Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XXIIIIIII/06 - 12 Oktober 1998
   
Daftar berita Investigasi
"Jumlah Korban Bisa Bertambah"
Romo Sandyawan Sumardi rupanya sedang puasa bicara kepada pers. Apalagi jika ditanya soal kasus pemerkosaan medio Mei. "Agar suasana mendingin dulu," katanya. Padahal, gelombang kontroversi memang berpusar kencang di sekeliling sekretaris Tim Relawan untuk Kemanusiaan ini. Romolah yang pertama kali berani bicara lantang: jumlah korban pemerkosaan mencapai 168 orang--dan reaksi internasional pun memojokkan pemerintah. Bagaimana Romo sampai pada kesimpulan itu? Berikut penuturannya kepada Iwan Setiawan dari TEMPO, akhir September lalu. 
Mona, di Balik Seprai Kembang
Fannie Gunadi--namanya sengaja kami samarkan--memang bukan orang terkenal. Bukan pula seorang aktivis atau tergabung dalam tim sukarelawan. Ia hanya ibu rumah tangga biasa dengan sepasang anak yang tengah berangkat dewasa. 
Jalan Panjang Tragedi Itu
Kontoversi pemerkosaan Mei belum berakhir. Juga, perdebatan yang meragukan cara kerja Tim Relawan. Oktober ini, TGPF akan membuka fakta-fakta penemuannya. 
Susah Mencari Saksi Ahli, Apalagi Bukti
Kasus pemerkosaan sulit dibuktikan. Rahasia korban harus dijaga. Bagaimana dengan penyerangan seksual? 
Tragedi Cina Benteng
Kampoeng Djoearingan, Tangerang, Juni 1946. Ternjata di sini banjak orang-orang lelaki jang telah diboenoeh, samentara tida sedikit gadis-gadis telah diperkosa oleh itoe sekawanan srigala beroepa manoesia. 
Setiap Bertemu dengan Lelaki, Anak Yatim Itu Histeris
Nama Anton Indracaya tak asing lagi bagi penggemar sinetron. Ia juga menjadi pemandu acara Problematika Seks dan Keluarga di sebuah stasiun televisi swasta. Muslim keturunan Cina kelahiran 45 tahun lalu itu mendampingi delapan korban pemerkosaan saat kerusuhan Mei lalu. Pria bertubuh subur yang punya banyak kenalan dokter ini lalu membeberkan kesaksiannya kepada TEMPO pekan lalu. 
Pemerkosaan: CERITA & FAKTA
Kasus ini begitu merisaukan. Kepentingan banyak orang dipertaruhkan, juga nasib korban. Jika para dokter terus-menerus diam dengan pelbagai alasan, usaha kampanye antipemerkosaan akan rontok. 

 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data