Quo Vadis Musik Indonesia? |
Sementara tiga tahun lalu hanya musik dan tari yang dikedepankan, Art Summit Indonesia kali ini juga menampilkan acara teater. Porsi musik ada delapan acara, sedangkan tari hanya empat; demikian pula teater--yang masih harus dikurangi satu karena El Warsha dari Mesir batal datang. Kedelapan acara musik merupakan komposisi tersendiri: dua tampilan Indonesia (Tony Prabowo dan Suka Hardjana), dua komponis wanita (Jin Hi Kim dari Korea dan Kaija Saariaho dari Finlandia), tiga komponis asing lainnya (Alvin Lucier dari Amerika, Theo Loevendie dari Belanda, dan Toshi Tsuchitori dari Jepang), serta kelompok Musicatreize dari Prancis, yang mementaskan karya beberapa komponis (Prancis dan yang lain). Jin Hi Kim dan Toshi Tsuchitori melibatkan pemusik Indonesia dalam upayanya menjalin silang budaya. Jin Hi Kim menekankan improvisasi kolektif sebagai ritus persamaan hak para pemain yang berbeda asal usulnya (Korea, Tiongkok, Senegal, Amerika, dan Indonesia). Toshi Tsuchitori dengan drum koretsuzumi merujuk dua zaman yang sudah terpisah selama 13 abad. Begitu pula Alvin Lucier, yang melibatkan berbagai instrumen gamelan dan orang Indonesia yang mengajar karawitan di Universitas Wesleyan, tapi dengan sasaran yang sulit batasnya antara seni, ilmu, atau metafisika. Ini menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa untuk menyentuh seni pada sisinya yang paling mendasar dan justru karena itu luput dari minat para seniman. Lain lagi silang budaya yang dilakukan Theo Loevendie. Musik Loevendie hampir tidak tampak secara jasmaniah, tapi dapat dirasakan persenyawaannya dengan musik Timur Tengah, terutama Turki. Dan dari karya tiga orang komponis yang pernah diasuhnya, terlihatlah perannya sebagai guru yang telah membantu mereka menemukan diri sendiri. Singkat kata, acara-acara musik dalam Art Summit mencerminkan keserbaragaman dunia cerdas yang saling menghormati satu sama lain. Dari pemandangan musik seperti itu, di mana kedudukan musik Indonesia, setidaknya yang terlihat dalam festival yang diselenggarakan setiap tiga tahun itu? Tony Prabowo, di antara komponis seangkatannya, termasuk minoritas di antara "minoritas" yang paling produktif, konsisten, dan punya nasib baik. Berawal sebagai komponis "latar belakang" untuk mengiringi tari, teater, dan pameran seni rupa, beringsut masuk ke karya kolektif multimedia dan bikin musik untuk sajak, akhirnya ia menjadi mandiri sebagai komponis yang laku di Amerika, Belanda, dan Inggris. Suatu nasib baik bahwa Tony didukung oleh berbagai sarana yang "maut". Seorang Josefino Chino Toledo, salah seorang konduktor hebat, terbang dari Manila, membuat Orkes Simfoni ISI Yogya serta-merta menjadi orkes pertama di Indonesia yang berbunyi sebagaimana layaknya sebuah orkes. Tony juga didukung oleh pemain biola (alto) Stephanie Griffin, yang belum ada tandingannya di Indonesia, dan The New Jakarta Ensemble, dengan instrumentasi yang bikin ngiler. Semua ini masih diperkuat dengan manajer yang sekaligus promotor, Adila Suwarmo, yang berpengalaman. Kemewahan seperti ini sebenarnya tidak begitu saja jatuh dari langit. Di samping nasib baik, perjalanan panjang yang naik turun ikut mengantarkan Tony ke situ. Antara pemahaman dan kefasihan dalam musik yang paling mutakhir, Tony lebih mengutamakan apa yang paling berkesan di hati. Maka, tidak mengherankan kalau musiknya yang diperuntukkan buat orkes, dari Dongeng Sebelum Tidur sampai Autumnal Steps, masih berbau Pierrot Lunaire (Schoenberg), kadang-kadang Messiaen, atau malah Bernstein. Kemampuannya dalam teknik orkestrasi belum disertai tawaran pemikiran yang baru tentang instrumen yang mahal itu. Dalam Benang Merah-1 untuk biola dan ensambel instrumen-instrumen tradisi dari berbagai penjuru, Tony merasa lebih leluasa mengemukakan dirinya. Karya ini jauh lebih matang dari Benang Merah-II, yang sepertinya hanya seonggok gagasan musik yang tidak