Aksi Borong, Siapa Sokong? Pasar saham makin seru. Harga saham di bursa Jakarta ramai-ramai merayap naik. Ada yang curiga pemerintah ikut bermain. Benarkah? |
BISNIS tak selalu hitam-putih. Di tengah gelombang tindak kekerasan, tragedi Semanggi, dan kerusuhan rasial, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru lancar smelenggang. Setelah sebulan bertahan di posisi 300-an, indikator yang merekam pergerakan harga saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) itu melambung hingga 434angka tertinggi sejak enam bulan terakhir. Ini agak ganjil. Soalnya, biasanya IHSG langsung merosot begitu ada kerusuhan.
Lompatan harga saham ini langsung memancing optimisme: bursa saham punya jalan sendiri dan, boleh jadi, kebal huru-hara. Berkibarnya indeks harga saham sebenarnya terasa klop dengan nilai tukar rupiah yang tetap anteng di kisaran Rp 7.000 - 8.000 per dolar. Dan, karena rupiah anteng lantaran ''intervensi" Bank Indonesia, bukankah tidak mustahil IHSG melejit juga gara-gara kena dongkrak? Spekulasi pun merebak: pemerintah ikut membeking kenaikan harga saham
Kepala Riset Pentasena Securities, Mohamad Syahrial, termasuk yang percaya ada the invisible hand yang mengatur menanjaknya IHSG. Motifnya sederhana: mengukuhkan klaim bahwa fundamental perekonomian sudah membaik. Ujungnya, hal ini bisa dijadikan bukti bahwa kinerja kabinet Habibie cukup jitu.
Caranya? Agar kelihatan lebih mulus, tentu tak bisa ''mengobok-obok" secara langsung, tapi dengan meminjam tangan investor asing. Kebetulan, sejak awal Oktober lalu, sebagian kecil investor asing lebih giat bermain saham ketimbang sebelumnya. Nah, pemanfaatan para pemodal asing ini bisa memicu efek ganda. Pertama, lantai bursa bakal menghangat karena biasanya investor lokal juga turut kesetrum. Kedua, kalau permainan saham ini ternyata membawa untung, pemerintahyang menyediakan modaljuga kebagian. Singkatnya, ''Pemerintah sekarang tambah pintar," kata Syahrial.
Tapi, benarkah begitu? Beberapa analis sekuritas asing yang dihubungi TEMPO tidak sependapat. Seorang analis yakin, pemerintah tak bisa gegabah mengintervensi bursa karena terus diawasi Dana Moneter Internasional (IMF). Lagi pula, saham tergolong investasi yang padat risiko dan butuh ongkos tinggi. Sehingga, kata analis tadi, ''Pemerintah tak mungkin punya nyali mempertaruhkan banyak uang di bursa saham."
Analis lain menunjuk kenaikan harga saham yang hampir merata sebagai indikator tiadanya unsur campur tangan. Analis ini yakin, bila memang ada intervensi, lonjakan harga hanya akan terjadi pada saham yang punya andil besar terhadap perhitungan IHSG, misalnya: Indosat, Telkom, dan Gudang Garam. Kalau ketiga saham ini disentil sedikit, IHSG pasti melonjak. Singkat kata, kalau mau mendongkrak indeks, ''Tak perlu susah-susah mengatrol harga saham 160 perusahaan," katanya.
Laksono Widodo, analis ING Baring Securities, berpendapat senada. Ia percaya, lonjakan indeks merupakan berkah dari tren turunnya suku bunga dunia. Akibatnya, para pengelola duit investasi kembali melirik bursa saham Asia, termasuk Indonesia. Ia yakin, investor asing masuk ke bursa Asia dengan alasan fundamental.
Laksono memberi contoh. Astra Internasional, misalnya, harga sahamnya melonjak 123 persen setelah mendapat suntikan kredit dari Daihatsu dan melakukan negosiasi utang dengan kreditur. Indofood, yang merundingkan penjualan Bogasari, harga sahamnya naik 136 persen ketimbang sebulan lalu. Indosat juga begitu. Pada awal Oktober, harganya cuma Rp 7.400. Tapi pekan lalu sudah Rp 14.400, hampir dua kali lipat. Lonjakan ini terjadi karena tarif telepon internasional akan dinaikkan sampai 69 persen.
