Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Monitor

Habibie Cukup Sampai Sidang Umum Saja

Habibie dinilai gagal menjalankan fungsinya sebagai presiden. Tapi ia tetap dipercaya sampai SU MPR tahun depan.

Burhanudin Jusuf Habibie boleh terus menjadi Presiden Republik Indonesia. Namun, pada Sidang Umum MPR hasil pemilu tahun depan, ia harus diganti oleh presiden yang baru.

Sebagian besar responden jajak pendapat mengatakan, pemerintahan Habibie tak lepas dari bayang-bayang rezim Soeharto yang korup. Selain itu, di mata responden, wajah pemerintahan Habibie memang masih jauh dari rapi. Dari enam pertanyaan berdimensi ekonomi dan politik yang dilontarkan untuk mengevaluasi kinerjanya, hampir semua responden menilainya negatif. Penilaian paling positif yang diberikan hanya pada keseriusan Habibie mempersiapkan Sidang Istimewa MPR bulan depan.

"Habibie memang sulit untuk mengatakan dirinya bersih dari rezim Soeharto. Ia terlibat KKN. Habibie menjadi penting hanya karena ia telah menggantikan Soeharto," kata Santi, responden yang berdomisili di Cipinangmuara, Jakarta Timur. Karena itulah, menurut Santi, peluang Habibie untuk kembali terpilih sebagai presiden dalam Sidang Umum MPR tahun depan kecil.

Memang, banyak responden melihat bahwa Habibie berupaya menjaga posisinya. Terpilihnya Akbar Tandjung sebagai Ketua Umum Golkar beberapa waktu lalu dipercaya banyak orang sebagai langkah Habibie membuat pagar pengaman.

Tapi, menurut responden, semua langkah itu tidak banyak manfaatnya. Lebih dari tiga perempat responden percaya, Habibie tidak akan terpilih kembali sebagai presiden tahun depan. Hanya seperempat yang menjawab sebaliknya.

Alasan utama mereka yang yakin Habibie tidak akan menjadi presiden lagi, ia tidak didukung rakyat. Habibie juga dianggap gagal menyembuhkan ekonomi Indonesia yang lunglai akibat tamparan krisis moneter.

Tapi Santi punya alasan lain. Menurut dia, kecilnya peluang Habibie kembali menjadi presiden lebih karena, "Habibie punya pesaing yang lebih populer di mata masyarakat, misalnya Megawati."

Di pihak lain, mereka yang optimistis bahwa Habibie masih punya kesempatan menjadi presiden menilai, Bung Rudy ini memiliki visi ke depan untuk menyelamatkan bangsa.

Apa pun perdebatannya, responden menilai pemerintahan Kabinet Reformasi Pembangunan adalah pemerintahan transisi. Dan responden menginginkan pemerintahan ini berakhir seusai SU MPR 1999 digelar. Mereka tak setuju ada yang mendongkel Presiden Habibie sebelum SU MPR itu. Bagi responden, Sidang Istimewa MPR yang akan digelar November nanti bukan momen yang tepat untuk mengakhiri pemerintahan Habibie. Gagasan mengganti Habibie dengan semacam presidium tokoh masyarakat dalam bentuk Majelis Rakyat juga dianggap tidak tepat.

"Dalam keadaan kacau seperti sekarang, sebaiknya kita mengikuti aturan yang ada. Pergantian kekuasaan melalui cara kekerasan hanya akan memperburuk keadaan," kata Prasetyo, responden dari Kramatjati, Jakarta Timur. Dan jangan-jangan, pergantian itu malah membuat jadwal pemilihan umum dan SU MPR menjadi mundur lagi.

Sekarang tinggal menunggu bagaimana pemilu tahun depan diselenggarakan. Jika pemilu bisa berlangsung bebas, jujur, dan adil, akan lahir parlemen dengan wajah kerakyatan. Dari sinilah Sidang Umum MPR akan menentukan apakah peran pria Parepare ini sebagai presiden sudah cukup atau bisa diteruskan. Bukan begitu, Bung Rudy?

Arif Zulkifli

Penelitian ini dilakukan Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 499 responden di 25 kelurahan di lima wilayah DKI pada 5-11 Oktober 1998. Dengan jumlah responden tersebut, tingkat kesalahan penarikan sampel (sampling error) diperkirakan lima persen.

Penarikan sampel dilakukan dengan metode random bertingkat (multi-stages sampling) dengan unit analisis kelurahan, rukun tetangga (RT), dan kepala keluarga (KK). Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi antara wawancara tatap muka dan wawancara via telepon.


INFO GRAFIS

Penilaian tentang pemerintahan Habibie

 SetujuTidak setuju
Habibie bagian dari rezim Soeharto80%20%
Habibie tidak tegas mengambil keputusan72%28%
Habibie tidak didukung rakyat70%30%
Habibie gagal menanggulangi krisis63%37%
Habibie tidak memiliki program kerja yang jelas49%51%
Habibie tidak serius mempersiapkan SI MPR43%57%

Akankah Habibie terpilih kembali sebagai presiden setelah Pemilu 1999?

Tidak: 76%
Ya: 22%
Tidak menjawab:2%

Alasan Habibie akan terpilih kembali

Habibie memiliki visi ke depan: 58%
Habibie memiliki banyak pendukung: 55%
Habibie untuk sementara berhasil
menyelesaikan krisis ekonomi
:43%

Alasan Habibie tidak akan terpilih kembali

Habibie tidak didukung rakyat: 71%
Habibie gagal menghapus kesan
sebagai bagian dari rezim Soeharto
: 61%
Habibie gagal menyelesaikan

krisis ekonomi
:57%

Kapan pemerintahan pasca-Habibie dimulai?

Setelah SU MPR pasca-Pemilu 1999: 60%
Setelah SI MPR November 1998:28%
Sebelum SI MPR November 1998:9%
Lain-lain: 2%


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data