Teater Politik Praktis Grup Teater Kanvas punya komunitas terpadu. Masih lemah, tapi meyakini pentingnya teater politik bagi penyadaran umat. |
Di sebuah pelataran rumah kumuh Ibu Kota, dua orang di depan kios dekil sedang bermain catur. Sementara itu, di sebelahnya, seorang pengamen sedang menyetem biolanya. Lalu terjadi pertengkaran antara pengamen dan salah satu pecatur. Masalahnya sepele. Si pecatur tidak suka pengamen berteriak-teriak mengiringi gesekan biolanya. Namun, si pengamen berkelit, begitulah caranya jika sedang mendapat inspirasi. Dalam adegan yang lain, terlihat seorang guru ngaji, Bang Amir (diperankan Igo Ilham, pemeran utama film Fatahillah), sedang mengajari anak-anak tentang sepenggal sejarah Islam di Spanyol. Begitulah adegan-adegan yang muncul dalam pementasan Teater Kanvas, Blancvieur Nyelonong di Priok, yang ditulis dan disutradarai Zak Sorga.
Adegan selanjutnya memperdengarkan suara rentetan tembakan gencar dan kekacauan. Orang-orang ditangkap aparat. Banyak yang disiksa, termasuk si pengamen yang sampai jadi gila. Di kemudian hari, orang-orang tua dan anak-anak mencari-cari Bang Amir dapat anda duga yang dimaksud adalah Amir Biki (tokoh yang gugur dalam tragedi Priok, 1984, yang semoga dikaruniai kebahagiaan di alam kubur dan alam akhirat)yang hilang. Setelah pertunjukan selesai, digelar acara diskusi yang menghadirkan saksi mata dan korban, antara lain, dari tragedi Priok, tragedi Daerah Operasi Militer Aceh, dan pelanggaran hak asasi manusia di Riau. Acara ini adalah khas Teater Kanvas. Sebagai teater politik, grup ini melayani kepentingan-kepentingan politik yang didasari kebenaran, meski, misalnya, bisa merusak estetika.
Dalam perjalanannya, Teater Kanvasdidirikan pada 1988yang semula memilih menampilkan pertunjukan dengan suasana kontemporer, berbalik meyakini Islam sebagai dasar kerjanya. Lalu tampak grup ini menyuguhkan lakon-lakon perjuangan Islam: Intifadah (1995), tentang perlawanan Palestina terhadap Israel, Konspirasi (1996), tentang pergulatan politik di Turki, dan Revolusi Burung (1997), tentang centang-perenang dunia pendidikan di Indonesia. Teater Kanvas, yang menolak memainkan naskah standarmisalnya karya Shakespeare, Brecht, dan Beckettyang dianggapnya sebagai karya studi untuk dipelajari di sekolah, hanya mempercayai karya kontekstual dan jelas kemaslahatannya bagi masyarakat. Untuk itu, Zak Sorgayang pernah dibatalkan hadiahnya sebagai penulis lakon terbaik dalam Festival Teater Jakarta oleh Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Bulungan, tanpa alasanmenulis sendiri naskah-naskahnya.
Teater Kanvas boleh dikata teater terpadu. Pementasannya pernah dibarengi penyelenggaraan bazar dengan busana, buku, kaset, dan cendera mata yang Islami. Ketika ditanyakan, kenapa produksi ke-23-nya ini tidak dibarengi bazar, salah satu jemaahnya mengatakan, mereka tidak merasa aman melihat situasi Ibu Kota akhir-akhir ini. Menyiratkan mempererat ukhuwah Islamiah, grup ini kelihatan piawai dalam mengumpulkan massabarang tentu karena pertunjukan teater jauh lebih memikat daripada ceramah ustad, petuah Pak RT, atau pidato pemimpin partai. Dalam naskah-naskah Zak memang ada nuansa tragedi dan komedi, yang membuat jemaahnya sedih dan gembira. Meski penonton dipisahkan antara yang lelaki dan yang perempuan, mereka kelihatan happy-happy saja. Bahkan bayi-bayi ikut diajak menonton di udara terbuka sampai pukul 23.00 dan tak seorang pun rewel atau terdengar menangis.
Sebagai anggota Partai Keadilan, Zak Sorga, yang didampingi Tri Ayru Wiratmo sebagai ideolog grup, tentu aset yang mahal bagi partai, lebih-lebih untuk masa-masa mendatang.
Danarto
|