Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIII/15 - 21 Desember 1998
   
Fotografi

Tentang Perempuan dan Kekerasan

Pameran foto tentang kekerasan terhadap perempuan mengungkap realitas kekerasan yang multidimensi. Tapi teks lebih berbicara ketimbang bahasa fotografi.

Suatu siang di Galeri Foto Jurnalistik Antara. Seorang laki-laki Cina menudingkan jari telunjuknya ke sebuah foto yang menggambarkan seorang perempuan Cina sedang menangis di hadapan piring-piring yang pecah berantakan. Laki-laki Cina itu berusaha menjelaskan kepada seorang anak berusia 3 tahun di sebelahnya tentang adegan di foto yang berjudul Habislah Semua. Tak jelas apa yang dikatakan laki-laki Cina itu. Yang jelas, pesan visual yang muncul menyiratkan sebuah kekerasan telah terjadi.

Pameran foto bertema "Perempuan dan Kekerasan" itu menarik perhatian banyak orang. Tampak sekali ada keinginan mengungkap realitas kekerasan--baik fisik maupun struktural--dari kelompok Kaulan Perempuan untuk menyelenggarakan pameran ini. Sebuah foto berjudul Kau Gunting Kukuku, Kubaca Koranku adalah sebuah contoh foto yang berupaya menggambarkan hubungan hegemonik antara laki-laki dan perempuan. Seorang laki-laki yang duduk dengan gaya seenaknya sedang tekun membaca koran. Ia seolah tak peduli dengan kehadiran seorang perempuan di sampingnya yang sedang tekun memotong kuku tangan sang lelaki. Foto ini bisa saja bernada netral, tapi bisa juga menjadi sebuah adegan yang bermasalah bagi aktivis perempuan, sebagaimana teks yang menyertai foto itu: "Sejak kecil anak perempuan diajari bahwa hidupnya untuk mengabdi pada suami dan keluarga. Keadaan ini membuat perempuan berada dalam posisi yang lemah, sehingga rentan penindasan."

Foto ini belum tentu representasi dari sebuah "penindasan". Sebab, satu foto yang menampilkan sebuah suasana belum tentu bisa diartikan sebagai sebuah realitas. Perempuan yang tampak memotong kaki sang lelaki belum tentu dalam hidup sehari-harinya tidak berbakat menindas suaminya.

Pameran ini mengungkap kekerasan terhadap perempuan dari banyak segi. Dari yang bersifat kekerasan konkret sampai yang hanya berupa gagasan, misalnya potret diri seorang perempuan yang kening dan telinga kirinya dibalut perban dan rambutnya ditebas pendek. Foto berjudul My Home Is Not Sweet ini adalah koleksi LBH. Keterangan foto menjelaskan ihwal perempuan cantik bernama Hamidah: "... seorang perempuan asal Palembang. Setelah habis-habisan dihajar dan rambutnya dipangkas paksa oleh suaminya, Hamidah mencari bantuan lewat jalur hukum."

Foto-foto tadi tak akan pernah punya relasi dengan tema pameran ini jika tak diberi teks. Bahkan mungkin fotografer profesional yang karyanya dipajang dalam pameran ini, ketika memencet tombol kameranya, tak pernah menyadari bahwa realitas yang dipotretnya adalah bentuk penindasan terhadap kaum perempuan. Foto tak lagi dibiarkan bebas berbicara apa adanya, tapi masih harus diberi teks yang merupakan tafsiran terhadap realitas. "Ekspresi yang muncul dalam foto-foto ini diharapkan akan menggugah kesadaran orang bahwa telah terjadi kekerasan terhadap perempuan," ujar Amalia Pulungan, koordinator pameran.

Pada akhirnya, foto dalam pameran ini cenderung diperlakukan sebagai ilustrasi teks. Sehingga foto apa pun sebenarnya bisa masuk dalam pameran ini, dengan teks yang sesuai dengan tema pameran. Dan ini agaknya suatu hal yang agak di luar kebiasaan Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), yang selama ini dikenal dengan pameran-pamerannya yang terjaga mutunya dari segi fotografi. Tapi harus diakui ada juga karya yang berkisah tentang kekerasan terhadap perempuan sekaligus menyajikan foto-foto yang simbolis, yakni Violence Against Women karya Imelda Stefanny, yang memperlihatkan serangkaian foto di dalam penjara perempuan. Di situ ada perempuan yang berarti istri, ibu, atau kekasih. Di situ juga ada seorang bayi yang tertatih berjalan. Juga rangkaian foto--tanpa kata--secara simbolis tentang kekerasan yang terjadi pada perempuan. Sayangnya, foto semacam karya Imelda yang simbolis ini tidak diimbangi dengan foto lainnya dalam pameran ini.

Adapun kurator Yudhi Soerjoatmodjo mengakui bahwa fungsi GFJA untuk pameran kali ini hanya sebagai fasilitator yang menyewakan tempat. Kurasi pameran, yang sepenuhnya dilakukan oleh pihak Kaulan Perempuan, diakui Yudhi, memiliki kelemahan dalam penyajian. Selain ada masalah teknis cetak, Yudhi juga mengakui, "Ada beberapa hal yang mungkin agak dipaksakan." Dengan demikian, yang mungkin layak diingat, karena pameran ini mempunyai misi--yang disampaikan melalui fotografi--tentunya yang dipertimbangkan bukan hanya segi isi, tapi juga, seperti kata Yudhi, "segi pembuatan dan estetika."

R. Fadjri dan Mustafa Ismail


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data