Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/XXI/22 - 28 Februari 1992
   
Musik

Jatuh cinta pada janda

TTVRI melarang lagu gadis atau janda dan jagung bakar. lirik kedua lagu tidak porno, tapi bisa mengesankan konotasi negatif. sedangkan TVRI Bandung melarangan penayangan lagu teteh.

ORANG masih ingat ketika lagu pop Hati yang Luka dilarang disiarkan di TVRI
beberapa tahun lalu. Menurut Menteri Penerangan Harmoko, ketika itu, lirik
lagu ciptaan Obbie Messakh yang dibawakan oleh Betharia Sonata itu cengeng.
Sekarang, awal Februari ini, ada dua lagi lagu yang dilarang. Kali ini lagu
dangdut.

Yaitu Gadis atau Janda ciptaan Awab Harris yang dibawakan Elvy Sukaesih dan
Mansyur S., dan Jagung Bakar karya Asmin Cayder, dibawakan oleh Elin Tamaya.
Padahal kedua lagu itu sudah empat kali disiarkan TVRI. Dan ajaibnya, TPI yang
mestinya lebih mengutamakan program pendidikan itu juga dengan enak saja
menyiarkannya.

"Kami memang kecolongan," kata Hudiono Drajat. Kasubsi Perencanaan dan Hiburan
Musik TVRI ini mengakui lirik kedua lagu itu tidak porno, tapi bisa mengesankan
"konotasi negatif". Lirik lagu-lagu itu rasa-rasanya memang "kurang sopan" atau
"tak layak diucapkan" -- meskipun sebenarnya bisa mengundang orang tersenyum.

Misalnya, refrain lagu Gadis atau Janda yang dinyanyikan bersahutan: kau masih
gadis atau sudah janda/baik katakan saja jangan malu/memangnya mengapa aku harus
malu/abang tentu dapat 'tuk membedakannya/kau katakan saja yang
sesungguhnya/sesungguhnya diriku oh memang sudah janda/walaupun kau janda tetap
kucinta.

Kalimat-kalimat pada lirik Jagung Bakar juga sangat sederhana. Tapi bisa
mengundang kesan bahwa yang dimaksud dengan "jagung" tiada lain adalah kelamin
lelaki. Dan karena itu dinilai porno. Mau yang panjang atau yang pendek/terserah
saja maunya anda/mau yang besar atau yang kecil/yang tua enak yang muda asyik.

Mendengar pelarangan Gadis atau Janda, Adi Nugroho gelenggeleng kepala. Sebab,
menurut produser perusahaan rekaman Dian Record yang merekam lagu itu, Gadis
atau Janda adalah lagu lama, yang semula dinyanyikan Muchsin Alatas dan Elvy
Sukaesih pada tahun 1970. "Lagu itu justru mengangkat harkat janda, sebab ada
lelaki yang mau mengawini meskipun janda itu beranak banyak," katanya.

Nugroho kini goyang kaki sambil menghitung keuntungan yang mungkin bisa
direguk dari penjualan kaset yang dicetaknya 100.000 copy itu. "Toko-toko
kaset di Jakarta dan daerah tidak ada yang mengeluh. Omzet penjualan tidak
terpengaruh oleh larangan itu," katanya. Memang tidak ada larangan
mengedarkan kaset-kaset itu.

Seperti Hati yang Luka tempo hari, pelarangan kedua lagu dangdut itu memang hanya
terbatas di TVRI saja. RRI dan radio-radio swasta niaga boleh-boleh saja
"berjanda-janda" menikmati "jagung bakar besar". Lagu-lagu itu juga masih boleh
diputar di toko-toko kaset sementara penggemarnya berjoget.

Menurut Darmawan, produser perusahaan rekaman Nafiri yang merekam Jagung Bakar,
lagu tersebut malah laris gara-gara pelarangan itu. Dan showbiz Elin Tamaya,
penyanyinya, semakin lancar. Elin bahkan dijuluki Si Jagung Bakar oleh para
fansnya. Kasetnya terjual 30.000. Darmawan menargetkan mencetak 100.000 copy.

Bila sebuah perusahaan rekaman menginginkan lagunya ditayangkan (atau diiklankan
secara terselubung) di TVRI, master lagu itu harus didaftarkan lebih dulu kepada
koordinator untuk diseleksi. Sayang, Edy Sud, sang koordinator itu, sulit
dihubungi.

TVRI selama ini merasa sudah cukup ketat melakukan seleksi. Kan koordinator yang
menyeleksi? "Mungkin koordinator juga kecolongan. Sebagai anggota DPR, Pak Edy Sud
kan sibuk sekali," kata Hudiono. "Meskipun sudah ada koordinator, mulai sekarang
lirik lagu yang akan disiarkan juga harus diserahkan kepada saya," tambahnya.

Sebelumnya, TVRI stasiun Bandung sudah melarang penayangan lagu pop Sunda,
Teteh, karya Doel Sumbang. Pelarangan itu juga gara-gara bunyi liriknya yang
dinilai kurang pantas. Lagu itu menceritakan sekelompok pemuda yang mencintai
wanita cantik yang sudah berkeluarga. Mereka berharap suaminya berbalik benci
hingga si cantik jadi janda.

Siang wengi abdi ngadu'a, nedaneda, mugimugia eta caroge teteh sing enggal malik
ngewa, sing malik cuwa/Tumaros ka teteh iraha janten randa/Abdi ngantosan teteh,
iraha janten randa (Siang malam aku berdoa, memohon-mohon, semoga suami mbak
segera berbalik benci, benci sekali/Aku bertanya kepada mbak kapan jadi janda?/Aku
bertanya menunggu mbak, kapan jadi janda?).

Adalah Raden Ading Affandi, budayawan Sunda, yang pertama kali menelepon TVRI
stasiun Bandung setelah Teteh ditayangkan agar lagu itu tidak disiarkan. Lalu
muncul surat-surat protes dan polemik pro dan kontra di koran-koran Bandung,
seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala.

Pelarangan lagu ini pun, menurut Yoyong, produser perusahaan rekaman Asmara Record
yang merekam lagu itu, tidak mengganggu penjualan kasetnya. Yang jelas, sebelum
beberapa kali disiarkan di TVRI stasiun Bandung, Teteh pernah ditayangkan di
layar TVRI Pusat. Tapi pelarangan itu tak ada kaitannya dengan kasus Gadis
atau Janda.

"Sebelum ada larangan penayangan Gadis atau Janda, saya sudah menyetop Teteh,"
kata Halim Nasir, kepala TVRI stasiun Bandung. Tapi, katanya lagi, produser,
pencipta dan penyanyinya jangan disalahkan. "Sayalah yang bertanggungjawab,"
katanya. Kini ia lebih mengetatkan seleksi karena tak mau kecolongan lagi.

Budiman S. Hartoyo, Siti Nurbaiti, Ahmad Taufik


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data