Partai Islam: Antara Gembira dan Ragu Banyak yang menilai "partai Islam" dari tokoh yang memimpinnya. Hanya 29 persen responden yang menyatakan akan memilih partai politik berazaskan Islam. |
RUNTUHNYA rezim Orde Baru di samping meninggalkan kehancuran—seperti ekonomi yang centang perenang—juga membawa banyak berkah. Setelah tiga puluh tahun eksistensi partai politik Islam dipinggirkan dan diperas ke hanya satu partai (PPP), sekarang ini ibarat "musim tanam" bagi berdirinya partai Islam. Departemen Dalam Negeri, kantor yang mengurus pendaftaran partai, sampai saat ini telah mencatat ada 31 partai dengan embel-embel Islam, baik dalam azas maupun nama.
Sejalan dengan ramainya pendirian partai, tanggapan pro-kontra pun muncul. Mereka yang pro berargumen bahwa munculnya partai politik Islam merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan seiring dengan melajunya iklim reformasi. Sementara itu, mereka yang berseberangan pendapat menilai partai politik Islam merupakan ancaman bagi kemajemukan bangsa.
Lalu bagaimana komentar publik? Pandangan responden jajak pendapat TEMPO yang dilakukan dua pekan lalu, terbelah juga. Sebagian responden menyambut kehadiran partai Islam dengan gembira. Mereka menganggap partai-partai itu merupakan saluran politik baru bagi umat Islam setelah peran politik mereka selama Orde Baru ini disumbat. Mereka yakin partai-partai berbendera Islam tidak akan membingungkan umat dalam menentukan pilihan politiknya. Sementara itu, sebagian lainnya, dalam porsi yang kurang lebih seimbang, menyatakan hal sebaliknya.
Sebagai pendatang "baru"_mayoritas responden berusia kurang dari 40 tahun atau masih kecil ketika era partai Islam Masyumi muncul, wajar jika mereka belum ada "pemihakan opini" yang tegas terhadap partai politik Islam. Tiga dasawarsa hilangnya Islam dalam wacana politik formal membuat banyak orang tak punya memori; seperti apa sih wajah partai Islam yang sebenarnya.
Kegamangan itu bertambah kental ketika kepada responden ditanyakan dari mana mereka mengidentifikasikan sebuah partai yang merupakan partai Islam. Umumnya, responden berpendapat bahwa keislaman sebuah partai ditentukan oleh tokoh yang memimpin partai itu. Artinya, ketokohan dan keislaman seorang pemimpin menjadi nilai jual yang tinggi bagi sebuah partai politik untuk menarik massa Islam. Persentase itu bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan identifikasi berdasarkan azas yang digunakan atau program kerja. Sementara itu, yang lainnya mengidentifikasikannya dari lambang yang dipakai partai tersebut.
Jika jajak pendapat ini bisa dijadikan patokan, kenyataan itu cukup mengkhawatirkan. Soalnya, ketokohan bukan jaminan bagi diterapkannya nilai-nilai Islam oleh sebuah partai politik. Hal yang sama berlaku jika identifikasi yang dipakai adalah sekadar lambang. Dengan kata lain, kemungkinan terjadinya manipulasi simbol Islam terbuka lebar. Bisa saja jika sebuah partai "Islam" mendapat suara mayoritas, tapi kemudian loyo ketika harus memperjuangkan semangat Islam, seperti mewujudkan pemerintahan yang bersih, birokrasi yang efisien, dan sebagainya.
Kalau hal ini berlanjut bukan tidak mungkin fakta tersebut menjadi bumerang bagi partai Islam sendiri. Dan yang paling tertohok adalah mereka yang mendirikan partai Islam dengan niat yang tulus, seperti membangun landasan dan etika moral yang kukuh dalam praktek berpolitik.
Lalu, akankah partai Islam unggul dalam pemilu kelak? Mayoritas responden tampaknya masih bingung. Lebih dari separo responden tidak tahu atau masih ragu-ragu dalam menentukan pilihan. Hanya 29 persen yang dengan tegas menjawab ya dan sisanya menjawab tidak. Tapi ini tentu bukan harga mati. Masih terbuka kemungkinan partai Islam mendapat suara lebih banyak. Syaratnya, mereka mau menerapkan Islam bukan hanya dalam tingkat simbol.
Arif Zulkifli
INFO GRAFIS| Apakah Anda akan memilih partai Islam dalam pemilu kelak? | | Ya | 32% | | Tidak | 30% | | Tidak tahu | 38% | | | | Pendapat tentang Partai Islam | | | Setuju | Tidak setuju | Tidak tahu/Ragu-ragu| Partai Islam merupakan saluran politik bagi umat Islam | 51% | 30% | 19% | | Partai Islam merupakan jawaban terhadap dibatasinya peran politik umat Islam | 36% | 36% | 27% | | Partai Islam merupakan ancaman bagi kemajemukan bangsa | 20% | 29% | 21% | | Partai Islam membingungkan umat Islam | 36% | 40% | 24% | | | | Sumber Identifikasi Partai Islam | | Dari pemimpinnya | 36% | | Dari lambangnya | 22% | | Dari azasnya | 19% | | Dari programnya | 12% | | Dari namanya | 9% | | Lain-lain | 2% | | | | Agama agama yang Anda anut | | Islam | 83,3% | | Non-Islam | 11,7% | | | | Apakah parta Islam menguntungkan Anda sebagai warga negara? | | Ya | 32% | | Tidak | 30% | | Tidak tahu | 38% | | | |
|
|---|
|
Tentang metodologi jajak pendapat ini:
Penelitian ini dilakukan oleh Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 505 responden di lima wilayah DKI pada 8-14 Desember 1998. Dengan jumlah responden tersebut, tingkat kesalahan penarikan sampel (sampling error) diperkirakan sebesar 5 persen.
Penarikan sampel dilakukan dengan metode random bertingkat (multistages sampling) dengan unit analisis kelurahan, rukun tetangga (RT), dan kepala keluarga (KK). Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi antara wawancara tatap muka dan wawancara melalui telepon.
|