|
TEMPO, 26 Oktober 1998, rubrik Nasional, menurunkan berita berjudul "Babak Baru Geger Santet: Konflik Politik?" hlm. 18. Saya sangat dirugikan akibat berita tersebut. Saya membantah dianggap sebagai preman yang disegani di kalangan kir-kiran Banyuwangi dan menjadi algojo bayaran pembunuh tukang santet, seperti yang dikatakan Choirul Anam, Ketua DPW PKB Jawa Timur, kepada wartawan TEMPO. Tulisan "Algojo Santet" mohon diralat sesuai dengan pernyataan saya, karena TEMPO maupun Choirul Anam tidak pernah menghubungi saya selaku orang yang disudutkan. Ini sama saja dengan menjerat keluarga saya. Sebagai umat muslim, itu dilarang Allah. Informasi yang diberikan Choirul Anam berasal dari surat kaleng. Apakah surat kaleng bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?
Pekerjaan saya adalah jual-beli mobil, mengurus surat-surat kendaraan seperti balik nama mobil. Di kir-kiran hanya kebetulan, ketika saya jual-beli truk dan kendaraan pikap yang harus dikirkan.
TEMPO juga menyebutkan, saya keluar-masuk Polres tanpa seujung rambut pun disentuh polisi. Setelah berita TEMPO itu, saya dijadikan bulan-bulanan oleh Polres Banyuwangi. Saya menghadapi polisi setiap hari dan dicerca berbagai pertanyaan. Saya sebagai wiraswasta yang berbisnis jual-beli mobil memang sering keluar-masuk Polres karena mengurus surat-surat kendaraan bermotor.
Kemudian ditulis lagi bahwa saya sebagai algojo merekrut anak buah dari Surabaya dan membayar upah Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta untuk ongkos membantai orang. Ini sama sekali tidak benar.
Buat apa bekerja seperti itu? Dari hasil jual-beli kendaraan bermotor, paling sedikit saya dapat untung Rp 2 juta, tanpa menangung risiko apa-apa. Jadi, berita TEMPO perlu diluruskan demi kepentingan hidup keluarga saya.
AGUS INDRAWAN Jawa Timur
|