Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Ekonomi dan Bisnis

Jika Anggaran Tersedak Minyak

Harga minyak mentah mencapai tingkat terburuk dalam 12 tahun terakhir, dan akan terus menurun. OPEC tak berdaya. Bagaimana Pertamina?

HARGA minyak kembali tergelincir. Komoditi strategis ini harganya terus melorot tanpa bisa direm. Pekan lalu, tiap barel minyak hanya dihargai US$ 9,8—suatu tingkat terburuk sejak 1986. Saat itu, harga minyak yang sempat mencapai US$ 25 per barel tumbang hingga tinggal US$ 9. Akibatnya, pemerintah kelabakan mencari sumber dana lain untuk menutup target penerimaan migas yang Rp 9,7 triliun. Ali Wardhana, Menteri Keuangan saat itu, sampai mendevaluasi alias memotong nilai rupiah hingga 45 persen. Tapi toh target penerimaan tetap tak terkejar.

Meskipun tak sedramatis cerita tahun 1986, petaka minyak tahun ini juga berbuntut pada penyesuaian anggaran. Awalnya, APBN 1998/1999 mematok harga per barel minyak US$ 17. Kemudian, pada pertengahan tahun, APBN direvisi dengan harga minyak US$ 13 per barel. Namun ternyata patokan itu pun tetap membuat pemerintah kecele. Harga minyak terus merosot.

Akibatnya, pendapatan dari minyak yang diharapkan bisa mencapai Rp 32,9 triliun hampir mustahil bisa tercapai. Sejumlah analis memperkirakan, dengan terus merosotnya harga minyak plus menguatnya nilai tukar rupiah belakangan ini, pemasukan minyak cuma akan terpenuhi dua pertiga dari target.

Belajar dari pengalaman ini, tim perancang APBN 1999/2000 (yang akan berlaku tahun depan), tampaknya harus superhati-hati. Sejauh ini, tim—yang terdiri dari unsur Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Departemen Keuangan—berasumsi bahwa harga minyak tahun depan akan mencapai US$ 12 per barel, dengan harapan pasar minyak dunia bakal membaik. Namun, menurut Asitha de Silva, analis industri minyak dari Socgen Global Equities di Jakarta, asumsi ini terlampau optimistis. Menyimak tren saat ini, De Silva yakin harga minyak tahun depan masih bertahan di angka US$ 10 - 11 per barel.

Sebenarnya, perkiraan lebih pesimistis juga banyak muncul. Jeremy Hudson, analis Salomon Smith Barney, misalnya, meramalkan jumping minyak bakal terus berlanjut sampai kisaran US$ 7 - 8 per barel. Menteri Minyak Kuwait, Sheikh Saud Al-Sabah, usai pertemuan musim dingin Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Wina dua pekan lalu, bahkan meramalkan harga yang lebih buruk. Dalam beberapa bulan mendatang, kata Sabah, "Harga minyak cuma lima sampai tujuh dolar per barel."

Kekhawatiran Sabah agaknya beralasan. Tak ada satu pun kondisi obyektif yang bisa mendongkrak harga minyak. Aliansi perusahaan minyak kelas dunia: Exxon dan Mobil Oil, serta British Petroleum dan AMOCO, baru-baru ini membuat posisi tawar pembeli kian kuat. Ujung-ujungnya, harga minyak dipastikan tak bakal banyak beringsut dari US$ 10 - 11 per barel.

Selain itu, ada satu faktor lain yang cukup berarti: permintaan minyak dunia yang melemah akibat krisis di berbagai negara. Menurut catatan Socgen, permintaan minyak dunia turun 6 - 7 persen ketimbang setahun lalu. Di lain pihak, pasokan minyak dunia justru sedang luber. Venezuela dan Iran, misalnya, membuat produksi OPEC kelebihan 500 ribu barel tiap hari di atas target yang disepakati. Tak hanya itu. Pasar dunia juga dibanjiri minyak dari Irak, yang belakangan dibolehkan PBB mengekspor minyak hingga senilai 5,2 miliar dolar. Bila tadinya hanya mengekspor 600 ribu barel tiap hari, kini Irak mengekspor satu sampai 1,2 juta barel per hari.

Sayangnya, di tengah ketimpangan pasok dan permintaan itu, organisasai pengekspor minyak dunia, OPEC, tak sanggup berbuat banyak. Pertemuan musim dingin bulan lalu gagal menyepakati pengurangan produksi. Saudi Arabia, misalnya, menolak memangkas produksi selama Venezuela dan Iran tetap melanggar kesepakatan. Sementara itu, kedua negara pelanggar merasa berhak memproduksi berlebih guna mendongkrak kondisi perekonomian mereka yang memburuk.

Bila ingin harga minyak tetap terjaga, menurut mantan sekjen BPEC Soebroto, negara-negara pengekspor minyak harus mengembalikan pamornya. Diplomasi ekstrakeras dibutuhkan untuk merayu negara non-OPEC—terutama Norwegia dan Inggris—mengurangi produksi minyak. Bagi dua negara industri ini, penerimaan dari sektor minyak tak terlalu dominan. Padahal, bagi negara berkembang seperti Indonesia, minyak masih menjadi tulang punggung pendapatan.

Langkah lain, menurut Soebroto, adalah membujuk negara-negara non-OPEC—seperti Argentina, Meksiko, Cina, dan Oman—untuk bergabung. Dengan berada dalam satu payung organisasi, kepentingan untuk menjaga harga minyak akan lebih terasa. Tanpa upaya mengembalikan "gigi" OPEC, harga minyak yang di atas US$ 20 per barel cuma tinggal kenangan.

Mardiyah Chamim, Agus Hidayat, Dwi Arjanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data