jelas mau diapakan. Virtuositas Stephanie Griffin tidak menebus roh yang gentayangan dan unsur rekaman tape mengingatkan kita pada percobaan di studio musik elektronik tahun 1960-an. Sebaliknya, tata panggung Boi G. Sakti memberikan sumbangan visual yang berarti. Satu kenyataan bahwa sebagai seniman--yang sudah kodratnya menjadi semacam anak yatim piatu di tengah masyarakat yang sibuk dengan diri sendiri--Tony sudah melakukan apa yang harus dilakukan: menempuh jalannya sendiri yang pas. Komponis lain yang ditampilkan Indonesia dalam festival ini ialah Suka Hardjana. Orang lebih mengenalnya sebagai kritikus yang tajam. Esai-esainya penuh dengan pikiran yang cemerlang. Namun, tidak banyak orang yang sempat mendengarkan musik dia sebagai pemain klarinet. Dan banyak yang meragukannya sebagai komponis karena memang ia jarang tampil dengan peran itu. Suka Hardjana tidak punya sarana seperti Tony Prabowo. Ia hanya didukung oleh solidaritas yang tinggi dari sahabat-sahabatnya, baik yang dari STSI Surakarta yang terlibat langsung dalam pergelarannya maupun mereka yang punya ikatan batin dengannya. Maka, istrinya pun sangat sedih ketika, ternyata, sedikit sekali penonton yang datang pada hari pertama pementasannya. Ia hanya menyajikan dua karya yang panjangnya masing-masing satu jam. Maka, istirahat, yang menjadi kelaziman sebuah pertunjukan, mendadak terasa bukan lagi sebagai basa-basi bagi acara musik Suka, yang begitu kuat menyerap perhatian. Wulan, yang dibuat pada 1994, berawal dari niat kerja sama dengan sutradara Garin Nugroho untuk filmnya, Bulan Tertusuk Ilalang, dan sejak semula tidak dimaksudkan sebagai pengiring film, melainkan sejajar dengan gambar dan ceritanya. Suatu karya yang anggun tidak mempertentangkan yang lama dan yang baru. Semua ada di situ dengan damai. Dimulai dengan seseorang yang sendirian memainkan seperangkat kenong tanpa ada rasa tergesa. Berakhir pun, nantinya, dengan seseorang yang sendirian tinggal di panggung memainkan rebab seperti sukma yang berpamitan kepada badan-wadag (panggung). Di antara kedua ujung itu ada kehidupan bunyi, sebagaimana lazimnya gamelan, tapi terselip banyak sekali ketidaklaziman yang tidak mengganggu, misalnya gerongan yang menyuarakan lapisan suara yang berbeda-beda dan terkadang bersilangan, sembilan rebab mengeng bersama, dan pemain yang berpindah-pindah untuk memainkan instrumen yang lain. Perubahan dari bagian ke bagian lainnya sangat lentur. Hanya pada awalnya terasa ada beberapa rongga yang mati rasa karena perubahan itu terjadi pada saat yang kurang tepat. Bamban, karya terbaru (1998), diilhami oleh tiga hal, yakni sajak Danarto Adam Ma’rifat, genta perdamaian The Bells of Hiroshima, dan proses pembuatan instrumen gamelan. Suka Hardjana terpanggil untuk menoleh ke hakikat: bahwa bunyi yang kemudian diisi budaya berasal dari ketelanjangan dan bahwa bunyi yang masih lugu itu sebenarnya punya peradabannya sendiri. Maka, kitalah yang perlu mengubah pola pikir agar mampu menangkap kearifan yang sudah terkandung dalam kebersahajaan bunyi, bukan malah mendiktenya. Penonton menunggu peristiwa di panggung, tapi yang terjadi hanyalah keheningan yang ditimbulkan oleh bunyi gong yang sayup-sayup di luar tempat pertunjukan. Bunyi tadi berulang setelah lama diam. Gong lainnya terdengar. Diam lagi. Orang dibuatnya terus-menerus menunggu bunyi berikutnya, sampai akhirnya terbiasa sendiri menghayati waktu yang diam, seperti halnya ruang yang tidak bergerak. Kemudian, dengan sangat lamban, keadaan berubah menuju dadi (mewujud) menjadi "normal", untuk akhirnya kembali perlahan-lahan pada hakikat yang nirwana. Karya ini akan semakin dahsyat seandainya bagian dadi tersebut tidak dibiarkan terlalu utuh seperti pulau yang mengapung di tengah ketiadaan. Masih tersisa dua masalah yang paradoksal, arti penting dari ketiadaan dan makna sesungguhnya yang tersembunyi di balik kehidupan. Slamet Abdul Syukur
|