Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXI/18 - 24 Januari 1992
   
Teater

Ketoprak sulap di istana kecil

Ketoprak, teater rakyat jawa, dipentaskan di pendopo mangkunegaran. sejumlah artis solo ikut tampil. pagelaran ini mengambil cerita bedha kartosuro. sri mangkunegoro ix mendukung.

INILAH untuk pertama kalinya Mangkunegaran kebanjiran orang. Sekitar 4.500
orang memadati puro (istana kecil) di Kota Solo, Sabtu malam lalu. Itu bukan
keramaian upacara adat, tapi memang suatu kejadian yang cukup spektakuler:
pergelaran ketoprak yang buat pertama kalinya dipentaskan di pendopo yang
terhormat.

Ketoprak adalah -- bukan makanan khas Betawi itu, lo -- teater rakyat Jawa yang
memaparkan cerita sejarah. Untuk membantu menghidupkan kembali sandiwara yang
hampir punah itu, PWI Cabang Solo mementaskannya dengan dukungan dana Rp 35
juta dari pengusaha dan seniman Setiawan Djody.

Untung, malam itu hujan tidak turun, sehingga pergelaran yang mengambil cerita
Bedhah Kartosuro dengan 150 pemain itu berjalan lancar. Inti ceritanya ialah
pemindahan keraton Mataram oleh Paku Buwono II, pada tahun 1745, dari
Kartasura ke Solo (kemudian disebut Surakarta), sebuah desa di sebelah
timurnya.

Iringan gending dan penataan tarinya digarap oleh para mahasiswa jurusan karawitan
dan tari STSI Solo. Bahkan sutradaranya pun, S.T. Wiyono, berasal dari
sekolah tinggi seni itu, yang terpilih sebagai sutradara terbaik dalam
festival kesenian tradisional, tahun lalu. Yang menjadi daya tarik penonton
ialah tampilnya beberapa artis yang lengket di hati wong Solo.

Misalnya, bekas primadona Srimulat, Jujuk, yang masih juga punya pamor itu.
Ada pula primadona lain yang lebih tenar, seperti Murti Sari "Lasmini" Dewi,
yang populer lewat film Saur Sepuh. Beberapa bintang panggung ketoprak juga
muncul: Jusuf Agil, Marsidah, Widayat, Sugito, Sunarno, dan Marsudi.

Supaya karcisnya laku keras, para pelawak lokal pun ditampilkan: ada Ranto Edi
Gudel, ada Sandirono, ada GitoGati. Bukan hanya itu. Di antara para pelakon, ada
dua nama beken: Gusti Raden Ayu Koes Moertiyah, putri Paku Buwono XII, dan
Gusti Pangeran Haryo Herwasto, putra Mangkunegoro VIII.

Dua jenis karcis seharga Rp 25.000 dan Rp 3.000 habis tandas. Kursi tamu sebanyak
2.500 tak satu pun yang kosong, sedangkan ribuan penonton lainnya rela berdiri.
Boyong kedaton Mataram di abad ke-18 ini memang besar-besaran. Prosesi kirab
itu ditampilkan sebagai adegan awal, disusul adegan-adegan flashback yang
mengisahkan latar belakang pemindahan keraton yang juga merupakan saat
kelahiran Kota Solo.

Di barisan depan, tampak sejumlah prajurit berkuda, diiringi para abdi dalem
mengusung seluruh pusaka dan harta benda keraton. Permaisuri, para garwa ampil
alias selir dan sejumlah putri-putri pun tak ketinggalan. Mereka diangkut
dengan joli atau tandu, sedangkan Paku Buwono II (dimainkan dengan amat baik
oleh Jusuf Agil) mengendarai gajah.

Usai mengelilingi halaman Puro Mangkunegaran, arakarakan megah itu memasuki
pendopo agung. Di sanalah flashback cerita itu diungkap -- lengkap dengan
adegan perang, kisah asmara, diselingi lawakan. Bedhah Kartosuro yang
rencananya dipentaskan 31 Desember tahun lalu itu hampir gagal karena
Sekretariat Mangkunegaran minta Rp 15 juta untuk memperbaiki plafon atap
pendopo.

Panitia penyelenggara kelabakan, lantas memindahkan pergelaran ke Taman Budaya
Surakarta. Tapi Bram Setiadi, pengurus PWI Solo yang empunya gagasan pementasan
ini, dengan sigap menghubungi K.G.P.A. Sri Mangkunagoro IX, yang saat itu
tengah berada di Jakarta. Sementara itu, tersebar berita seolah-olah pihak
Mangkunegaran tidak mengizinkan pementasan itu.

Mangkunagoro IX, yang buru-buru terbang ke Solo, ternyata tidak tahu-menahu
mengenai pemintaan dana itu. Ia bahkan merasa malu. "Waduh, saya merasa
terhina. Saya tidak pernah memerintahkan staf sekretariat untuk minta dana
perbaikan itu," katanya dengan serius. Ia bahkan menegaskan tidak pernah
melarang pementasan itu. "Malah saya gembira, karena hal itu membuktikan
orang masih merasa akrab dengan keberadaan Mangkunegaran. Lagi pula, itu juga
berarti bahwa pihak Mangkunegaran bisa membantu perkembangan ketoprak. Soal
perbaikan plafon atap pendopo itu sebenarnya tidak usah mengganggu
pementasan," tambahnya. Ia menganggap soal permintaan dana itu sebagai
"kesalahpahaman" dan sudah dianggap selesai.

Tapi ada beberapa saran dari pewaris tahta Mangkunegaran itu. Misalnya, panitia
dan para pemain dianjurkan berziarah dan tahlil di makam Mangkunagoro I alias
Pangeran Sambernyowo di Bukit Mangadeg, Karanganyar. Ia juga minta agar
ceritanya tidak mengungkapkan perpecahan kerajaan Jawa menjadi dua keraton
(Kasunanan di Solo dan Kasultanan di Yogya) dan dua puro (Mangkunegaran di Solo
dan Pakualaman di Yogya).

S.T. Wiyono, sutradaranya, setuju. Ia juga tidak mengungkap hal-hal yang menurut
dia berbau SARA. Misalnya, pemberontakan Cina yang dramatis terhadap Kompeni
di Batavia, yang merembet ke Kartasura hingga keraton sempat diobrak-abrik.
Ia juga tidak menampilkan Paku Buwono II sebagai raja yang tak berpendirian
(semula menentang, belakangan berpihak kepada Kompeni), tapi "netral".

Wiyono juga "berani" mengubah sejarah. Adegan Tumenggung Martopuro marah-marah
kepada Paku Buwono II (karena sang raja yang semula memerintahkannya melawan
Kompeni tiba-tiba berbalik) disulap: Martopuro marah kepada Patih Pringgoloyo.
Meski sikap Martopuro patriotik, adakah marah kepada raja (yang pro Belanda)
dianggap tak sopan?

Budiman S. Hartoyo, Kastoyo Ramelan*


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data