Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXIIIIIII/23 Februari - 01 Maret 1999
   
Peristiwa

Siapa Menembak Bendito?

Sungguh malang nasib Bendito de Jesus. Pemuda 27 tahun dari Desa Bairo Pite, Dili Barat, ini, Ahad sore, dua pekan silam, tewas seketika ditembus dua butir peluru jenis NK 1978. Darah segar mengucur dari telinga, hidung, dan mulut pedagang sayur-mayur itu. Mayat korban tergeletak di depan warung Soporingo, yang berhadapan dengan markas kompi A Brigade Mobil (Brimob) Bairo Pite. Korban kena tembakan di tengkuk kirinya, dan peluru tembus di kelopak mata sebelah kanan.

Kejadian ini bermula ketika Bendito bersama rekannya, Jose Pereirem, hendak pergi ke kebun di Ailoklaran. Tapi mereka mampir ke rumah seorang anggota Mahidi (Mati Hidup Demi Integrasi) yang diobrak-abrik warga setempat. Bendito batal melanjutkan perjalanan ketika terpetik informasi: terjadi keributan disertai tembakan tak jauh dari lokasi yang dituju. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan seorang petugas, diduga intelijen polisi, dan sempat terjadi perang mulut.

Entah apa sebabnya, sang petugas lalu menodongkan pistolnya ke arah Bendito. Pistol tak menyalak, dan keburu dihantam lemparan batu oleh seorang rekan Bendito. Sang petugas lalu membawa empat orang rekannya yang membopong senjata laras panjang. Kejar-mengejar terjadi, disertai rentetan tembakan petugas dari Brimob tersebut. "Saya yang terdepan tak kena tembak. Malah mengenai Bendito," kata Tobias kepada TEMPO.

Anggota Brimob yang menembak? Tak jelas. Kepala Kepolisian Daerah Timor Timur, Kolonel (Pol.) G.M. Timbul Silaen, tak bisa memastikan. Ia bertekad mengungkap dan menghukum pelakunya. "Meski belum jelas penembaknya, ada indikasi bahwa arah tembakan dari kelompok Mahidi." Silaen menduga, insiden berdarah itu merupakan buah perseteruan kelompok pro-integrasi dan lawannya.

Setelah dua malam disemayamkan di rumah duka dan diautopsi rumah sakit Dili, mayat korban dimakamkan secara Katolik di pekuburan Santa Cruz, Dili. Ribuan massa ikut mengantar jenazah Bendito. Tak terdengar teriakan keras selain nyanyian rohani, plus bentangan spanduk bertuliskan "Hentikan Kekerasan di Timor Leste" dan "Mati Ditembak Brimob". Dili pun berkabung.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pimpinan Partai Demokrasi Pembaruan Audiensi Dengan Jaksa Agung - 24 Jul 2008 | 12:05 WIB
Dada – Ayi Membuka Kampanye Terbuka Kota Bandung - 24 Jul 2008 | 12:04 WIB
50 Persen Irigasi di Jawa Barat Rusak - 24 Jul 2008 | 11:50 WIB
MUI Sumatera Selatan Desak Revisi Perda Maksiat - 24 Jul 2008 | 11:34 WIB
Korban Tewas Danau Sunter Dibuang Hidup-hidup - 24 Jul 2008 | 11:12 WIB
Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data