Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 13/XXIIIIIII/29 Desember - 04 Januari 1999
   
Seni

Patung Cerah dalam Suasana Kekerasan

Sebuah karya seni rupa melihat kekacauan saat ini dari sudut pandang yang lebih segar. Cara bercerita bergaya komikal.

FROM HORROR TO HOPE
Karya : Samuel Indratma
Tempat : Lembaga Indonesia-Prancis
Waktu : 16 - 23 Desember 1998

SEORANG pria berpakaian polisi dengan wajah garang dan mata membelalak. Ia mengayunkan tangan kirinya yang hendak memukul seorang pria yang berada dalam sekapan tangan kanannya. Dari mulut polisi itu, terjulur lidah panjang yang lebih mirip sebilah pisau. Warna kekerasan itu semakin jelas dengan pencitraan hitam-putih pada karya grafis Samuel Indratma. Perupa ini membuka narasi karyanya dengan gambaran kekerasan, yang merupakan gejala paling umum di Indonesia. Ia menempatkan 25 karya grafis dengan teknik cukil kayu di atas kertas.

Dari sekuen ini, Samuel memulai kisahnya tentang kelamnya wajah masyarakat Indonesia dilihat dari perspektif yang lebih berwarna. Betapapun biadabnya perilaku kekerasan yang dipertontonkan oleh kalangan masyarakat, Samuel tampaknya melihat bahwa masih ada sedikit harapan menenteramkan. Samuel tak ingin mereproduksi kekerasan dalam pencitraan yang kelam. Bagi Samuel, dalam kekerasan yang berkepanjangan sebenarnya bersemi tunas-tunas perilaku yang lebih beradab.

Samuel menyampaikan gagasan positifnya dengan gaya bertutur melalui tujuh karya patungnya dari bahan bubuk kertas. Bentuk patung sesungguhnya bukan berupa bentuk figur manusia, melainkan sudah mengalami pemiuhan. Sekilas saja, bentuk figur manusia itu mengingatkan kita pada bentuk kentongan kayu di desa. Di atas seluruh permukaan figur manusia itu, Samuel "menuliskan" kisah dan harapannya tentang sebuah kondisi yang lebih baik lagi. Cara-cara seperti ini juga dilakukan oleh masyarakat tradisional yang menorehkan kisah masyarakat mereka di atas benda-benda fungsional.

Visualisasi gaya bertuturnya mengingatkan kita pada eksplorasi bentuk para pembuat komik alternatif. Bentuk-bentuk yang muncul di seluruh badan patungnya digarap secara karikatural dengan menggunakan metafora yang sangat dekat dengan kekacauan jiwa masyarakat post-industrial: kepala yang bertanduk ijuk, figur manusia bertelinga gajah, tangan yang tiba-tiba muncul di dekat leher, mulut yang berbentuk layar televisi, kepala manusia bersirip, dan sejumlah teks yang dicomot dari label yang banyak ditemukan pada produk konsumsi. Semua campuran tersebut diramu menjadi sebuah diorama kekerasan menuju sebuah harapan akan perubahan.

Simak saja salah satu karya patungnya dengan sapuan warna putih. Pada bagian kepala patung itu, tumbuh dua tanduk yang terbuat dari ijuk. Di sekujur tubuh figur bagian luar terdapat 15 bentuk persegi yang berongga, yang diisi dengan sekumpulan figur tentara mainan anak-anak. Pada bagian dasar rongga patung itu, terdapat patung kecil berupa figur manusia yang berpakaian badut dengan teks berbunyi: "the great unknown." Samuel meramaikan rongga tadi dengan lukisan yang menggambarkan aksi pembakaran yang terbakar: ada gedung bertingkat dan seekor anjing terkepung dalam jilatan merahnya api; ada rumah, masjid, dan gereja yang bernasib sama, yang semuanya mengapung-apung di angkasa.

Mewarnai patung sebenarnya bukan tradisi seni trimatra ini. Namun pematung Gregorius Sidharta Soegijo sudah mendobrak "pantangan" ini, dan melahirkan karya patung yang lebih hidup. Pada karya Samuel, warna dan bentuk secara ekstrem menjadi kekuatan. Ia cenderung menggunakan warna-warna mentah yang sangat mencolok dan bentuk-bentuk yang menggambarkan keliaran alam bawah sadar manusia. Warna merah menyala dengan mudah masuk dalam konfigurasi warna kuning, biru, dan hitam, dalam bentuk-bentuk yang sudah dideformasi.

Namun agaknya karya patung Samuel itu merupakan bagian dari karya instalasi ini yang terlalu independen. Akibatnya, ketika patung itu disusun dengan karya lainnya, mereka tampak kurang menyatu. Samuel masih harus lebih banyak mengakrabi seni instalasi, yang sangat memperhatikan masalah ruang.**

R. Fadjri dan L.N. Idayanie (Yogyakarta)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data