Yang Pintar, yang Sulit Belajar Karena hambatan tertentu, ada anak cerdas yang prestasinya rendah dan selalu tinggal kelas. Mereka sulit berkembang di sekolah reguler. |
Deretan huruf di atas, yang merangkum kisah Hadi naik helikopter, lalu heli itu meledak, adalah buah tangan Adrian, bocah kelas dua sekolah dasar (SD). Kisah pendek itu menarik, bahkan sangat hidup, sehingga mungkin Anda tidak percaya kalau dikatakan bahwa kemampuan deskripsi verbal Ardian tidak setara dengan prestasinya di sekolah. Bocah yang berbakat mengarang itu telah beberapa kali tak naik kelas di SD umum. Bahkan, bila bocah itu ditanya, jawabannya acap ngawur.
Kesulitan berkomunikasi seperti itu juga dialami Anggira, 7 tahun, yang duduk di kelas satu SD tapi sudah menguasai perkalian. Bandingkan dengan anak-anak sebaya dia, yang kemampuan berhitungnya baru pada tahap penjumlahan dan pengurangan. Sementara anak lain menyelesaikan pekerjaan dalam tempo setengah jam, Anggira cuma membutuhkan waktu sepuluh menit.
Anggira juga pandai menggambar lanskap jalan tol dengan perspektif yang benar. "Apa yang baru dilihatnya bisa langsung dituangkan pada kertas," tutur Rita A. Widiadana, ibu Anggira, kepada Mustafa Ismail dari TEMPO. Namun, Anggira menyandang handikap seperti Adrian: sulit bercakap-cakap dan selalu kurang lancar kalau berbicara. Akibatnya, ia lebih suka berdiam diri.
Ada lagi Alex, juga siswa kelas satu SD tapi kemampuannya mirip anak kelas empat SD. Seperti galibnya orang dewasa, ia pun gemar membaca tabloid olahraga. Mestinya, kemampuan membaca ini sejajar dengan kemampuan menulis. Namun, tak demikian pada Alex, yang kacau-balau tulisan tangannya.
Ketiga anak tadi tentu saja bukan anak bodoh. Mereka memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Hanya, tingkat kecerdasan yang tinggi itu tersandung pada kelemahan mendasar yang lazim disebut specific learning difficulty. Ada empat kesulitan jenis ini, yakni kesulitan membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi. Karena ketidakmampuan itu, mereka acap melampiaskannya dengan bertindak emosional.
Banyak orang berbakat dan orang jenius yang mengalami masalah belajar seperti Adrian dan Anggira. Perancang busana Harry Dharsono, umpamanya. Juga ilmuwan cemerlang, ahli fisika Albert Einstein, yang baru bisa membaca pada saat berusia 9 tahun. Pelukis potret Mona Lisa, Leonardo da Vinci, dan penemu listrik Thomas Alfa Edison sama-sama tak sanggup menghafal alfabet sewaktu belajar di sekolah.
Namun, banyak orang tua yang tidak mengerti kesulitan yang disandang anak-anak itu. Mereka malah menyangka anaknya bandel, malas belajar, bahkan cacat mental. "Saking jengkelnya, para orang tua gampang main tangan," kata Ratih G. Zimmer, ahli terapi fisik lulusan Jerman.
Menurut seorang psikolog anak, Fitirani Sumarlis, bocah seperti Adrian mesti diberi terapi edukatif. Sayangnya, SD reguler di Indonesia tak mengaryakan pengajar yang memiliki kemampuan khusus untuk mengajar anak-anak itu.
Sekolah khusus memang ada untuk mereka, yakni sekolah internasional. Namun, itu pun kurang efektif karena anak-anak bermasalah tadi memerlukan perhatian penuh dari guru. Bila tidak, mereka mudah "meledak" dan bisa mengganggu murid lain.
Berbekal pengalaman itulah Dr. Atie Wardiman, istri mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Wardiman Djojonegoro, sejak Juli silam mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak bermasalah yang sulit belajar tadi. Bersama Arifin Panigoro, Mochtar Riady, dan Nyonya Umar Wirahadikusumah, Atie menyelenggarakan SD Pantara di Kampus F Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta di bilangan Mayestik, Jakarta.
SD Pantara kini menangani 31 murid, yang terbagi dalam enam kelas. Para siswa dididik oleh sembilan guru serta seorang psikolog dan ahli fisioterapi. Dengan program pendidikan individual, satu kelas hanya terdiri atas maksimal 10 anak dengan dua guru.
Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, siswa juga diberi pendidikan sosialisasi. Setiap dua minggu sekali, anak-anak itu diajak berkunjung ke rumah temannya. Target sementara, "Mereka bisa melanjutkan sekolah ke SMP reguler," kata Atie Wardiman.
Ma'ruf Samudra dan Karaniya Dharmasaputra
|