Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
   
Nasional

Penyakit Hati, Bukan Santet

MASALAH santet hingga kini belum bisa dibuktikan secara medis. Maka seorang dokter kepala puskesmas Desa Badekan, Banyuwangi, Sri Lestari, pun berujar, ??Mau percaya ya gimana, tidak percaya kok banyak yang percaya.??

Namun, dari pengalamannya menangani pasien yang mengaku kena santet, sebenarnya mereka sakit biasa saja. Ada yang ia diagnosis terkena penyakit mata (glukoma), tetanus, atau terkena penyakit liver. Penyakit yang terakhir ini rupanya banyak diderita penduduk Banyuwangi. Terkadang, dalam sehari Sri mendapat 10 pasien yang livernya terganggu. Tanda-tandanya jelas, perut membengkak seperti busung lapar. Repotnya, gejala itulah yang dipercaya penduduk sebagai penyakit yang disebabkan santet. Padahal, gejala seperti ini, selain bisa diakibatkan penyakit liver, dapat juga karena sakit jantung atau ginjal.

Tapi sebenarnya para dokter di sana kerap juga menerima kasus yang aneh dari segi medis. Pernah, Solakhudin, dokter umum di Rumah Sakit Umum Blambangan, Banyuwangi, menerima pasien yang datang dengan perut bengkak. Sudah dironsen dan diperiksa dengan teliti, tak ditemukan satu penyakit pun. Si pasien percaya ia "dikerjai" orang. Tentu, sebagai dokter, Solakhudin tak percaya begitu saja. "Saya curiga ia menderita tumor perut," katanya. Sayang, kecurigaannya tak bisa dibuktikan karena si pasien tak bersedia memeriksakan diri ke rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap. Kalau sudah begini, tentu santet tetap dipercaya sebagai penyebab penyakit tersebut.

Lucunya, tak hanya manusia yang dipercaya masyarakat bisa kena santet, tapi juga binatang. Di Desa Sukojati, Kabat, ada empat orang yang dibunuh karena dituduh sering menyantet ternak. Tanda-tandanya, sapi dan kerbau itu mencret dan kejang sebelum mati. Penjelasannya? ??Itu karena demam,?? ujar Sujarno, mantri hewan yang sudah 14 tahun bertugas di Kecamatan Kabat.

Gabriel Sugrahetty (Jakarta), Agus S Riyanto, Zed Abidien (Banyuwangi)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi - 23 Jul 2008 | 21:35 WIB
Industri Mulai Geser Hari Kerja - 23 Jul 2008 | 21:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data