Berhaji Mahal tanpa Rasa Kesal Berhaji dengan ONH-plus belum tentu nyaman. Bagaimana memilih operator ONH-plus yang baik? |
Anda naik haji dengan fasilitas ongkos naik haji (ONH)-plus? Hati-hati memilih operator, lebih-lebih di musim krisis dan sulit uang ini. Tahun-tahun lalu, keluhan peserta ONH-plus banyak disampaikan ke Departemen Agama. Ada jemaah yang merasa diperlakukan tidak adil oleh pemandu ketika berada di Tanah Suci. Misalnya, seorang jemaah disuruh berkali-kali membayar dam atau denda apabila ada bagian ibadah haji yang tidak dikerjakan dengan benar. Jika ditanyakan bagaimana tindakan yang benar, jawaban dari pemandunya tak pernah jelas. Selain itu, jika terlalu banyak bertanya, apalagi mengajukan protes, jemaah itu takut hajinya menjadi tak mabrur.
Cerita tentang kekecewaan jemaah haji yang menyangkut pelayanan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Keluhan itu, selain disampaikan ke Departemen Agama, juga disampaikan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Keluhan terbanyak soal penginapan jemaah, yang seharusnya minimal di hotel bintang tiga tapi ternyata hanya di apartemen. Bahkan, musim haji tahun lalu, jemaah haji ONH-plus yang diorganisasikan oleh sebuah biro perjalanan mengeluhkan keterlambatan pemulangan ke Tanah Air. Mereka sempat tertahan di Bandar Udara King Abdul Aziz, Jeddah, sampai seminggu.
Memang benar, naik haji itu adalah ibadah yang wajib disertai niat dan keikhlasan. Tapi, kalau kemudian Anda sudah membayar mahal dengan ONH-plus, lalu kena tipu pula, bisa-bisa habis juga kesabaran Anda. Karena itu, perlu menyaring operator haji mana yang layak dipilih, agar ibadah Anda dan keluarga menjadi lancar dan nyaman. Maklum, operator-operator ONH-plus itu pada dasarnya hanya menjalankan bisnis biro perjalanan yang mencari untung dari musim haji.
Tuntutan mendapatkan kenyamanan lebih memang wajar. Sebab, sejak semula, ONH-plus dirancang untuk melayani kelompok berada yang punya banyak uang dan tidak punya banyak waktu untuk berhaji. Jemaah ONH-plus bisa berhaji hanya dalam 15 hari, sementara ONH "biasa" sampai 35 hari. Biayanya pun berlipat kali ongkos ONH biasa, yang US$ 2.277, yaitu antara US$ 5.500 dan US$ 9.500. "Kenyamanan dan pelayanan lainnya sangat diutamakan," kata Taufiq Kamil, Direktur Pembinaan Urusan Haji Departemen Agama.
Departemen Agama, sebagai pengawas penyelenggara ONH-plus, punya wewenang untuk memberikan teguran, menjatuhkan sanksi, hingga mencabut izin operasi penyelenggara ONH-plus. Cara mengontrol penyelenggara ONH-plus adalah berdasarkan pemantauan dan aduan. Menurut Taufiq, ada selembar kertas perjanjian yang berisi hak dan kewajiban calon jemaah haji yang ditandatangani calon haji dan operator ONH-plus. Nah, kertas bermeterai itulah yang diserahkan ke Departemen Agama. Dari data itu, Departemen Agama bisa pula membuat peringkat penyelenggara haji dengan ONH-plus—dan ini sudah dilakukan sejak 1997.
Untuk musim haji tahun 1999 ini, Departemen Agama memang belum sempat membuat peringkat operator ONH-plus. Yang jelas, peringkat itu sangat berbeda dibandingkan dengan musim haji 1998, yang oleh banyak kalangan dinilai sangat kisruh karena terserang krisis ekonomi. Penyelenggara ONH-plus yang dinilai telah melakukan kesalahan, dengan segera, dijauhi oleh calon haji sekarang ini. Misalnya PT Tiga Utama, yang pada 1998 lalu punya total jemaah haji ONH-plus 1.010 orang dan menduduki peringkat pertama. Pada 1999 ini, jumlah jemaahnya merosot tajam, hanya tinggal 111, dan membuatnya berada di peringkat kelima (lihat tabel). Citra pengelola ONH-plus memang cepat beredar dari mulut ke mulut di antara calon jemaah haji.
Krisis ekonomi juga turut membuat calon jemaah haji lebih teliti memilih operator. Penurunan jumlah jemaah haji ONH-plus dari 8.250 orang pada 1998 menjadi hanya 1.758 orang tahun ini membuat persaingan antaroperator semakin ketat. Calon jemaah yang tinggal sekitar 20 persen dibandingkan dengan tahun lalu itu diperebutkan oleh 50-an operator ONH-plus. Akibatnya, ada operator haji yang hanya mendapat jemaah kurang dari 10 orang, bahkan ada yang hanya mendapat seorang. "Pada akhirnya, pasar yang menentukan," kata Taufiq.
