Prokehidupan Mengundang Maut Situs-situs antiaborsi didenda US$ 107 juta oleh pengadilan Amerika Serikat. Kampanye yang mereka gaungkan justru telah merenggut nyawa orang lain. |
KEBEBASAN berekspresi yang begitu didengung-dengungkan di Amerika Serikat mendapat ujian berat. Di pengadilan federal yang berlangsung di Portland, Oregon, para juri sepakat menjatuhkan denda senilai US$ 107 juta kepada pengelola situs-situs antiaborsi. Mereka dinyatakan bersalah karena memublikasikan nama dan gambar para dokter pelaku tindak aborsi di jaringan internet dan tempat lainnya.
Sidang ini memang berawal dari gugatan para dokter yang merasa terancam dengan penyebaran jati dirinya di internet. Kecemasan ini wajar mengingat rasa terteror yang mereka alami. Betapa tidak, dalam situs-situs antiaborsi, identitas mereka terpajang seperti penjahat buron. Di samping foto mereka, tertera tulisan "ABORTIONIST: the baby butcher." Si penjagal bayi. Tudingan seram, memang. Apalagi, untuk menambah efek dramatis, gambar-gambar bocah bajang (fetus) dimunculkan dengan kondisi yang sangat memancing rasa iba.
Untuk lebih mempergencar misi, para pengelola situs antiaborsi menjanjikan hadiah senilai US$ 500 bagi yang bisa membujuk para dokter agar tidak lagi melakukan aborsi, dan US$ 1.000 bagi yang bisa membuat satu klinik aborsi ditutup.
Karena kampanye seperti ini, para pelaku aborsi menjadi tumpahan kemarahan para aktivis Pro Live, yang menilik namanya tentulah berideologi memihak kepada kehidupan. Semula, seruan ini barangkali tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk menyerang pihak lawan. Namun, dalam perkembangannya, kekerasan tampaknya menjadi jalan yang disukai para aktivis untuk memaksa suatu klinik aborsi tidak berfungsi lagi. Caranya, menyabot fasilitas klinik atau menyerang langsung para "aborsionis". Akibatnya, sejak situs antiaborsi pertama kali muncul pada 1996, lima orang dokter telah terbunuh dan tujuh orang lainnya terluka.
Masalahnya, para pengelola situs antiaborsi terkesan seperti menyetujui tindakan ini. Mereka menampilkan nama para dokter yang tewas dengan garis bawah, sedangkan nama para dokter yang luka dicetak dengan warna abu-abu. Lagi-lagi, gambar tetesan darah ditumpahkan di daftar yang disebut The Nuremberg Files. Nama ini mengacu pada situasi setelah Perang Dunia II usai. Dengan adanya Piagam Nuremberg yang menyebut satu negara tidak bisa mengadili tindak kejahatan negara lain, ba nyak perwira Nazi yang lolos dari hukuman.
"Proyek ini memang bertujuan memperoleh informasi seluas-luasnya, agar bila saatnya tiba, para pembunuh anak-anak ini bisa diseret ke pengadilan," ujar David Crane, pemimpin gerakan The American Coalition of Life Activists (ACLA) pada 1996, seperti dikutip Institute for First Amendment Studies dalam home page mereka. Dalam pernyataannya, Crane juga mengutip ayat-ayat dalam Injil seperti, "Angkatlah pedang dan lawanlah para pembunuh anak-anak." Ketika akhirnya organisasi Planned Parenthood menggugat ACLA karena membahayakan peraturan Freedom of Access to Clinic Entrances Act, Crane menyebutnya sebagai sesuatu yang menggelikan.
Boleh saja Crane sesumbar begitu. Namun, dengan denda senilai US$ 107 juta yang dibebankan kepada 14 pengelola situs, tampaknya saat ini ACLA, yang termasuk yang dihukum denda, susah tertawa. Selain itu, pengadilan juga memutuskan agar The Nuremberg Files dicabut peredarannya dari internet, sehingga daftar yang semula bisa dilongok pada www. christiangallery.com ini kini tak lagi bisa ditemui.
Tapi ACLA tidak menyerah begitu saja. Banding telah diajukan, sementara para pengunjuk rasa menggelar aksi di jalanan. Mereka menganggap putusan tersebut melanggar kebebasan berbicara yang tercakup dalam Amandemen Pertama yang berlaku dalam konstitusi Amerika. Dan, saking bersemangatnya, seorang aktivis Pro Live bernama Neal Horsey berencana memajang rekaman video di internet yang menampilkan para wanita yang mendatangi klinik aborsi. Gambar didapatkan dengan menempatkan kamera tersembunyi di sekitar klinik. Malang bagi Horsey, Mindspring selaku provider buru-buru mencabut situs Horsey.
Perang antara dua kubu ini tampaknya masih panjang. Namun satu ironi telah muncul dari kasus ini: seruan prokehidupan ternyata justru mengundang bencana dan menghilangkan nyawa orang lain.
Yusi A. Pareanom
|