutnya menyusul. Pada etape IX, di wilayah Chad, mobil seorang peserta
menyambar dua anak kecil. Mereka luka parah, sehingga panitia harus buru-buru
membawa mereka ke rumah sakit.

Di kelompok sepeda motor, kecelakaan juga menodai penyelenggaraan reli ini.
Gangguan hujan lebat dan badai mengaduk padang pasir menjadi lautan lumpur
yang tentunya amat membahayakan peserta bersepeda motor. Seorang pereli
Prancis, Jean-Christophe Wagner, luka parah akibat sepeda motor Suzukinya
terguling selepas dari Franceville, Gabon.

Terakhir, Selasa pekan lalu, giliran Gilles Lalay -- juara reli Paris-Dakar
1989 -- menjadi korban ketiga yang tewas. Kelalaian Lalay adalah ia mengambil
jalur kiri dan menggeber gas menjelang pos terakhir di Kongo. Tahu-tahu muncul
kendaraan tim medik yang mau balik ke kota Loubomo. Benturan keras tak
terhindarkan lagi, sepeda motor Yamahanya remuk dan Lalay tewas seketika.
"Ini benar-benar malapetaka," kata rekan satu tim Lalay, Peterhansel.

Jika dihitung jumlah korban yang tewas sejak reli Paris-Dakar diperkenalkan pada
tahun 1979, Lalay adalah yang ke-31. Musibah ini membuat panitia menghapuskan
beberapa etape berat, supaya korban tidak terus berguguran. Misalnya, rute
yang membelah rawarawa di Zaire dibatalkan. Panitia memutuskan untuk langsung
mengapalkan para peserta reli ke Angola dari pos terakhir di Kongo.

Gilbert Sabine mengakui bahwa tidak mudah mengorganisasikan rute yang teramat
panjang di kawasan Afrika yang penuh misteri itu. Namun, pereli tangguh memang
tidak kenal kapok, sehingga reli edanedanan ini mungkin masih tetap berlangsung
di setiap pergantian tahun.

Ardian Taufik Gesuri


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data