Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Kesehatan

Kloning Manusia, Tinggal Waktu

Para ilmuwan Korea Selatan mengklaim telah berhasil mengkloning manusia hingga taraf bakal janin. Namun eksperimen itu dihentikan karena secara hukum dan sosial masih dilarang.

APAKAH kaum laki-laki masih diperlukan untuk memperoleh keturunan? Pertanyaan ini tentu mengada-ada untuk masa sekarang. Tapi nanti, bisa jadi tidak. Lewat teknologi kloning, bukan sesuatu yang mustahil bagi wanita untuk memperoleh keturunan tanpa benih pria. Suatu perkembangan yang mencemaskan bagi banyak orang.

Mungkin karena itu, ketika awal Desember lalu dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, dr. Tjeut Meurah Abdul Chalik mencoba mengingatkan orang tentang "bahaya" teknologi kloning. Ia mengungkapkan keberhasilan ilmuwan Prancis, yang dengan teknologi semacam kloning menggabungkan dua buah sel telur untuk dikembangkan menjadi janin. Pembuahan dilakukan di luar rahim dan, sebagaimana bayi tabung, setelah "cukup umur" bakal janin itu ditanamkan ke dalam rahim.

Meski bagi banyak orang kabar ini mungkin mengejutkan, tapi yang diungkap Tjeut Meurah itu sebenarnya sudah terjadi pada awal 1997. Dan perkembangan terkini menyangkut teknologi kloning sudah lebih mencengangkan lagi. Setelah dua tahun lalu ilmuwan Skotlandia berhasil menciptakan domba Dolly, teknik kloning telah dipergunakan pula di University of Hawai untuk mengkloning 50 tikus. Tahun ini, beberapa peneliti Jepang juga sudah berhasil memproduksi delapan anak sapi dari kloning seekor sapi dewasa. Yang lebih mengagetkan lagi adalah kabar dari ilmuwan Korea Selatan yang mengklaim telah berhasil mengkloning embrio manusia dari seorang wanita, awal Desember lalu. Jadi, bukan hanya wanita tidak memerlukan pria, tapi bahkan juga tak membutuhkan wanita lain untuk mendapat keturunan.

Kepada Reuters, Lee Bo-yon dan para peneliti di Rumah Sakit Universitas Kyunghee di Seoul, Korea Selatan, mengaku telah "menciptakan" embrio dari sel telur yang belum dibuahi dengan sel somatik?sel yang membangun hampir seluruh tubuh. Sel ini diperoleh dari seorang wanita berusia 30-an tahun. Para peneliti Korea mengklaim bahwa teknologi kloning yang mereka lakukan telah berhasil hingga sel embrio membelah menjadi empat sel.

Namun, sampai ke tahap itu, eksperimen kemudian dihentikan. Padahal, dalam teknologi bayi tabung, ketika bakal embrio telah sampai ke tahap membelah menjadi empat sel, ia lalu ditanamkan ke dalam rahim untuk selanjutnya berkembang menjadi bayi. Karena itu, jika eksperimen ini tidak dihentikan, para peneliti Korea Selatan itu berasumsi bahwa sel itu akan berkembang juga. "Jika sel itu ditanamkan ke dinding rahim, kami berasumsi manusia kecil akan terbentuk dan akan memiliki karakteristik genetis yang sama dengan donornya," kata Lee. Namun Lee dan timnya tidak melanjutkan percobaan yang mereka lakukan, kecuali kalau di Korea Selatan sudah ada konsensus moral, sosial, dan hukum yang memperbolehkannya.

Hasil penelitian Lee itu ternyata diragukan para ilmuwan pencipta Dolly dari Roslin Institute di Edinburg, Skotlandia. Ketika membuat Dolly, mereka juga menggunakan sel somatik. Karena itu, Dr. Harry Griffin dari Roslin Institute tidak yakin kalau sel somatik yang dipergunakan para peneliti Kyunghee itu telah diprogramkan ke dalam "bakal manusia". "Grup Korea itu menghentikan eksperimen ketika mereka melihat empat sel diproduksi, sehingga tidak ada bukti bahwa sel somatik yang mereka ambil itu telah mengalami pemprograman
kembali," katanya.

Roslin Intitute sendiri, meski menggegerkan dunia dengan domba kloningnya, hingga saat ini tidak pernah berani untuk melakukan penelitian atau proyek pembuatan kloning manusia. "Di Inggris, penelitian semacam itu dilarang," kata Griffin.

Namun, dua pekan lalu, sebuah panel ilmuwan mengusulkan agar kloning manusia bisa dilakukan, tapi hanya untuk menciptakan jaringan atau organ, dan bukan untuk tujuan menciptakan manusia. Selama ini, di Inggris embrio hanya diizinkan tumbuh hingga usia 14 hari. Pada fase ini, bentuk embrio mirip bola kecil yang dapat terlihat dengan mata telanjang. Embrio ini tidak boleh ditanamkan ke dalam rahim, meski untuk tujuan mengembalikan kondisi batang sel embrio manusia sekalipun. Batang sel adalah sel yang berpotensi untuk diubah menjadi sel yang spesifik, sehingga dapat digunakan untuk menangani pasien yang menderita penyakit seperti parkinson, stroke, atau serangan jantung.

Masalahnya, sekali diizinkan, siapa bisa menjamin kloning manusia bakal bisa tetap terkontrol?

Gabriel Sugrahetty


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Terpidana Mati Dukun AS Siap Dieksekusi - 09 Jul 2008 | 07:39 WIB
Harga Minyak Turun, Bursa Saham Amerika Menguat - 09 Jul 2008 | 07:31 WIB
Warga Bali Pilih Gubernur Hari Ini - 09 Jul 2008 | 07:15 WIB
Polda Maluku Kerahkan 1.047 Personel Amankan Pemilihan Gubernur - 09 Jul 2008 | 06:57 WIB
Industri Tekstil Tak Kena SKB Pemindahan Hari Kerja - 09 Jul 2008 | 06:43 WIB
Impor Daging Selandia Baru Dihentikan - 09 Jul 2008 | 02:16 WIB
PLN: Transportasi Publik Tak Boleh Padam - 09 Jul 2008 | 01:06 WIB
John Calvin International School Tutup - 09 Jul 2008 | 00:14 WIB
Artis dan Kiai Bertarung di Jalur Independen - 08 Jul 2008 | 23:49 WIB
Terpidana Mati Dukun AS Sudah Masuk Isolasi - 08 Jul 2008 | 23:13 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data