Memangkas Malaria dengan Genetika |
alaria sampai saat ini
ternyata masih menjadi
penyakit yang menakutkan. Paling tidak, 2,7 juta nyawa melayang per tahun gara-gara malaria. Di negara maju seperti Inggris saja, pada tahun lalu terdapat dua ribu kasus dengan korban tewas puluhan jiwa.
Kecemasan akan penularan ini barangkali akan menurun setelah ditemukannya metode rekayasa genetika yang memungkinkan nyamuk tak lagi bisa menularkan malaria. Metode ini diilhami uji coba yang sukses diterapkan pada kumbang penular penyakit chagas yang biasa dijumpai di kawasan Amerika Selatan.
Dr. Steve Gillespie, spesialis di bidang penyakit menular pada London's Royal Free Hospital, menyatakan bahwa dengan cara mengambil gen dari satu serangga dan mencangkokkannya pada serangga yang lain, akan muncul serangga jenis baru. Nah, cara pemberian gen baru ini bisa pula diterapkan pada nyamuk.
Sebenarnya, yang menjadi mesin pembunuh adalah parasit yang dibawa nyamuk dan ditularkan ke manusia. Parasit ini tidak berpengaruh terhadap nyamuk, sehingga sistem kekebalan binatang ini tidak menyerangnya. Dengan cara memasukkan gen dari serangga lain, diharapkan serangga yang menjadi penerima gen terpicu sistem kekebalannya sehingga menyerang dan menghancurkan parasit ini sebelum sampai ke tubuh manusia.
Keuntungan cara ini adalah fakta bahwa serangga berkembang biak dengan sangat cepat. Para ilmuwan di Universitas Yale yang meneliti penyakit chagas mendapati dalam waktu pendek koloni baru dari serangga yang tidak lagi menularkan penyakit ini telah terbentuk setelah uji coba.
Tak mengherankan bila muncul rasa optimistis bahwa serangga jenis baru ini akan mengurangi pemakaian insektisida dan pestisida yang sering berakibat merugikan. Apalagi, di sisi lain, pembasmian serangga secara besar-besaran juga akan mengganggu keseimbangan ekologis.
|