Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 18/XXIIIIIII/01 - 7 Februari 1999
   
Inovasi

Memangkas Malaria dengan Genetika

alaria sampai saat ini
ternyata masih menjadi
penyakit yang menakutkan. Paling tidak, 2,7 juta nyawa melayang per tahun gara-gara malaria. Di negara maju seperti Inggris saja, pada tahun lalu terdapat dua ribu kasus dengan korban tewas puluhan jiwa.

Kecemasan akan penularan ini barangkali akan menurun setelah ditemukannya metode rekayasa genetika yang memungkinkan nyamuk tak lagi bisa menularkan malaria. Metode ini diilhami uji coba yang sukses diterapkan pada kumbang penular penyakit chagas yang biasa dijumpai di kawasan Amerika Selatan.

Dr. Steve Gillespie, spesialis di bidang penyakit menular pada London's Royal Free Hospital, menyatakan bahwa dengan cara mengambil gen dari satu serangga dan mencangkokkannya pada serangga yang lain, akan muncul serangga jenis baru. Nah, cara pemberian gen baru ini bisa pula diterapkan pada nyamuk.

Sebenarnya, yang menjadi mesin pembunuh adalah parasit yang dibawa nyamuk dan ditularkan ke manusia. Parasit ini tidak berpengaruh terhadap nyamuk, sehingga sistem kekebalan binatang ini tidak menyerangnya. Dengan cara memasukkan gen dari serangga lain, diharapkan serangga yang menjadi penerima gen terpicu sistem kekebalannya sehingga menyerang dan menghancurkan parasit ini sebelum sampai ke tubuh manusia.

Keuntungan cara ini adalah fakta bahwa serangga berkembang biak dengan sangat cepat. Para ilmuwan di Universitas Yale yang meneliti penyakit chagas mendapati dalam waktu pendek koloni baru dari serangga yang tidak lagi menularkan penyakit ini telah terbentuk setelah uji coba.

Tak mengherankan bila muncul rasa optimistis bahwa serangga jenis baru ini akan mengurangi pemakaian insektisida dan pestisida yang sering berakibat merugikan. Apalagi, di sisi lain, pembasmian serangga secara besar-besaran juga akan mengganggu keseimbangan ekologis.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data