Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/XXIIIIIII/22 - 28 Desember 1998
   
Kesehatan

Burung-Burung yang Gatal

Karena ingin memperbesar alat kelamin, puluhan pemuda di Timika menderita luka borok dan infeksi. Hanya disuntik cairan mirip minyak goreng.

MAHAL betul harga yang harus dibayar puluhan pemuda di Timika, Tembagapura, dan Portside, Irianjaya. Gara-gara ingin memperbesar alat kelamin, mereka rela merogoh sejumlah uang untuk suatu cairan yang disuntikkan ke alat reproduksi itu. Bukan "burungnya" yang bertambah besar, malah borok dan luka-luka yang didapatnya. Akibat borok itu, beberapa orang harus menjalani operasi bedah, dua orang di antaranya bahkan terpaksa diamputasi sehingga alat kelaminnya hilang sama sekali.

Bencana ini berawal dari keinginan sejumlah pemuda untuk mereguk kenikmatan seksual. Mereka beranggapan kenikmatan akan makin meningkat bila ukuran "burung" makin besar. Ketika ada tawaran untuk itu, berbondong-bondong pemuda menyambutnya.

Peminat suntik tak hanya orang-orang berpendidikan rendah atau buta huruf, tapi juga para sarjana dan mereka yang sudah berkeluarga. Data yang dihimpun TEMPO dari Timika menyebutkan, pengguna cairan yang disuntikkan ke alat kelamin ini antara lain karyawan perusahaan pertambangan raksasa PT Freeport Indonesia, anggota ABRI, dan karyawan pelabuhan laut (Portside).

Menurut Rudy, salah seorang karyawan Freeport yang sudah ngebet ingin memperbesar kaliber "senjata"-nya, ia mendapat cairan suntik dari sesama karyawan Freeport. Bersama kawan-kawannya, Rudy lalu meminta tolong seorang petugas kesehatan (mantri) dari Rumah Sakit Umum Timika yang tak ia ketahui namanya. Untuk satu kali suntikan ia membayar Rp 75 ribu.

Seminggu setelah disuntik, pemuda berusia 28 tahun itu mengaku alatnya memang menjadi lebih besar dan perkasa. Dan cerita "sukses" semacam ini rupanya diakui pula beberapa pengguna lain. Misalnya Uddin, Hendrik, dan Rinus?beberapa tukang ojek di Timika?yang mengaku mendapat kenikmatan setelah disuntik. Tak mengherankan, keampuhan obat ini pun cepat beredar dari mulut ke mulut hingga menyebar ke anak muda lain yang kemudian ikut-ikutan menyuntikkan diri.

Sialnya, mereka bukannya mereguk kenikmatan, malah mendapat kesengsaraan. Mulanya mereka memang mengalami hal seperti Rudy. Tapi lama-lama terasa gatal dan setelah digaruk muncul luka kecil, lalu menjelma menjadi borok mirip kudis. Karena malu, mereka enggan berobat. Baru setelah kondisinya makin parah, mereka terpaksa dilarikan ke Public Health and Malaria Control (PHMC) PT Freeport di Tembagapura. "Saya hanya disuntik dengan dosis kecil. Tapi teman-teman lain dosisnya cukup besar sehingga alat kelaminnya luka,'' ujar Rudi.

Menurut Direktur PHMC Freeport, Dokter Kunto Rahardjo, sejak November hingga Desember 1998 ini, sudah ada 39 korban yang menderita luka-luka pada alat kelaminnya. Borok itu disebabkan cairan suntik berwarna kuning mirip minyak goreng. Dengan cairan itu, menurut Kunto, sebenarnya bukan alat kelamin yang membesar tapi kulitnya saja. Cuma ia belum tahu persis apa isi kandungan cairan itu, yang sudah dikirim ke laboratorium di Jakarta untuk diteliti.

Para korban biasanya mendapat injeksi 1--9 cc. Satu korban rata-rata mendapat dua sampai tiga kali suntikan. Tapi baru setelah dua atau tiga hari kemudian ada reaksi. "Cairan itu seperti minyak yang masuk ke dalam tubuh. Tapi, ketika bertemu dengan darah, langsung terjadi reaksi, karena cairan itu ditolak," kata Kunto. Itu sebabnya, katanya, pada minggu ketiga atau keempat muncul luka kecil di alat kelamin.

Untuk menolong para korban suntikan yang agak parah, dilakukan pembedahan. Jaringan dalam kelamin yang rusak dikeluarkan. Tapi akibatnya "senjata" yang dioperasi itu jadi lebih pendek dan tidak dapat berproduksi lagi dengan baik, karena jaringan di dalamnya sudah rusak.

Ada dua pasien kiriman dari Puskesmas Timika yang harus dipotong habis alat kelaminnya. Sedangkan yang alat kelaminnya terluka "hanya" dibedah dan dikeruk. Tapi, "Mereka tidak bisa berhubungan seks lagi seumur hidup,'' kata Dokter Nurland Silitonga, Kepala Puskesmas Timika.

Wicaksono (Jakarta), Kristian Ansaka (Jayapura)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data