Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Media

Di Tengah Banjir Media

SEKARANG, siapa yang bisa mengingat semua nama koran, majalah, atau tabloid di Indonesia? Bukan pekerjaan gampang. Bayangkan, hingga pertengahan Desember ini pemerintah telah menerbitkan 535 surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) baru. Bandingkan dengan hanya 289 SIUPP yang diterbitkan pemerintahan Ode Baru selama kurun waktu 32 tahun.

Dalam kondisi seperti ini, majalah Cakram, yang mulai Desember beredar di pasar umum, mungkin hadir pada saat yang pas. Sebagai satu-satunya majalah yang menulis tentang dunia periklanan dan komunikasi pemasaran lainnya, Cakram mungkin akan lebih dikenali. Yang lebih penting, dengan ciri uniknya itu majalah ini menawarkan alternatif bagi media cetak untuk mengumbar informasi kepada para pengiklan.

Sebetulnya selama sembilan tahun ini Cakram telah beredar secara terbatas di kalangan orang iklan. Karena segmen pembacanya sangat khusus, iklan di majalah ini kebanyakan adalah media cetak, radio, atau televisi. Ini berbeda dengan iklan-iklan media cetak di televisi atau koran, yang ditujukan untuk menarik pembaca. Di media khusus seperti Cakram, iklan media cetak adalah semacam etalase untuk ''menjual diri" kepada pengiklan.

Ratusan media cetak yang membanjiri pasar dalam waktu bersamaan memang harus agresif dalam merebut kue iklan. Apalagi pada 1999, perusahaan diperkirakan masih pelit membelanjakan duit untuk beriklan. Setelah tahun 1998 melorot menjadi 60 persen, Ketua Persatuan Periklanan Indonesia, Yusca Ismail, memperkirakan pembelanjaan iklan 1999 hanya akan naik 12 persen. Angka ini pun dengan asumsi: pertumbuhan ekonomi 0 persen, satu dolar AS seharga Rp 7.000-8.000, inflasi kurang 20 persen, dan bunga bank 20-30 persen. Kalau ternyata kondisi makin buruk, ya jangan terlalu berharap kue iklan akan mengembang.

Toh, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah tak pesimistis dengan persaingan akibat berjibunnya media. Bertambahnya media, menurut Yunus, akan meningkatkan pula minat orang untuk membaca. Sehingga, paling tidak, sirkulasi masih bisa digenjot. ''Enam bulan lalu kondisi bisnis pers katanya sangat buruk. Nyatanya, media-media baru yang terbit juga berhasil mendapatkan pembaca," ujarnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data