Protes dengan bakar lukisan Sejumlah seniman di banjarmasin membakar lukisan serta naskah cerpen sebagai protes atas rencana pembangunan gedung islamic center di areal taman budaya
kalsel (tbk). |
INILAH protes gaya seniman di Kalimantan Selatan. Sekitar 20 seniman berarak
menemui pimpinan DPRD tingkat I Kal-sel di Banjarmasin, Kamis pekan lalu. Di
hadapan Ketua Dewan Ismail Abdullah, para seniman ini memprotes rencana
pembangunan gedung Islamic Centre di areal Taman Budaya Kal-Sel (TBK). Suasana
cukup tegang. Ismail mencoba menjelaskan kebijaksanaan gubernur. Terjadilah
dialog.
Di luar dugaan, Agus Suseno, seorang penyair muda, memotong: "Bapak-bapak
adalah wakil kami. Tapi ternyata cuma bisa menjadi pipa ledeng, dan tak
menyalurkan aspirasi rakyatnya," katanya. "Karena itu, inilah untuk yang
terakhir kalinya kami menginjakkan kaki di gedung ini." Agus, yang juga
pemain teater ini, segera walk out meninggalkan ruang pertemuan, diikuti
rekan-rekannya.
Sesuai "skenario", mereka segera kembali ke pangkalannya di Taman Budaya
Jalan Hasan Basri. Serentak seniman-seniman yang biasanya suka nyeleneh ini
mengerek karton bertuliskan kata "NO" di pintu masuk Taman. "Cuma ada satu
kata, tidak!" kata seseorang. Drama yang lebih heroik -- sekaligus tragis --
terjadi kemarinnya. Para seniman melakukan protes dengan membakar 30 lukisan
sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Api membubung seperti api unggun. Di
antara lukisan yang "dilambungkan ke langit" terdapat karya Rizal berjudul
Tiga Penari. Menurut Rizal, yang beberapa kali pameran di Jakarta, Yogya, dan
Ujungpandang, lukisan itu sudah ditawar Rp 2 juta. "Yah, sekarang sudah jadi
abu. Tak apalah," katanya. "Perjuangan memang memerlukan pengorbanan."
Dalam rencana, "penghangusan karya seni" itu lebih besar lagi. Sekitar 450
seniman Kal-Sel siap menghanguskan seluruh peralatan musik, gamelan, pakaian
tari, dan sejumlah piagam penghargaan jika Pemda bersikeras membangun Islamic
Centre di TBK. "Dan kami akan mengosongkan taman budaya ini," kata Ajamudin
Tifani, yang diamini rekan-rekannya.
Gertak para seniman tak mengendurkan niat Gubernur Kal-Sel, Ir. H.M. Said.
Kepada wartawan, Gubernur Said Sabtu lalu menegaskan akan tetap membangun
gedung Pusat Pengkajian Kebudayaan Islam di sebelah kanan gedung utama Taman
Budaya dengan dana APBD Rp 5 milyar. Untuk pembangunan tahap pertama, Pemda
menyiapkan dana APBD Rp 1 milyar.
Para seniman Kal-Sel bukannya tak setuju ada gedung Pusat Pengkajian Kebu
dayaan Islam. Yang jadi masalah tempatnya yang mengambil lokasi Taman Budaya.
Apalagi pengelola taman sudah punya rencana induk pembangunan yang telah
disetujui Ditjen Kebudayaan Departemen P dan K. Di sana telah berdiri gedung
olah seni dan beberapa bangunan pendukungnya, seluas satu hektare. Sesuai
dengan rencana induk, para seniman akan membangun pula wisma seni, gedung
teater tertutup, gedung pameran seni rupa, dan rumah dinas pimpinan Taman
Budaya. Jadi, "Bagaimana mungkin Pemda bisa membangun Islamic Centre di
sini," kata Agus. Lagi pula, "Apa jadinya nanti jika di Islamic Centre se
dang ada lomba azan, sedangkan di Taman Budaya ada pertunjukan ketoprak,"
kata Ajamudin Tifani.
Menurut Agus, lahan seluas 3 hektare itu merupakan tanah hibah dari Gubernur
Soebardjo tahun 1976. Gubernur telah memberikan ganti rugi kepada Perusahaan
Daerah Tanah dan Bangunan dengan harga Rp 27 juta. Kemudian, melalui Kanwil P
dan K Kal-Sel, areal itu di peruntukkan bagi Taman Budaya Kal-Sel. "Jadi,
otonomi pengelolaannya ada pada TBK," kata Agus.
Tapi, menurut Gubernur, Kanwil P dan K cuma mampu membebaskan tanah seluas
satu hektare. Sisanya ditutup oleh Pemda. Jadi, "Yang dua hektare di kiri dan
kanan Taman Budaya itu milik Pemda," katanya. Di situlah, kata Gubernur,
Pusat Pengkajian Kebudayaan Islam didirikan.
Penjelasan Gubernur ini bukannya meredakan aksi para seniman, justru semakin
menyulut aksi lebih besar. Sabtu malam, sekitar 60 seniman berkumpul kembali
di gerbang Taman Budaya itu. Mereka membacakan puisi bernada protes dan
membakar 24 buah lukisan, serta sejumlah naskah cerpen diiringi lagu Syukur.
Agus Basri
|