Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXII/17 - 23 Oktober 1992
   
Nasional

Mengafani Pohon Beringin

Sejumlah mahasiswa uns protes atas dibongkarnya bangunan keraton solo. konon adanya rencana pembangunan hotel milik PT Bimantara Siti Wasesa di bangsal keputren. sebuah petisi akan dikirim ke pemerintah.

SEJARAH rupanya tak bisa dibangun kembali. Begitu pula dengan Pekapalan dan
Pamajakan, dua buah bangunan bersejarah keraton Kasunanan Surakarta yang kini
tinggal puing-puing. Keduanya telah dirobohkan PT Benteng Perkasa Surakarta,
milik perusahaan terkenal Batik Keris (TEMPO, 10 Oktober 1992).

Kendati PT Benteng sudah berjanji akan menegakkan kembali dua bangunan itu,
aksi protes dan poster tak surut. Dimulai Selasa pekan lalu, sekitar seratus
maha siswa dari Universitas Surakarta Sebelas Maret (UNS) membungkus pagar dua
pohon beringin di alun-alun utara dengan kain putih. "Tadinya semua pohon
beringin ini akan kami bungkus, tapi dana tak ada lagi," ujar Elo, mahasiswa
Fakultas Sastra UNS Solo yang ikut menggerakkan aksi itu.

Ternyata, aksi mengafani dua beringin -- dikenal bernama "Jaya nDaru" dan
"Dewa nDaru" yang berusia puluhan tahun -- tadi mendapat sambutan. Para
pedagang dari Pasar Klewer, yang lokasinya dekat situ, anak sekolah, sampai
para tukang becak, ikut berkerumun. Mereka pun mulai menulisi kain putih
penutup beringin tadi. Salah satu berbunyi: "Sego gudeg larang regane, hotel
ngadeg bubrah kratone" (Nasi gudeg mahal harganya, hotel muncul bubar
keratonnya).

Lalu, seperti biasa dalam protes mahasiswa, ada pidato serius yang mengecam
para investor. Ada yang mencoba melawak, ada yang menyanyi. Intinya:
selamatkan keraton dari tangan investor. Aksi tiga hari itu ditutup Kamis
malam pekan lalu. Alun-alun seolah jadi pasar malam. Ada pejabat, ada seniman,
dan banyak orang berjualan. Acaranya masih itu-itu juga: membaca puisi, pidato
dan melawak. Tepat pukul sebelas malam, sebuah keranda dibungkus kain putih
dibakar. Dan lagu Padamu Negeri dinyanyikan ramai-ramai.

Ternyata, di antara para pengunjuk rasa, hadir pula G.R.A.J. Kus Murtiyah,
salah seorang putri Paku Buwono XII, yang termasuk tak setuju dengan
pembangunan hotel dan pembongkaran dua bangunan keraton. "Setelah puluhan
tahun, baru kali ini masyarakat memberi perhatian dan perduli pada keraton,"
kata Gusti Kus pada TEMPO. Malam itu dia mengenakan celana jins, jaket, dan
kerudung kepala hingga tak dikenali orang.

Dari aksi "membela keraton" itu juga lahir petisi yang konon akan segera
dikirim ke Pemerintah. Isinya: tuntutan agar UU Cagar Budaya ditegakkan,
nama-nama jalan di Solo dikembalikan seperti semula, dan alun alun utara
dijadikan pusat kegiatan masyarakat. Ini memang sudah lebih luas dari sekadar
urusan bangunan keraton.

Rupanya, ada aksi lain yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan diri
Komite Pencinta Budaya Masyarakat. Sekitar seratus orang mahasiswa bergerak ke
kantor walikota Solo, Selasa pekan lalu. Mereka menuntut agar pembangunan
rumah toko (ruko) di kompleks Masjid Agung, milik keraton Kasunanan Solo,
dihentikan. Dulunya, di lokasi itu ada sekolah dasar dan menengah agama
Mamba'ul Ulum -- yang kini telah pindah lokasi.

Namun, Wali Kota R. Hartomo berhasil meredam kemarahan pengunjuk rasa dengan
menjelaskan bahwa tukar bangun sekolah itu atas permintaan Menteri Agama
Munawir Syad zali. Mamba'ul Ulum mendapat ganti rugi berupa sebidang tanah
seluas 5.000 meter persegi di tempat lain. "Suasananya tak cocok lagi untuk
sekolah agama. Lihatlah sudah bising, berdampingan pula dengan pasar," kata
Hartomo kepada wartawan.

Belakangan ini, protes dan aksi membela bangunan keraton makin kerap terjadi.
Barangkali yang bisa dianggap sebagai pemicunya adalah pembangunan hotel milik PT
Bimantara Siti Wasesa dari Group Bimantara milik Bambang Trihatmojo di Bangsal
Keputren. Agustus lalu, PB XII sudah menyetujui pembangunan hotel itu. Namun, tiga
putrinya melakukan protes dan bahkan mengancam mogok makan.

PB XII setuju karena pembangunan hotel itu dapat menambah pemasukan untuk
keraton yang cuma mendapat subsidi Rp 6 juta setahun dari Pemerintah. Untuk
pemeliharaan, keraton hanya mendapat penghasilan dari karcis turis yang
berkunjung Rp 600 seorang. "Itu pun dipotong retribusi Pemda 25 persen,"
kata putri keraton, Murtiyah. Padahal, keraton mesti menggaji sekitar 600
karyawannya. Gaji terendah saat ini Rp 3.000.

Nah, belum lagi protes para putri selesai, muncul lagi urusan Pekapalan dan
Pamajakan. Dua bangunan ini letaknya di sebelah ujung utara dari alun-alun.
Konon, bangunan tersebut adalah tempat berkumpulnya para bupati dan patih
sebelum menghadap raja. Sedangkan Balai Agung, tempat yang kini digantikan
ruko itu, pada zaman dahulu kala adalah balai musyawarah antara putra raja,
abdi, dan rakyat. Bangunan-bangunan ini adalah kelengkapan dari kompleks
keraton yang didirikan oleh Paku Buwono II sekitar 250 tahun yang lalu.

PT Benteng Perkasa Surakarta sekitar empat tahun lalu bekerjasama dengan
Kodam Diponegoro untuk mendirikan markas, perumahan, mes perwira tinggi dengan
imbalan Benteng Vastenburg yang letaknya bersebelahan dengan keraton. Di
lokasi bekas benteng Belanda itu kini sudah berdiri hotel dan sejumlah
bangunan bisnis.

Ada kesepakatan antara PT Benteng dan keraton, bahwa perusahaan milik Batik
Keris itu akan membangun jalan tembus yang menghubungkan pertokoan dan
alun-alun. Tapi, yang terjadi, pelaksana pembangunan main gempur hingga dua
bangunan keraton tadi jadi puing-puing. Ini yang menyulut protes tadi.

Toriq Hadad (Jakarta) dan Kastoyo Ramelan (Solo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data