Gelar Tinju Berbuah Judi Acara Gelar Tinju Profesional di Indosiar memanen sukses. Iklan masuk, rating naik, dan penontonnya selalu penuh. Tapi perjudian ikut merajalela karenanya. |
SETIAP Kamis malam, halaman stasiun televisi Indosiar di Jalan Daan Mogot, Jakarta, sesak orang. Beberapa satpam terlihat mengawasi. Ada unjuk rasa? Bukan. Mereka adalah penggemar fanatik tinju yang sedang menunggu dimulainya pertandingan tinju profesional.
Sudah lama Indosiar punya acara siaran langsung Gelar Tinju Profesional. Setiap minggu, pertunjukan langsung itu selalu berhasil mengundang kehadiran 200 hingga 300 orang ke studio Indosiar yang disulap menjadi gelanggang tinju. Ini memang salah satu acara olah raga unggulan Indosiar yang telah bertahan setahun lebih, sejak muncul pertama kali 10 September 1997.
Meski ditayangkan cukup larut, dimulai pukul 22.30 setelah guyonan Srimulat, acara ini tak hanya mengundang masyarakat menonton langsung ke studio. Pemirsa yang menyimak pertandingan melalui televisi pun dibuat ''heboh" oleh acara ini. Di sebuah perkampungan di Wirobrajan, Yogyakarta, misalnya, setiap menjelang Gelar selalu terlihat sekelompok pemuda bergerombol di depan pesawat televisi.
Selama para petinju berlaga, kupon-kupon seharga Rp 100 hingga Rp 1.000 pun digenggam. Kupon-kupon itu berisi sederet angka yang kemudian dicocokkan dengan nomor telepon milik pemirsa yang muncul di televisi. Setiap akhir pertandingan Indosiar memang menghubungi satu nomor telepon tertentu untuk dilibatkan dalam permainan kuis.
Mirip permainan nomor buntut, jika dua angka dalam kupon cocok dengan dua nomor terakhir nomor telepon yang muncul di layar kaca, pemilik kupon seharga Rp 100 akan mendapat Rp 6.500, sedangkan kupon seharga Rp 1.000 akan mendapat Rp 65 ribu. Bila pada kupon Rp 1.000 ada 3 dan 4 angka yang cocok, rupiah yang dikantongi akan lebih besar: Rp 350 ribu dan Rp 2,5 juta.
Pembeli kupon ini, dengan berbagai motivasinya, ternyata cukup banyak. Heri, sebut saja namanya begitu, kepada TEMPO mengaku, kalau kantongnya sedang cukup tebal, ia membeli kupon yang berharga Rp 1.000. Bila lagi cekak, cukup yang Rp 100. ''Saya baru sekali dapat Rp 65 ribu. Cuma iseng, kok. Kalau dapat ya senang, enggak ya enggak apa-apa," ujarnya.
Di Yogyakarta, permainan bergaya judi ini cukup marak karena bandarnya tidak hanya satu. Menjelang senja, kupon-kupon itu diedarkan berkeliling. Yang ditawari biasanya adalah orang-orang yang sudah dikenal. ''Jadi tidak sembarang orang," kata seorang penduduk Wirobrajan. Selain kupon, peminat juga ditawari ikut dalam permainan menebak skor tinju dan pemenangnya.
Judi semacam itu kabarnya juga merebak di berbagai perkampungan di Solo. Adapun di studio Indosiar sendiri, berkembang pula judi dalam bentuk lain. Tanpa bandar dan sepertinya tak ''terorganisasi". Permainannya pun hanya berupa pasang taruhan pemenang tinju. ''Biar dek-dekan, kami taruhan dengan teman-teman sendiri," kata seorang penonton setia Gelar di studio, Paimin Gondrong, yang ketika ditemui pertengahan Desember lalu merogoh Rp 140 ribu untuk bertaruh. Modal untuk pasang taruhan memang lebih besar daripada untuk membeli kupon: rata-rata Rp 100 ribu untuk satu taruhan. Dan taruhan ini rutin dilakukan setiap ada pertandingan. ''Kalau nggak gitu, kurang seru," ujar Sularso, salah satu penonton.
Andreas Ambessa dari Bagian Humas Indosiar, yang mendengar maraknya perjudian itu, mengaku bahwa pihaknya tidak punya kemampuan untuk mencegahnya. Tapi, menurut Andreas, fenomena seperti ini bukan monopoli olah raga tinju saja. ''Setiap olah raga yang ada unsur menang kalah sering dimanfaatkan untuk berjudi," katanya.
Memang, bukan salah Indosiar bila acara itu memancing judi. Maka tak mungkin, misalnya, acara Gelar dihapus karenanya. Apalagi acara ini banyak peminatnya. Menurut Andreas, mengutip riset yang dilakukan AC Nielsen, rating pentas tinju itu sekarang mencapai 6. Karena berkembang baik, acara yang sekali pentas menghabiskan Rp 50 juta itu?dan sudah bisa ditutup dengan pendapatan iklan yang per bulan bisa sampai ratusan juta?kini dilakukan tiap Kamis dan Jumat.
Dibandingkan dengan acara olah raga lainnya, rating Gelar memang tergolong tinggi. Rating rata-rata acara olah raga regular di ANTV, misalnya, kata Reva Deddy Utama, manajer sportnya, hanya 2 sampai 3. Sabuk Emas yang disiarkan RCTI setiap Jumat malam, menurut Eduard Depari dari Bagian Humas RCTI, juga hanya mencapai rating tertinggi 3.
Dengan antusiasme pemirsa yang tinggi ini, mestinya dunia tinju menjadi lebih hidup. Menarik dilihat kelak, apakah yang akan lahir petinju profesional atau para penjudi yang makin profesional.
Wicaksono, Setiyardi, Ahmad Fuadi, L.N. Idayanie (Yogyakarta)
|