Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXI/22 - 28 Februari 1992
   
Kamera

Angin

Pacuan kuda phu tho diijinkan kembali, ketika pemerintah vietnam hampir bangkrut. kembalinya perjudian dan kapitalisme. usia joki sekitar 9 sampai 16 tahun.

NGUYEN Thanh Thong, 14 tahun, lahir dengan angin di rambutnya. Kakeknya
memacu kuda Arab disaksikan para diplomat dan tuan tanah yang minum anggur
Prancis. Ayahnya joki kampiun sanjungan serdadu Amerika, saat mortir meledak
di langit Kota Saigon.

Tahun silam, 20.000 orang menyaksikan kemenangan Nguyen yang ke-33 di atas pelana.
Mereka datang cuma mengenakan kaus oblong dan sandal jepit, tapi bocah Vietnam itu
tak mengeluh. Setelah Saigon jatuh ke tangan komunis, 1975, segala yang berbau
barat dilarang. Kudakuda ras disembunyikan di kampung dan dipakai membajak sawah,
sampai satu per satu mereka punah.

Tapi, seperti pepatah pedagang, uang bisa membuat dunia kembali berputar.
Pemerintah yang hampir bangkrut mengizinkan kembali pacuan kuda. Pengunjungnya
berlimpah: memenangkan 500 dolar menjadi impian banyak orang yang cuma diupah
18.000 perak sebulan. Tak soal bila arena Phu Tho yang dulu kebanggaan
kolonial itu kini penuh lubang peluru dan banjir di musim hujan, atau bila
yang dipacu cuma kuda kampung. Tak soal bila Paman Ho berguling di kubur
melihat kembalinya perjudian dan kapitalisme di Vietnam. Bagi bocah macam
Nguyen, kemerdekaan tak lagi diukur dari dogma. Merdeka adalah angin di
rambut, dan kebebasan untuk menjadi yang pertama di garis finish.

Terik atau Banjir

"Menarik uang dari masyarakat lebih mudah melalui judi daripada pajak," ujar
businessman Hong Kong Philip Chow, saat membujuk pemerintah Vietnam untuk membuka
kembali pacuan kuda Phu Tho, 1988. Tiga tahun kemudian, negara malah ikut-ikutan
menjadi kapitalis dengan membeli kembali "saham" Chow di Phu Tho sebesar US$ 200
ribu (Rp 400 juta). Lebih dari setengah uang yang diperjudikan masuk ke kas
negara, sedangkan Joki yang juara hanya menerima Rp 70 ribu. Tapi ini lebih dari
cukup bagi joki yang usianya antara 9 dan 16 tahun. Karena yang dipertandingkan
kuda kampung, pengendaranya terpaksa bocah-bocah. Tak heran mereka penuh semangat:
terik atau banjir mereka tetap bertanding.

Foto Esai: Patrick Aventurier

Teks: Yudhi Soerjoatmodjo


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data