Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/XXIIIIIII/08 - 14 Desember 1998
   
Galeri

Galeri

Teater dan Film


KAUM Perempuan merespons tindakan kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk pameran seni rupa, diskusi, konser musik klasik, diskusi perempuan dalam puisi dan novel Indonesia, diskusi perempuan dalam film Indonesia, diskusi perempuan dalam teater Indonesia. Pameran seni rupa antara lain memamerkan karya Agung Kurniawan, Arahmaiani, Dolorosa Sinaga, Marintan Sirait, Mella Jaarsma. Sedangkan konser musik klasik menggelar Youth Orchestra, dan diskusi tentang perempuan dalam teater Indonesia menampilkan Ratna Sarumpaet.

Tempat : Galeri Cemara 6, Jalan Cemara 6, Jakarta
Waktu : 2-12 Desember 1998



Seni Rupa


HERMAN-Josef Kuhna, pelukis Jerman, meneror penonton dengan ribuan titik dalam berbagai warna lewat karya lukisnya. Uniknya, teror ini menghasilkan suasana riang, ritmis, dan imaji struktur dan ruangan. Setiap lukisannya adalah sebuah kosmos yang dipenuhi oleh titik-titik warna. Dalam kosmos ini setiap titik warna menempati tempatnya yang pasti terhadap titik warna di sekitarnya. Hal ini terlihat jelas dalam pengaruh timbal balik yang teratur dan dinamis. Setiap titik warna menunjukkan titik warna lainnya. Pameran ini merupakan rangkaian acara Tendensi Seni Rupa Kontemporer di Jerman yang diselenggarakan oleh Goethe Institut.

Tempat : Galeri Lontar, Jalan Utan Kayu 68-H, Jakarta
Waktu : sampai 12 Desember 1998

YUSTONI Voluntero, perupa dan sekaligus aktivis gerakan mahasiswa, memamerkan lukisan bercorak propaganda. Lukisannya merupakan penajaman potret terhadap realitas untuk dapat digunakan sebagai alat perlawanan dan perebutan keadilan rakyat. Perupa dari Institut Seni Indonesia ini berprinsip bahwa seniman dan karyanya harus berada di antara rakyat dan berguna bagi pembangkit atau pendorong gerakan kerakyatan.

Tempat : Galeri Cemeti, Jalan Ngadisuryan 7A, Yogyakarta
Waktu : 4 Desember 1998- 15 anuari 1999



Teater


PUTU Wijaya, sutradara teater yang gemar meneror publik teater, akan menggelar karyanya terbaru berjudul Keos. Pementasan ini dalam rangka peringatan 30 tahun Taman Ismail Marzuki. Berbeda dengan karyanya Ngeh pada Art Summit 98 lalu, yang mengeksplorasi bahasa rupa dan gerak, Keos pada hakikatnya merupakan monolog yang dimainkan oleh Putu Wijaya dan dibantu oleh awak Teater Mandiri. Monolog ini berusaha melihat dengan kacamata lain riuh-rendah pekik-sorak penghujatan, penjarahan, pemerkosaan, pembakaran, pendirian partai, unjuk rasa yang tak terkendali dalam gelombang reformasi ini. Semua hiruk-pikuk ini lahir dari gerakan mahasiswa yang dengan gagah berani mendobrak rezim korup dalam rangka menegakkan keadilan, kebenaran, membela hak asasi manusia, dan membawa rakyat Indonesia ke dalam demokrasi yang melegakan dan menyejahterakan rakyat.

Tempat : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta
Waktu : 9 Desember 1998, Pukul 20.00

TEATER Kecil menggelar Mega-Mega, dengan sutradara Embie C. Noer. Mega-Mega adalah karya almarhum Arifin C. Noer yang ditulis pada 1966 dengan gayanya kocak-berotak. Lakon ini bercerita tentang impian orang kecil yang selalu diimpit ketidakpastian akan adanya harapan. Yang ada hanya pergulatan akal dan perasaan yang berlangsung terus-menerus untuk menjawab, memahami, atau keluar dari kesengsaraan. Mega-Mega dimainkan antara lain oleh Jajang C. Noer, Willem Patiradjawane, Cini Gunawan, dan Leila Lubis.

Tempat: Gedung Kesenian Jakarta, Jalan Gedung Kesenian 1, Jakarta
Waktu: 9-12 Desember 1998, Pukul 20.00



Film


FASISME di Jerman juga disebarluaskan dengan teknik propaganda lewat karya film. Semua teknik manipulasi audiovisual digunakan untuk mengukuhkan fasisme dalam sebuah negara Jerman Raya yang dikenal dengan sebutan Kerajaan Ketiga. Teknik komunikasi massa yang bersifat propaganda inilah yang akan didiskusikan dampaknya terhadap publik. Diskusi ini membahas pentingnya media film sebagai alat propaganda Kerajaan Ketiga, analisis intensitas politik yang tersembunyi di balik pesan yang kelihatannya tidak bersifat politis, dan film sebagai alat manipulasi politik. Dalam seminar terbatas ini akan dianalisis enam film yang berisi propaganda Nazi, yakni Hitlerjunge Quex, Jud SuB, Ohm Kruger, Stukas, Die groBe Liebe, dan Kolberg.

Tempat : Goethe Institut, Jalan Matraman Raya 23, Jakarta
Waktu : 11-13 Desember 1998


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data