Pengajar yang baik Slamet Djabarudi, 46, redaktur bahasa Tempo, mengikuti program pendidikan
jurnalistik di Universitas of California, selama 6 bulan. Juga mendapat
kesempatan magang pada penerbitan pers di AS. |
DIAM-diam, tanpa dilepas dengan upacara, Redaktur Bahasa TEMPO, Slamet
Djabarudi, terbang ke California, Amerika Serikat, Rabu pekan lalu.
Rekanrekannya sekantor di Kuningan pun tidak semua tahu akan kepergian empu
bahasa Indonesia kami ini.
Padahal, menurut rencana, Slamet, 46 tahun, akan tinggal di California cukup lama,
sekitar setengah tahun. Di sana, ia akan mengikuti sebuah program pendidikan
jurnalistik yang diadakan oleh University of California, Berkeley, yang
terkenal itu. Program tersebut dilaksanakan universitas itu bekerja sama dengan
Asia Foundation. Pesertanya 17 orang, tujuh orang di antaranya berasal dari
kawasan Asia-Pasifik. Slamet termasuk beruntung karena ia merupakan
satu-satunya peserta dari Indonesia.
Mengapa Slamet terpilih? Ceritanya, Asia Foundation meminta usulan nama peserta
dari Indonesia untuk program itu melalui Lembaga Pers Dr. Soetomo. Lembaga
pendidikan wartawan yang disponsori SPS itu kemudian mengusulkan nama Slamet
Djabarudi.
Alasannya, Slamet termasuk tenaga pengajar yang baik di lembaga pendidikan
jurnalistik itu. Selain itu, Slamet seorang wartawan yang punya kemampuan
lumayan, khususnya dalam bidang editing. "Saya sama sekali tidak mengajukan
lamaran untuk mengikuti program ini," kata Slamet.
Program ini akan berlangsung selama satu semester (6 bulan), untuk tiga jenis
courses, salah satunya comparative journalism. Selain mengikuti seminar dan
diskusi, Slamet, bersama wartawan Asia-Pasifik lainnya, juga akan
berkunjung ke Washington DC.
Pada bulan keenam, para peserta akan diberi kesempatan magang pada penerbitan pers
di Amerika. Slamet sendiri diharapkan dapat mengikuti acara ini di majalah
berita terkemuka, Time.
Di luar program ini, selama berada di sana, Slamet sendiri berusaha mencari
program tambahan, yang berkaitan dengan pengalaman editing. Apa yang
diperoleh Slamet, nanti, diharapkan berguna untuk TEMPO dan Lembaga Pers
Dr. Soetomo.
Meskipun belakangan lebih dikenal sebagai seorang ahli bahasa Indonesia,
sebenarnya Slamet memulai kariernya sebagai seorang wartawan. Mula-mula ia
bekerja sebagai reporter di Pelopor Yogya, tahun 1967. Waktu itu namanya
menjadi berita karena getol membongkar kasus Sum Kuning -- sebuah peristiwa
perkosaan yang menggegerkan Kota Yogya karena melibatkan anak orang penting
di kota itu. Kemudian dia bergabung dengan koran Indonesia Raya, tahun 1971,
lalu Majalah TEMPO, tahun 1974.
Di TEMPO, ia memulai kariernya sebagai reporter yang menggarap berita-berita
kriminal, yang banyak berhubungan dengan sumber di kepolisian. Baru kemudian,
ia tertarik pada bidang bahasa.
Karena minatnya itu, ia kemudian ditugaskan sebagai editor naskah. Dari sini
belakangan ia menjabat sebagai Redaktur Bahasa.
Peran Slamet sebagai Redaktur Bahasa cukup penting. Apalagi, sejak awal terbitnya,
TEMPO adalah produk sebuah hasil kerja tim. Isi TEMPO direncanakan bersama-sama.
Lalu bahan-bahan laporan dikumpulkan reporter, ditulis oleh penulis, dan diedit
oleh para Redaktur Pelaksana.
Setelah itu, Slamet dan pasukannya berperan untuk memeriksa Bahasa Indonesia
di tulisan itu. Apakah kaedah bahasanya sudah betul, apakah logis, dan
sebagainya. Selama Slamet di luar negeri, tugas-tugas redaktur bahasa di
TEMPO dilimpahkan kepada stafnya, Aston Pasaribu dan Sapto Nugroho, dibantu
oleh tiga mahasiswa Lembaga Pers Dr. Soetomo. Mereka adalah Heri Wardoyo,
Yoyok Gandung Priyana, dan Yurnilawati, yang memang telah dipersiapkan oleh
Slamet sebelumnya.
|