Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXI/22 - 28 Februari 1992
   
Ilmu dan Teknologi

Kapal impian dari kobe

Yamato i, kapal tanpa baling-baling atau layar, sedang dicoba di jepang. di rancang dengan teknologi superkonduktor. bebas berisik dan tanpa bbm.

SETENGAH abad lalu, Angkatan Laut Kerajaan Jepang mengejutkan dunia dengan
meluncurkan Yamato, kapal induk berbobot 65 ribu ton. Kapal ini menakutkan
kala itu. Meriamnya berbahaya, torpedonya ampuh, dan puluhan pesawat tempur di
perutnya siap melumat musuh.

Namun, sebelum sempat mencatat prestasi yang berarti, Yamato tenggelam dikerubuti
pesawat tempur Amerika di perairan Okinawa di tahun 1945.

Kenangan atas Yamato seperti akan dibangkitkan kembali. Sebuah kapal bernama
Yamato I kini tampak melego jangkar di pelabuhan Kobe. Kembali muncul kejutan.
Inilah kapal pertama yang bakal sanggup membelah samudra tanpa baling-baling, atau
layar, atau dayung. Kapal ini lahir dari rahim teknologi paling mutakhir:
superkonduktor.

Hanya saja, Yamato yang ini tak bersenjata. Ia malah tampak manis dengan bodi dari
aluminium bercat hijau metalik. Kabin untuk awak kapal dan penumpangnya sempit --
hanya cukup untuk sepuluh kursi -- sebab sebagian besar ruangan dihabiskan untuk
mesin kapal. Tampangnya lancip, berbobot 280 ton, panjang 30 m, dan lebar sekitar
10 m.

Kapal ini dirancang berdasarkan teknologi yang disebut Superconducting
Electromagnetic Propulsion Ship (SEMPS). Dengan sistem ini, jika mesin
dinyalakan, air laut masuk ke perut Yamato I, lantas disemburkan ke belakang,
dan itu menimbulkan daya dorong untuk menggerakkan si Yamato.

Menurut rencana, Yamato bisa melaju sampai 180 km per jam. Namun, seperti diakui
Setsuo Takezawa, pimpinan proyek kapal itu, ciptaan mereka ini baru mampu mencapai
14 km per jam. "Tak menjadi soal. Yang penting, kami pihak pertama yang
membuatnya," ujarnya. Yayasan Perkapalan dan Kelautan Jepang (SOF), yang
punya proyek ini, menurut Takezawa-San, akan melanjutkan proyek itu dengan
Yamato II, dan seterusnya. "Sampai kami menemukan bentuk yang paling
praktis," ia menambahkan. Yamato I sendiri baru akan diujicoba Juni
mendatang.

Bila berhasil, menurut Takezawa, Yamato merupakan revolusi di bidang perkapalan.
Ia sebuah kapal impian: nyaris tanpa getaran dan tanpa suara. Itu tentu
menyebabkan kapal ini lebih nyaman dibandingkan dengan kapal berbaling-baling yang
berisik dan bergetargetar.

Selain itu, Yamato tak memerlukan ongkos perawatan. Ia tak perlu naik dok secara
periodik. Tapi lebih dari itu, menurut pimpinan proyek ini, kapal ini tak
memerlukan bahan bakar minyak (BBM). Itu memang masih dalam rencana. Sekarang
kapal ini masih menggunakan dua generator berkekuatan 3.600 kilowat, sebagai
sumber listrik yang dibutuhkan.

Menurut Takezawa, mereka sedang berusaha membuat baterai yang awet dan mampu
menggantikan generator itu. Bila berhasil, kapal ini baru ideal, betul-betul bebas
dari berisik dan BBM.

Pada hakikatnya, teknologi SEMPS diutak-atik dari teori fisika sederhana:
interaksi antara listrik dan medan magnet yang diajarkan bagi siswa SMA. Interaksi
kedua elemen ini akan melahirkan gaya elektromagnetik alias gaya Lorentz.

Di atas kertas, penerapan teori itu seperti mudah: medan magnet diarahkan ke
bawah, lantas dari arah samping dialirkan arus listrik, maka akan lahir gaya
Lorentz ke arah buritan.

Namun, di lapangan, pelaksanaannya tak mudah. Pemrakarsanya, SOF, perlu
melibatkan belasan industri, termasuk di antaranya Mitsubishi Heavy
Industries, Toshiba Corps., serta Kobe Steel Ltd., untuk membangun Yamato I.
Mereka perlu waktu tujuh tahun untuk membidaninya, dengan dukungan biaya
sekitar Rp 80 milyar.

Unsur utama pada mesin kapal ini -- disebut Magnetohydrodynamic (MHD) thruster --
berupa pembangkit medan magnet yang berjumlah dua unit. Masing-masing terdiri dari
enam tabung aluminium bergaris tengah 26 cm, berjajar vertikal, yang dililit
kumparan kawat Niobium-Titanium. Kawat ini istimewa lantaran bisa berperan sebagai
superkonduktor, penghantar arus listrik bebas hambatan pada suhu 269 derajat
Celsius alias 4 Kalvin.

Tabung-tabung itu kemudian diisi dengan Helium cair yang bersuhu 4 Kalvin. Suhu
kawat kumparan Niobium-Titanium itu pun menjadi sangat dingin dan menjelma
menjadi superkonduktor. Lalu listrik berkekuatan 4.600 amper dialirkan.
Alhasil, kumparan berarus listrik akan menghasilkan medan magnet yang amat
besar karena muatan listrik itu melewati kawat bebas hambatan.

Lepas dari kumparan, arus listrik itu dialirkan dengan arah tegak lurus memotong
medan magnet. Uniknya, sekarang arus listrik ini lewat air laut di bawah perut
kapal. Hal ini dimungkinkan karena ruang mesin di bawah perut kapal itu
tersekat dari elemen kapal lain, dan berbentuk seperti botol dengan dua mulut
yang terbuka di depan dan belakang.

Air laut pun leluasa keluarmasuk. Air laut itu punya peran ganda, sebagai
penghantar arus listrik dan untuk media bekerjanya gaya elektromagnetik. Hasilnya:
air laut seperti disedot dari depan dan dimuntahkan ke belakang, dan itulah yang
menggerakkan Yamato.

Teknik ini sebetulnya sudah dicoba di Amerika, awal 1960an, tapi gagal karena
bahan superkonduktor belum ada. Belakangan Prof. Yoshiro Saji, dari Universitas
Kobe, berhasil membuat prototipe berukuran 3,6 meter. Kemudian SOF mencoba
merealisasikannya dalam bentuk proyek seperti sekarang.

Namun, proyek ini masih digayuti bayang-bayang kelam. Kapal jenis SEMPS ini bisa
menimbulkan berbagai pencemaran yang bisa membahayakan makhluk laut, antara lain,
karena menggunakan magnet itu.

Putut Trihusodo (Jakarta) dan Seiichi Okawa (Tokyo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data