Citra logam dari imajinasi artistik Pelukis asri noegroho menggelar karyanya di galeri edwin, jakarta. citra
logam yang ditampilkan menawarkan pengalaman baru untuk mencari bahasa
eksprosi. ia juga melibatkan imajinasi artistik. |
SEBUAH lukisan berjudul Tentang Rajawali tidak menampilkan burung rajawali.
Dalam lukisan ini hanya bagian kepala yang bisa dikenali. Bagian lain dari
obyek lukisan yang disebut rajawali itu adalah citra kepingan-kepingan logam
yang tersusun hampir tak beraturan. Inilah salah satu dari 44 karya Asri
Noegroho yang dipamerkan di Galeri Edwin, Jakarta, 7-14 Februari pekan lalu.
Noegroho, seniman muda Surabaya berusia 38 tahun, pelukis otodidak. Ia
mengenal seluk-beluk seni lukis dari pergaulan dengan pelukis-pelukis Malang dan
Surabaya, antara lain almarhum O.H. Soepono, yang dikenalnya dekat. Dalam
beberapa tahun terakhir ini, nama Noegroho mulai muncul. Ia hampir selalu
disertakan dalam pameran berkelompok pelukis muda.
Citra logam yang tidak biasa adalah bagian yang menarik perhatian pada
lukisan-lukisannya. Menawarkan pengalaman baru dalam melihat ekspresi rupa.
Penemuan idiom (bahasa ekspresi) baru ini terjadi secara kebetulan. Awalnya
sapuan-sapuan kuas. "Waktu bekas sapuan itu saya sapu lagi, terlihat kesan
mengkilat seperti logam," kata Noegroho. Terdengar masuk akal karena pelukis ini
biasa melukis dengan sapuan-sapuan lebar.
Tidak banyak pelukis muda yang menjelajahi aspek rupa untuk mencari idiom baru.
Selain Noegroho, bisa disebut antara lain Suatmaji (memasukkan gambar ilustratif
dan kolase ke lukisan), Nisan Kristianto (mengolah elemen rupa mikro), dan Dwijo
Widyono (membangun citra binatang dari tekstur). Idiom penemuan Suatmaji dan Nisan
Kristianto pada masa kini telah menjadi idiom banyak pelukis muda. Salah satu
rinci bahasa ekspresi Suatmaji malah berkembang lagi menjadi corak lukisan
realistis yang sekarang ini ngetrend.
Pelukis muda lain -- di masa kini sedang bermunculan -- kebanyakan mengembangkan
idiom dari kecenderungan yang sudah umum. Melukis cermat (realistis), sapuan
ekspresif, garis-garis dan bidang datar, komposisi dan nuansa warna, pengolahan
tekstur, dan sebagainya. Atau, seperti tadi, memanfaatkan penemuan pelukis lain.
Memang, idiom baru hasil penjelajahan aspek rupa bukan kemutlakan pada penciptaan
karya seni rupa. Dengan teknik melukis realistis -- idiom yang sangat mapan --
pelukis-pelukis muda Dede Eri Supriya, Ivan Sagita, Agus Kamal, dan Lucia Hartini,
menggali tema. Kekhasan pada lukisan mereka kemudian terlihat pada kadar
penjelajahan ke dunia imajinasi. Sapuan kuas dan tumpahan cat yang otomativistis
dan tidak tertib (di masa lalu disebut lukisan ekspresif) menjadi ciri Nindityo
Adipurnomo dan Irawan Karseno, pelukis-pelukis muda lainnya.
Namun, penemuan idiom baru akan menjadi salah satu ukuran penting pada lukisan
yang mengutamakan penampilan artistik. Noegroho, bersama sejumlah besar pelukis
Indonesia -- termasuk pelukis muda -- berada di jalur ini. Pertambahannya
meningkat pada masa boom lukisan terjadi. Lukisan artistik ini, yang sering juga
disebut-sebut dekoratif, mudah dicerna pelihat karena penampilannya yang cenderung
cantik, artistik. Di sinilah seniman dalam mencipta dihela citra keindahan yang
umum.
Lukisan artistik mampu berkomunikasi dengan publik bukan karena bahasa
ekspresi atau makna perlambangan yang tertangkap, tapi karena kesamaan citra
keindahan. Maka, sebenarnya terbuka peluang untuk mengembangkan berbagai aspek
pada lukisan jenis ini. Ke mana pun arah perkembangan, ke dunia perlambangan
ataupun ke corak abstrak, susunan elemen rupa yang serasi akan menjaga
terjadinya komunikasi.
Terpaku pada ekspresi steriotip dan obyek yang itu-itu juga akan membuat lukisan
artistik terperangkap pada citra keindahan yang sangat umum (miskin). Pelihat
tidak mendapat pengalaman mengejutkan, yang menandakan keunggulan seniman, lalu
apa bedanya pelukis dan publik awam. Kecenderungan tidak memperkaya citra
keindahan adalah "kecelakaan artistik " hampir semua lukisan yang dijajakan di
galeri-galeri komersial. Citra keindahan peminat seni sebenarnya tidak "lurus"
seperti yang disangka pelukis-pelukis yang cepat mengalah.
Noegroho termasuk pelukis yang berusaha. Ia melibatkan imajinasi artistik. Dalam
teori seni rupa, imajinasi ini tidak dibatasi. Bisa melibatkan penguasaan teknik,
pengenalan material, kepekaan pada warna, dan juga situasi emosional. Hampir semua
aspek ini -- kecuali permainan warna yang terasa biasa-biasa saja -- menguatkan
proses penciptaan Noegroho.
Dengan citra logam yang ditemukannya, ia menghasilkan ruang imajiner. Bentuk-
bentuk cembung yang berlapis-lapis dan terkoyak atau kumpulan bentuk tak beraturan
yang membangun semacam labirin. Dua lukisannya, Tentang Kehidupanku dan Kehidupan
yang kaya permainan ruang, terkategori abstrak tapi tetap mudah dicerna.
Dalam penyusunan elemen-elemen rupa itu, Noegroho tak cuma mengandalkan mata.
Imajinasi artistik padanya dihela religiusitas. Ikan, obyek yang banyak muncul
pada lukisannya, mengandung makna simbolik. "Tuhan bisa memberi berkah
berlimpah hanya dari dua ikan dan lima potong roti," katanya menunjuk lukisan
berjudul Lima Roti dan Dua Ikan. Lukisan ini, tanpa pemahaman makna, tetap
saja artistik. Imajinasi keindahan tampil di sini. Makna, yang boleh jadi
sangat diresapi senimannya, berkaitan dengan kondisi emosi yang melahirkan
imajinasi itu. Noegroho, yang selalu tampil sederhana, dulu pelukis poster
film.
Jim Supangkat
|