Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 20/XXIIIIIII/14 - 20 Februari 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Tiket Pesawat Naik? Tunggu Dulu...

Karena bahan bakar makin mahal, tiket pesawat akan dinaikkan sampai 60 persen. Haruskah?

Pembeli adalah raja, kata orang. Tapi, dalam bisnis penerbangan, pembeli mungkin cuma hamba sahaya. Lihat saja. Hanya beberapa hari setelah pemerintah menaikkan harga avtur (bahan bakar pesawat), perusahaan penerbangan langsung merencanakan kenaikan harga tiket pesawat.
Adalah Sekretaris Jenderal Indonesian National Air Carriers Association (Inaca), Gimon Benyamin Rungkat, yang pagi-pagi sudah menyatakan kenaikan tarif tiket itu. Katanya, harga tiket pesawat akan naik 35 hingga 60 persen. Tak tanggung-tanggung, penyesuaian ini sudah harus digelar awal bulan depan.

Menurut Benny?begitu Sekjen Inaca ini dipanggil?kenaikan itu tak bisa lagi ditunda-tunda. Soalnya, nasib perusahaan penerbangan kini amat menyedihkan. "Rapotnya sudah merah semua," ujarnya. Kalau tarifnya tak naik, kata Benny, perusahaan-perusahaan ini akan segera bangkrut.

Dengan kenaikan setinggi itu pun, menurut Benny, tiket penerbangan kita masih tergolong murah. Ia menghitung, dengan harga baru kelak, rata-rata tarif penerbangan baru cuma mencapai US$ 8 sen per tempat duduk per kilometer jarak. Ini berarti cuma naik satu sen dari tarif yang berlaku saat ini. Padahal tarif yang diizinkan pemerintah bisa mencapai US$ 11 sen per tempat duduk. Jadi, katanya, masih ada bolong US$ 3 sen yang harus ditomboki perusahaan penerbangan. "Ini gede sekali," katanya.

Hitungan Benny ternyata mirip dengan kalkulasi Garuda. Kendati mengaku belum punya angka yang pasti dan tetap menunggu kesepakatan dengan Inaca, Garuda menilai tarif penerbangan domestik kita masih terlalu murah. Mestinya, yang ideal, ya sesuai dengan tarif dasar pemerintah US$ 11 sen itu. Menurut Wakil Presiden Garuda Bidang Komunikasi dan Umum, Pujobroto, pada tarif ini perusahaan penerbangan bisa menemukan titik impas.

Harus diakui, kendati tarif penerbangan sudah lima kali naik?masing-masing Oktober 1997 (15 persen), November 1997 (25 persen), Januari 1998 (35 persen), Mei 1998 (37,5 persen), dan September 1998 (40%)?hal itu tak banyak menolong industri penerbangan. Nilai tukar dolar yang terus meninggi memberatkan biaya operasi penerbangan yang banyak makan biaya dolar.

Jadi, tak adakah alternatif lain? Ada. Menurut Benny, jika tarif tak dinaikkan, pemerintah harus memberikan subsidi kurs. Paling tidak, harga dolar dipatok pada kisaran Rp 6.000 saja. Selain itu, Benny minta agar pemerintah juga memberikan keringanan dalam pembayaran pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh).

Tapi subsidi macam ini jelas sulit diterima. Selain memberatkan keuangan pemerintah, fasilitas khusus semacam ini akan menjadi sumber distorsi dan korupsi. Barangkali karena itu pula Ketua Komisi IV DPR RI, Burhanuddin Napitupulu, yang membawahkan urusan perhubungan, juga menolak usul Benny. Selama ini, katanya, perusahaan penerbangan sudah banyak mendapat subsidi dari pengelola bandara, misalnya ongkos pembayaran parkir, ongkos tunggu, dan biaya penanganan (handling fee), yang sudah dibubukan dalam mata uang rupiah.

Ia juga menolak alasan Benny soal tarif. Alasannya, tarif Garuda dinilai masih terlalu tinggi. Dibandingkan dengan tiket Singapore Airlines dan Lufthansa, Garuda masih jual mahal. Tiket Jakarta-Medan (pp), misalnya, Garuda mematok Rp 2,3 juta. Padahal, Singapore Airlines mengenakan tarif Jakarta-Kuala Lumpur (pp) cuma US$ 160 atau Rp 1,4 juta (kurs Rp 8.700). Contoh lain, Lufthansa cuma memasang tarif Jakarta-Frankfurt US$ 700 atau sekitar US$ 5 sen per tempat duduk per kilometer. Berdasarkan hitungan ini, Burhanuddin menyimpulkan, kenaikan tarif yang layak cuma 6 persen.

Beberapa perusahaan penerbangan juga tak setuju dengan pendapat Benny. Merpati Nusantara Airlines (MNA), misalnya, mengaku hanya berani menaikkan tarif 10-15 persen. Tak seperti Garuda yang punya kelas, Merpati cukup tahu diri untuk tak memberatkan konsumen. "Kalau terlalu tinggi, pelanggan kita pada lari," kata Kepala Humas Merpati, Tondo Widodo.

Mandala Airlines agaknya juga sependapat dengan Merpati. Direktur Operasi Mandala, Gunadi Sugoto, menampik anggapan bahwa perusahaan penerbangan terancam bangkrut. "Kita malah menambah rute dan pesawat saya masih terus penuh," katanya. Soal kenaikan tarif itu, Gunadi berpendapat, "Itu cuma hitungan Benny pribadi. Inaca sendiri belum rapat."

Jadi? Perdebatan tampaknya masih panjang. Konsumen diharap sabar.

M. Taufiqurohman, Dwi Wiyana, dan Hardy R. Hermawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data