Tentu saja biro perjalanan yang mengelola ONH-plus ini masih tetap mengiming-imingi kenyamanan berlebih. PT Maktour (Makassar Toraja Internasional), misalnya, yang dipilih oleh pemerintah sebagai operator haji terbaik pada 1998, menawarkan Hotel Hilton sebagai tempat menginap di Mekah dan Hotel Continental di Madinah. Dengan tarif ONH-plus antara US$ 7.600 dan US$ 9.800, Maktour mengaku menjual fasilitas yang berkelas. Alhasil, tahun ini PT Maktour menempati peringkat pertama dalam perolehan jemaah haji, yaitu sebanyak 246 orang.
Akan halnya pengelola ONH-plus yang mendapat calon haji minim, mereka tetap memberangkatkan jemaahnya, demi nama baik, atau melakukan merger dengan operator lain. Yang dilakukan oleh PT Gelora Indah Perdana, misalnya. Karena hanya kebagian 30 jemaah, PT Gelora melakukan merger jemaah dengan beberapa operator lain. "Dengan model konsorsium, biaya besar yang harus ditanggung oleh jemaah haji bisa berkurang," kata A. Mukti Gazali, Manajer Umum PT Gelora.
Nah, sekarang yang terpenting adalah mencermati apa saja yang ditawarkan oleh operator ONH-plus yang bersangkutan: hotelnya bintang berapa, dan bagaimana akomodasi lainnya. Sebab, semua tetek-bengek ibadah haji itu sudah ada aturannya dari pemerintah Arab Saudi sendiri. Tempat menginap di Masjidil Haram, misalnya, telah diatur maksimal jaraknya. Pokoknya, jangan sungkan-sungkan bertanya kepada pembimbing haji Anda.
Karena ONH-plus itu mahal, jangan enggan pula memperbandingkan tarif yang ditawarkan oleh tiap-tiap operator haji. Mereka itu menawarkan tarif yang beragam, dengan tenggang harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan Maktour, jemaah harus membayar US$ 9.800 untuk menginap di hotel bintang lima. Tapi di PT Gelora, hanya dengan US$ 6.950, jemaah sudah mendapat fasilitas hotel yang berbintang sama. Mungkin harus Anda teliti lagi di mana perbedaan fasilitasnya.
Perlu juga ditanyakan soal perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Tahun ini, kurs rupiah terhadap dolar untuk naik haji ditetapkan Rp 7.425—turun dari penetapan kurs sebelumnya: Rp 10 ribu. Nah, kalau rupiahnya menguat, tidak ada masalah. Tapi, kalau rupiah melemah terus dari angka patokan itu, bisa timbul kelabakan. Tahun lalu, persis di musim haji, nilai rupiah merosot hingga di atas Rp 9.000 per dolar, padahal kurs untuk haji saat itu ditetapkan hanya Rp 2.800. Tidak aneh kalau pihak operator tekor, kelabakan mencari uang untuk membayar kekurangan akibat melemahnya rupiah.
Jangan malas mengajukan pertanyaan tentang kompensasi. Misalnya, kalau hotel yang dijanjikan tidak terpenuhi atau fasilitas lain yang dijanjikan ternyata juga bohong, tanyakan saja kenapa hal itu terjadi. Ini penting karena pihak operator bisa dengan sangat mudah mempermainkan kondisi psikologis calon haji di Tanah Suci. Daripada nantinya Anda tidak khusyuk, mending menanyakannya sebelum berangkat.
Yang tidak kalah pentingnya adalah membuat perbandingan atas tiap-tiap operator ONH-plus, meneliti konduitenya masing-masing, mana saja yang cacat janji. Mumpung dalam suasana krisis, yang naik haji berkurang, dan pengelola ONH-plus pun tinggal sedikit, perbandingan tentunya tidak banyak. Jangan ragu bertanya kepada orang yang sudah lebih dulu naik haji. Nah, kalau bekalnya sudah cukup, tinggal berdoa untuk mencapai haji mabrur.
Bina Bektiati, Ardi Bramantyo, Dewi R. Cahyani, Wenseslaus
Peringkat 10 Besar Pengelola ONH-Plus Berdasarkan Jumlah Jemaah:
1998 | 1999 |
PT Maktour PT Sahid Nurul Iman PT Patuna Mekar Jaya PT Kopindo Wisata PT Tiga Utama PT Kharissa Permai Holiday PT Dewi Serasi Indah Wisata PT Linda Jaya PT Turisina Buana PT Intan Salsabila
| 246 orang 149 orang 131 orang 12 orang 111 orang 74 orang 62 orang 60 orang 52 orang 49 orang
|
PT Tiga Utama PT Maktour PT Patuna Mekar Jaya PT Linda Jaya PT Sahid Nurul Iman PT Gelora Indah PT Arminareka Perdana PT Binakreasi PT Kharissa Permai Holiday PT Marwah Sari Utama | 1.010 orang 776 orang 737 orang 459 orang 313 orang 310 orang 305 orang 273 orang 266 orang 235 orang
|
|