Namun penjelasan ini belum memuaskan penganut teori intervensi. Maklumlah, kadar ketakpastian ekonomi dan politik di Indonesia begitu besar. Kerusuhan masih meletup di sana-sini, kebijakan pemerintah berubah-ubah. Apalagi, perbandingan utang dan aset perusahaan publik bak pepatah besar pasak daripada tiang. Utang luar negeri perusahaan yang tercatat di BEJ mencapai US$ 20 miliar. Padahal, nilai pasar seluruh penghuni bursa cuma US$ 16 miliar.
Walhasil, mereka yang percaya teori intervensi tetap tak yakin: benarkah pasar modal benar-benar menggoda investor asing?
Banyak jawaban. Bagi Laksono, dalam tiga bulan ke depan, suhu politik akan relatif anteng. Bulan Ramadan, Natal, dan Lebaran merupakan faktor pendingin yang tak bisa diabaikan. Nah, bila stabilitas nilai rupiah bisa dipertahankan, investor asing akan tetap nyaman bermain menanam uang di pasar modal. Itu sebabnya, Laksono optimis, ''IHSG untuk tiga bulan ke depan mungkin mencapai 450."
Usai Maret 1999, iklim politik bisa memanas. Kampanye 108 partai politik menyongsong pemilu 1999 berpotensi membuat Jakarta mendidih. Bagi para investor asing, potensi risiko ini tak perlu dirisaukan jauh-jauh hari. Bila jarum bergerak ke arah bahaya, ''Setiap waktu saham bisa dilepas kembali," kata Laksono. Setiap saat, investor bisa hit and run, mencari keuntungan jangka pendek.
Sebagian analis melihat ada kelompok kepentingan yang sengaja memanaskan bursa untuk keuntungan sendiri. Yang jadi sasaran biasanya saham cepekan, harganya ratusan perak. Menurut Edhi Widjojo, Kepala Riset Mashill Securities, saham-saham itu dibeli pagi dan dilepas sore hari. Agar bisa memacu minat beli investor lain, biasanya para spekulan ini meniupkan gosip hangat. Istilah bursanya: menggoreng saham.
Contohnya, dua pekan lalu bertiup kabar bahwa Grup Artha Graha (milik Tommy Winata) berniat membeli perusahaan publik milik Keluarga Cendana. Kontan saja, saham CMNP (milik Siti Hardiyanti Rukmana), Bimantara (milik Bambang), dan Humpuss Intermoda (milik Hutomo Mandala Putra), diserbu pembeli. CMNP, misalnya, dua pekan lalu harga sahamnya cuma Rp 125, sepekan kemudian sudah Rp 300.
Untung yang bisa diraih dalam permainan goreng-menggoreng ini amat lumayan. Hitung saja. Dalam hal saham CMNP tadi, investor yang menungganginya bisa meraup laba hampir 150 persencuma dalam sepekan. Deposito mana yang bisa berbiak secepat ini?
Berminat? Jangan keburu nafsu. Edhi memberi tips, permainan goreng-menggoreng saham butuh satu syarat mutlak: terbiasa dengan sport jantung. Soalnya, permainan ini bukan cuma menghadiahkan keberuntungan, tapi juga kebuntungan. Misalnya, dalam empat hari satu saham harganya naik terus. Dari Rp 200 sampai Rp 500. Pada hari kelima, Anda ikut masuk. Beli. Eh, tak lama kemudian, para spekulan ramai-ramai melepas saham. Harganya jatuh sampai Rp 150. Jeblok, kan?
Selain memborong saham gurem, ada lagi motif borong saham yang lain. Menurut Lin Che Wei, Kepala Riset Socgen Global Equities, model ini didalangi pemilik mayoritas saham publik. Para pemilik inilah yang sebenarnya membeli saham perusahaannya sendiri. Praktek buy back ini tujuannya jelas: memancing minat beli investor agar kapitalisasi pasar perusahaan ikut terdongkrak. Tujuannya dua. Satu, menaikkan posisi tawar pemilik perusahaan dalam perundingan utang. Dua, melicinkan prosedur penjualan saham baru alias right issue. Ini biasanya berlaku bagi perusahaan yang right issue-nya terganjal karena harga sahamnya di bawah harga nominal.
Singkat kata, ada banyak kepentingan mengapa harga saham naik. Banyak alasan mengapa saham-saham diborong. Lepas dari pelbagai motif itu, naiknya IHSG membawa kesegaran dalam perekonomian. Cuma, persoalannya: bisa bertahan awet, kagak?
Mardiyah Chamim, Dwi Arjanto, Dewi Rina Cahyani
|