Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 18/XXIIIIIII/01 - 7 Februari 1999
   
Perilaku

Jalan Buntu di Saat Krisis

Akibat krisis, angka bunuh diri di Jakarta meningkat tajam. Apakah tindakan nekat ini sepenuhnya dosa mereka?

arna tembok rumah petak
sewaan di Kampung Rawawa-
des, Pondokkopi, Jakarta Ti-
mur, itu sudah pudar termakan waktu. Di sekitar rumah itu masih bisa dijumpai pemandangan yang semakin jarang bagi warga Ibu Kota, yaitu hamparan sawah hijau. Di rumah itu, Roma Uli, yang berusia 21 tahun, melewatkan hari-harinya. Istri dari seorang pria Batak bermarga Rajagukguk ini sering mengobrol dengan tetangganya. Ia memang dikenal senang bergaul dan ramah. Namun, suatu senja, tepatnya 18 Januari lalu, di rumah petak itu pula Roma Uli memilih mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun serangga.

Sebetulnya, saat Roma meregang nyawa, sang suami sempat memergokinya. Teriakan kagetnya membuat tetangga berhamburan datang. Sayang, racun tersebut bekerja cepat sekali. Dan apa boleh buat, nyawa Roma yang belum beroleh keturunan ini menghilang seiring dengan matahari yang tenggelam di ufuk barat.

Tidak jelas benar alasan Roma menyudahi hidupnya. Sang suami, setelah peristiwa tersebut, lebih sering tidak berada di rumah. Namun, diduga, kenekatan Roma ini dipicu oleh impitan ekonomi yang makin menghebat menimpa pasangan tersebut. Rajagukguk, yang semula berprofesi sebagai sopir metromini, tiba-tiba saja berhenti?atau mungkin juga diberhentikan?dari pekerjaannya. Ia lantas berjualan kupon togel (toto gelap), semacam lotre buntut tak resmi, sehingga penghasilannya tak menentu.

Yang menyedihkan, cerita ini tidak hanya menimpa Roma. Bahkan, di Jakarta, angka bunuh diri pada 1998 meningkat sampai 33,3 persen dari tahun sebelumnya. Bila ditotal, jumlah korban pada tahun lalu adalah 146. Artinya, tiap dua setengah hari sekali dijumpai kasus bunuh diri di Jakarta. "Angka-angka ini mendekati valid," ujar Dr. Budi Sampurna, Kepala Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Asumsinya, untuk kasus bunuh diri, warga Jakarta relatif memiliki kesadaran hukum yang lebih tinggi dibandingkan dengan warga kota kecil. Artinya, setiap kasus bunuh diri dilaporkan dan jenazah korban dikirim ke RSCM untuk diautopsi.

Lantas, benarkah tingginya angka bunuh diri ini disebabkan oleh krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita? Tampaknya, jawaban ya memang harus diberikan. Sekadar perbandingan, menurut satu penelitian di Amerika Serikat, setiap kenaikan angka pengangguran sebesar 1 persen di negara tersebut, ternyata, memicu angka bunuh diri jadi meningkat rata-rata 4,1 persen.

Dr. Budi Sampurna sendiri mengaku cukup kaget melihat statistik kasus ini di Jakarta. Dari data di Fakultas Kedokteran UI, terlihat bahwa cara gantung diri ternyata masih menjadi pilihan "favorit" para pelaku sekaligus korban (lihat tabel).

Bunuh diri di DKI 1997
Cara bunuh diriPriaWanitaTotal
Gantung diri391453
Insektisida222648
Kekerasan tajam224
Racun202
Senjata api101
Jatuh202
Lain-lain303
Total7142113


Bunuh diri di DKI 1998
Cara bunuh diriPriaWanitaTotal
Gantung diri622284
Insektisida212243
Kekerasan tajam303
Senjata api202
Lain-lain7714
Total9551146


Itu barangkali erat kaitannya dengan fakta bahwa hampir semua pelaku bisa dipastikan tidak berpengalaman membunuh dirinya, sehingga mereka meniru apa yang mereka lihat pada berita di media massa dan film. Lebih banyaknya pria yang bunuh diri daripada wanita tampaknya mengindikasikan lebih beratnya beban yang disandang kaum pria selaku kepala keluarga.

Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater yang juga guru besar Fakultas Kedokteran UI, menyatakan kenaikan angka bunuh diri ini sebetulnya bisa diramalkan. "Krisis semakin berat, sementara tidak semua orang punya daya tahan," ujar Dadang. Dan bila dilihat bahwa kebanyakan korban bunuh diri ini berasal dari kalangan bawah, itu memang karena kelas inilah yang paling rentan terhadap krisis. Yang mentalnya tak kuat memilih bunuh diri, sementara yang kuat terpicu menjadi pelaku kriminal atau ikut menjarah kalau cara halal tak bisa ditemukan.

Dadang sendiri mengaku cemas bahwa tingginya angka kasus ini bisa makin meledak bila pemerintah bersikap masa bodoh. "Memang, menurut agama, bunuh diri itu dilarang. Namun, mereka juga korban dari pemimpin yang menelantarkan mereka," kata Dadang. Nah, para pemimpin, bersiaplah ikut menanggung dosa dari kaum yang malang ini.

Yusi A. Pareanom, Dwi Wiyana, Dewi Rina Cahyani


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data