Dulu tontonan kini tuntutan Pesinden lagu sunda tradisional, upit sarimanah, meninggal dunia dalam usia
64 tahun. pernah beken di tahun 1960-an. setelah menunaikan ibadah haji, ia
menjadi muballighat. |
UPIT Sarimanah ? Siapa dia ? Generasi kini tak ada yang mengenalnya. Apalagi
para remaja yang lebih menggandrungi musik rock yang jejingkrakan. Tapi, bagi
generasi yang kini berusia 1950-an, nama itu pernah sangat populer. Suara
emasnya yang mengalun meliuk-liuk dan mendayu-dayu ketika itu sempat
menghasilkan 20 piringan hitam.
Upit Sarimanah ialah pesinden lagu Sunda tradisional yang pernah melejit pada
tahun 1950 sampai 1960-an. Setiap kali ia manggung, ribuan penggemarnya berjubel.
Konon, pernah ada atap rumah runtuh karena terlalu banyak jelema Parahyangan
berdiri di atasnya. Mereka adalah fans berat Upit Sarimanah yang ketika itu
menjadi primadona.
Pesinden yang suaranya mengharu-biru mendendangkan lagu Bajing Luncat itu, Selasa
petang pekan lalu, meninggal dalam usia 64 tahun di Rumah Sakit al'Afiah, Cianjur,
setelah dirawat lima hari. Ia mengidap penyakit darah tinggi, diabetes, dan
komplikasi ginjal.
Sejak 1985 ia tinggal di Cugenang, Cianjur, bersama suaminya, Letkol. (Purn.) H.
Endang Surawan. Almarhumah meninggalkan dua orang anak dan tujuh cucu. Ketika
jenazahnya dimakamkan di kompleks Masjid Al-Um (milik keluarga Bupati Cianjur Edi
Sukardi), ribuan orang melayat.
Tahun 1973 ia mengundurkan diri dari kancah kesenian yang digelutinya sejak masih
gadis remaja. Ketika itu usianya baru 46 tahun -- belum terlalu tua untuk ukuran
seorang seniwati tradisional. Suaranya pun masih mendayu-dayu, dan belum
ditinggalkan penggemarnya. "Tapi saya tahu kapan saya harus berhenti,"
katanya.
Ketika itu ia baru saja pulang dari menunaikan ibadah haji. Tapi itu
tak berarti ia meninggalkan pentas sama sekali. Dengan modal nama besarnya,
Hajjah Upit Sarimanah tampil lebih mengesankan. Ia menjadi muballighat alias
wanita penganjur agama. "Dulu, saya jadi tontonan, kini memberi tuntunan,"
katanya.
Kalaupun sesekali memperdengarkan suara emasnya -- dengan fans yang
masih melimpah -- ia hanya melayani undangan keluarga atau kenalan. Dulu
rata-rata mendapat Rp 1 juta, tapi sejak menjadi hajjah ia bersedia menerima Rp
100.000. "Tidak apa-apa, itu namanya kan kerja amal," katanya. Ia mengaku
mencari "bekal akhirat".
Untuk melengkapi bekal itulah, antara lain, ia berguru agama kepada K.H. Hasjim
Adnan, juga rajin pula mendengarkan kuliah subuh Hamka melalui RRI, dan mengikuti
kursus agama di Masjid Istiqlal. Pernah menjadi kepala seksi seni Sunda RRI
Jakarta, Upit memanfaatkan sisa hidupnya untuk berdakwah ke berbagai kota di Jawa
Barat.
Bila tak ada undangan ke luar kota, seminggu dua kali ia berceramah: di Masjid
Al-Barokah yang didirikannya dan di Masjid AlUm, keduanya di Cianjur. Bahkan di
Masjid Al-Um itu ia menjadi pimpinan majelis taklimnya. Di kota kelahirannya,
Purwakarta, ia juga membangun Masjid Nurul Falah, yang ia wakafkan kepada penduduk
Gunung Lanjung.
Upit memang dikenal sebagai pesinden lagu Sunda tradisional seperti ketuk tilu
atau Cianjuran, dan lagu Sunda modern. Tapi pada awal kariernya ia juga
menyanyikan lagu-lagu keroncong, Melayu, dan Hawaiian -- tiga jenis irama yang
pada tahun 1940-an sangat populer. Kariernya dimulai ketika ia berusia enam
tahun. Ia dilatih oleh Nyonya Hermanses.
Suara lantang gadis kecil itu sempat menembus corong radio Hindia Belanda,
Nederlandsche Indische Radio Omroep alias Nirom. Namanya kian melejit ketika gadis
manis itu berangkat remaja. Dan pada usia 14 sampai 18 tahun, ia menjadi bintang
dalam orkes Hawaiian Live Java, orkes keroncong Irama Masa, dan orkes Melayu
pimpinan M. Syaugi.
Pada zamannya, 1940-1945, namanya melejit bersama bintang lain seperti Miss Anny
Landauw, Miss Rukiah Kartolo, Miss Netty. Sementara itu, pada masa revolusi
bersenjata, Upit menghibur para pejuang di daerah pedalaman. Dan tahun 1950,
suara Upit berkumandang lewat corong radio setelah Nirom menjadi RRI.
Adalah R. Tuteng Djauhari yang mula pertama menampilkan Upit. Tahun 1950, setiap
Minggu pagi, kepala seksi seni Sunda RRI Jakarta itu menggelar wayang golek di
Museum Nasional yang lazim disebut "Gedung Gajah". Di sanalah Upit tampil
bersama pesinden Titim Fatimah.
Dan di RRI itu pula ia mengabdi selama 30 tahun sebagai "tenaga kesenian" dengan
status honorer. Saat itulah ia dipersunting oleh Tuteng. Tapi mereka kemudian
bercerai, dan belakangan Upit menikah dengan Endang Surawan. Saat itu namanya
melejit bersama lagu-lagu Bajing Luncat, Ekek Paeh, Cahaya Sumirat, Kukupu, Maung
Lugay.
Lagu-lagu Sunda itu antara lain karya R.T.A. Sunarya, bekas bupati Ciamis, dan
Mang Koko, pencipta lagu Sunda Badminton yang juga sangat populer tahun 1960-an.
Tapi ketika itu Upit juga menyanyikan lagu pop, hiburan, dan keroncong bersama
grup musik terkenal seperti Nada Kentjana, Empat Nada, dan Tetap Segar.
Para budayawan Jawa Barat berpendapat, seniwati kebanggaan tanah Parahyangan ini
belum tergantikan hingga kini. "Ia adalah sesepuh kesenian Sunda," kata
Gugum Gumbira, pencipta tari jaipongan itu. Sedangkan Saini K.M., rektor ASTI
Bandung, menilai Upit "berhasil mengangkat harkat pesinden jadi lebih
terhormat".
Budiman S. Hartoyo, Ida Farida, Taufik Abriansyah
|