Menggugat wajah nasriah Nasriah, 29, karyawati pt hm sampoerna mengajukan gugatan ke pn surabaya. ia
merasa tak mendapat imbalan dari perusahaannya. wajahnya dengan seragam
marching band dipakai iklan tanpa pemberitahuan. |
SENYUMAN manis Nasriah pada iklan rokok Sampoerna "A" Mild dipastikan akan
lenyap. Wajah wanita, kini berusia 29 tahun, yang selama ini banyak terpampang
di lembaran majalah, baliho, dan brosur-brosur rokok Sampoerna dengan pakaian
kebesaran marching band itu tak akan beredar lagi. Sebab, Nasriah kini justru
mempersoalkan penampilan wajahnya karena tak mendapat imbalan dari perusahaan
tempat ia bekerja tersebut. Lagi pula, pemasangan iklan itu, katanya, tanpa
persetujuannya.
Sabtu pekan lalu, lewat pengacaranya, Machfud, Nasriah menuntut ganti rugi Rp
200 juta pada perusahaan yang selama 16 tahun mempekerjakannya, PT H.M.
Sampoerna, Surabaya.
Di rumah kontrakannya di Kompleks Griya Mapan, Surabaya, Nasriah, yang kini
sudah berputra dua itu, menyatakan bahwa pemuatan gambarnya pada iklan itu
tanpa persetujuan dari dia. "Dulu saya hanya diminta bergaya untuk difoto
bersama teman-teman anggota marching band, dan tidak pernah diberi tahu itu
untuk keperluan pembuatan iklan," katanya.
Persoalan itu, atas saran Djono, suaminya, pernah ditanyakan pada atasannya.
Tak ada jawaban. Barulah setelah Djono maju sendiri, pada Oktober 1991, dari
PT H.M. Sampoerna menjawab Nasriah akan diberi imbalan sebagai rasa tepo sliro
sebesar Rp 500.000. Namun, Djono menganggap jumlah tersebut terlalu kecil.
Karena itu, ia meminta bantuan pengacara Machfud untuk menuntut lebih besar.
Menurut kuasa hukum PT H.M. Sampoerna, Markus Sajogo, tuntutan Nasriah tidak
masuk akal. Alasannya, model iklan pemula saja tarifnya hanya sekitar Rp
300.000. "Lain soal kalau Nasriah setenar Meriam Bellina," kata Markus. Apa
yang selama ini dilakukan Nasriah, katanya, merupakan bagian tak terpisahkan
dari prinsip timbal balik, hak dan kewajiban antara perusahaan dan buruh.
Markus tak mengerti kenapa Nasriah sekeras itu. Padahal, selama ini
perusahaan, telah banyak memberi kebahagian pada Nasriah. Kebahagiaan itu tak
akan diperoleh jika saja Sampoerna tidak mengangkat Nasriah semula tukang
linting menjadi anggota marching band.
Sebagai anggota marching band, Nasriah memang sering melawat ke luar daerah,
bahkan ke luar negeri. Seperti diketahui, marching band Sampoerna pernah dua
kali mewakili Indonesia (tahun 1990 dan 1991) dalam Tournament of Roses di
Pasadena, Amerika Serikat. Dalam dua kali turnamen itu, Nasriah, yang bertugas
sebagai colour guard, ikut serta.
Perjalanan hidup Nasriah memang mirip cerita sinetron televisi. Anak seorang
buruh tani miskin dari Desa Medaeng, Sidoarjo, itu hanya sempat sekolah kelas
VI SD. Menjelang ujian, tahun 1976, ia disuruh orangtuanya keluar dari sekolah
karena mereka sudah tak mampu membiayai. Kebetulan, pada saat itu ada lowongan
pekerjaan di pabrik rokok Sampoerna. Anak pertama dari dua bersaudara yang
masih berusia 13 tahun ini pun mendaftar dan diterima sebagai tukang gunting
yang bertugas merapikan tiap batang rokok yang baru selesai dilinting.
Tahun 1981, Nasriah naik pangkat menjadi tukang linting. Gadis yang mulai
mekar itu pun tumbuh lincah. Ia aktif di setiap kegiatan kesenian. Wajahnya
yang hitam manis, giginya yang rapi bersih selain bakat seni tentunya
menolong nasibnya untuk dipilih sebagai pemain marching band. Nasriah muncul
sebagai primadona. Ia pun semakin populer setelah perusahaan memilih wajahnya
untuk iklan rokok.
Nasib marching band itu sendiri kini tinggal kenangan, karena kesulitan
keuangan. Pada 14 Desember 1991, grup itu bubar. Bersamaan itu pula, Nasriah
mengundurkan diri. Semula ia ditawari bekerja di sekretariat perusahaan, tapi
ia menolak. Terlepas siapa yang menang, perkara ini sendiri, menurut Kepala
Humas Pengadilan Negeri Surabaya, J.M.T. Simatupang, cukup menarik. Sebab,
banyak perusahaan yang selama ini memakai karyawannya sendiri sebagai model
iklan. Persoalan semacam ini, katanya, belum disentuh dalam perjanjian
hubungan kerja. "Ini fenomena baru dalam hukum perdata kita," katanya.
Aries Margono dan Jalil Hakim (Surabaya)
|