Angin Pacuan kuda phu tho diijinkan kembali, ketika pemerintah vietnam hampir
bangkrut. kembalinya perjudian dan kapitalisme. usia joki sekitar 9 sampai 16
tahun. |
NGUYEN Thanh Thong, 14 tahun, lahir dengan angin di rambutnya. Kakeknya
memacu kuda Arab disaksikan para diplomat dan tuan tanah yang minum anggur
Prancis. Ayahnya joki kampiun sanjungan serdadu Amerika, saat mortir meledak
di langit Kota Saigon.
Tahun silam, 20.000 orang menyaksikan kemenangan Nguyen yang ke-33 di atas pelana.
Mereka datang cuma mengenakan kaus oblong dan sandal jepit, tapi bocah Vietnam itu
tak mengeluh. Setelah Saigon jatuh ke tangan komunis, 1975, segala yang berbau
barat dilarang. Kudakuda ras disembunyikan di kampung dan dipakai membajak sawah,
sampai satu per satu mereka punah.
Tapi, seperti pepatah pedagang, uang bisa membuat dunia kembali berputar.
Pemerintah yang hampir bangkrut mengizinkan kembali pacuan kuda. Pengunjungnya
berlimpah: memenangkan 500 dolar menjadi impian banyak orang yang cuma diupah
18.000 perak sebulan. Tak soal bila arena Phu Tho yang dulu kebanggaan
kolonial itu kini penuh lubang peluru dan banjir di musim hujan, atau bila
yang dipacu cuma kuda kampung. Tak soal bila Paman Ho berguling di kubur
melihat kembalinya perjudian dan kapitalisme di Vietnam. Bagi bocah macam
Nguyen, kemerdekaan tak lagi diukur dari dogma. Merdeka adalah angin di
rambut, dan kebebasan untuk menjadi yang pertama di garis finish.
Terik atau Banjir
"Menarik uang dari masyarakat lebih mudah melalui judi daripada pajak," ujar
businessman Hong Kong Philip Chow, saat membujuk pemerintah Vietnam untuk membuka
kembali pacuan kuda Phu Tho, 1988. Tiga tahun kemudian, negara malah ikut-ikutan
menjadi kapitalis dengan membeli kembali "saham" Chow di Phu Tho sebesar US$ 200
ribu (Rp 400 juta). Lebih dari setengah uang yang diperjudikan masuk ke kas
negara, sedangkan Joki yang juara hanya menerima Rp 70 ribu. Tapi ini lebih dari
cukup bagi joki yang usianya antara 9 dan 16 tahun. Karena yang dipertandingkan
kuda kampung, pengendaranya terpaksa bocah-bocah. Tak heran mereka penuh semangat:
terik atau banjir mereka tetap bertanding.
Foto Esai: Patrick Aventurier
Teks: Yudhi Soerjoatmodjo
|