Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXI/22 - 28 Februari 1992
   
Kiat

Ikan sita

Sekitar 500 kg ikan dibuang percuma oleh para nelayan Ambon. Mereka lebih memilih udang karena dianggap punya nilai ekonomis. padahal ikan-ikan tersebut bisa diolah jadi Surimi.

SUTAN Takdir Alisjahbana ternyata tak hanya bisa bicara soal sastra. Ia juga
bicara tentang ikan. "Ikan di laut tidak kita beri makan. Kalau ikan itu
sakit, tidak kita obati. Namun, menangkap ikan saja kita tak dapat," kata STA
baru-baru ini. Dan alangkah benarnya konstatasi itu.

Belum lama ini saya pergi ke Ambon. Ternyata, syahbandar pelabuhan Ambon adalah
teman lama saya. Maka, saya berkesempatan melihat beberapa fasilitas di sekitar
pelabuhan dan naik ke sebuah kapal ikan yang lego jangkar di depan pelabuhan.

Semula, saya mendapat informasi bahwa kapal yang akan kami lihat itu sedang
memindahkan cumi-cumi beku hasil tangkapannya ke kapal pengangkut yang akan
membawa produk itu ke Korea. Rupanya, yang kami lihat bukan cumi-cumi beku,
melainkan udang beku yang akan diekspor ke Jepang.

Dari percakapan dengan para anak buah kapal, saya mendapat kesimpulan begini:
setiap kali melepas jala, akan terjaring sekitar 500 kilogram ikan. Dari jumlah
itu, hanya terdapat 30-50 kilogram udang. Udangnya diambil dan diproses. Ikanikan
lainnya dicampakkan kembali ke laut. Sebagian mampu berenang lagi, sebagian
lainnya tewas.

"Ikan-ikan apa saja yang tertangkap dan lantas dibuang itu?" tanya saya.

"Banyak jenisnya, Pak."

"Dapatkah Anda sebutkan jenis yang terbanyak tertangkap di jala Anda itu?"

"Tak tahulah kami, Pak. Tugas kami hanya menangkap udang. Yang bukan udang
kami buang. Kapal ini terlalu kecil untuk dimuati tangkapan sampingan itu."
Dua orang nelayan Amerika yang menemani perjalanan saya menjadi berang
mendengar keterangan itu.

"Bukankah itu pemerkosaan terhadap bunda alam kita?" tanya mereka tanpa bisa saya
jawab. "Itu kan cara berpikir yang salah. Kalau di dalam jala yang 500 kilogram
itu hanya ada 50 kilogram udang, udanglah yang sebetulnya menjadi tangkapan
sampingan. Bukan sebaliknya!"

Lalu mereka bercerita tentang keadaan perikanan di Alaska sekitar tiga puluh tahun
yang silam. Dulu, nelayan Alaska juga hanya mempunyai sebuah term of
reference, yaitu menangkap ikan cod -- di samping salmon yang musimnya hanya
tiga setengah bulan setiap tahun. Yang bukan cod dilepas kembali ke laut. Kini
kapal-kapal nelayan Alaska menangkap dan memproses sekitar 30 jenis ikan
tangkapannya.

"Kami sudah dapat menemukan nilai ekonomis dari setiap jenis ikan yang masuk ke
dalam jala kami. Tidak ada lagi istilah by-catch dalam operasi perikanan kami,"
kata mereka.

Pollock, salah satu jenis ikan yang paling banyak ditangkap di perairan Alaska,
dan karena itu merupakan ikan yang paling murah di Amerika Serikat, dimasukkan ke
dalam program menu makan siang di sekolah-sekolah. (Di AS, murid sekolah umum yang
orangtuanya berpenghasilan kurang dari US$ 3.000 sebulan diberi makan siang
cuma-cuma di sekolah). Pollock juga masuk sebagai ransum makanan tentara.

Namun, sekarang Pollock juga diolah sebagai produk bernilai tambah dan masuk pasar
swalayan. Bila suplai jenis ikan ini berlebih, untuk melindungi jatuhnya harga
pasar ikan itu juga diolah menjadi surimi -- sebuah substansi mirip empek-empek
yang kemudian dipakai sebagai bahan baku pembuatan imitasi lobster, imitasi
kepiting, dan berbagai fishcake lain.

Whiting dan hake adalah dua jenis ikan di perairan Pasifik sebelah barat Amerika
yang juga bernilai ekonomi rendah. Para pengusaha ikan di sana sedang mencari
upaya memberi nilai tambah pada dua jenis ikan ini. Antara lain dibuat surimi. Ada
juga yang bereksperimen membuat semacam bologna dari kedua jenis ikan itu, dan
ternyata cukup laris di Italia.

Percakapan di pelabuhan Ambon itu membangkitkan kepedulian kami untuk mengetahui
sebetulnya ikan-ikan jenis apa saja yang tertangkap dan dibuang kembali itu.
Jangan-jangan yang tertangkap itu adalah jenis ikan berdaging putih yang sangat
cocok untuk surimi -- pangan masa depan umat manusia. Jangan-jangan yang
tertangkap adalah jenis ikan yang bila ditampilkan dalam bentuk fillet tidak
akan kalah dari orange roughy -- salah satu jenis ikan Australia dan Selandia Baru
yang baru saja dikomersialkan.

Dengan hati merana kami pun pergi ke instansi pemerintah di Ambon yang kami anggap
mempunyai jawaban atas keprihatinan kami itu. Ternyata, di sana pun tidak ada
statistik yang dapat kami pakai sebagai pegangan. Jawaban yang kami terima:
kira-kira sekian ton, kira-kira jenis ini dan itu.

Dapatkah kita membuat keputusan yang baik berdasarkan informasi yang mentah
seperti itu? Di Indonesia bagian Timur, peluang itu menganga.

Bondan Winarno


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data