Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 03/XXIIIIIIII/23 - 29 Maret 1999
   
Kritik

Kecemasan Hanya Milik Wanita?

Akhirakhir ini Asuransi Mobil Garda Oto Gencar memasang iklan produknya di berbagai media massa. Iklan yang dimulai dengan cuplikan feature Kompas, 3 Desember 1998, itu berbunyi, "Ketika rasa aman makin mahal...." Ini dimuat amat sering oleh TEMPO.

Setidaknya ada empat versi iklan tersebut yang dimuat, yaitu tentang seorang karyawati beranak dua yang cemas karena kerusuhan dan kejahatan semakin marak, ibu rumah tangga beranak empat yang selalu cemas menunggu suaminya pulang, ibu seorang mahasiswi yang waswas setiap kali anaknya berangkat kuliah, dan nenek bercucu 10 yang berdoa agar terhindar dari rasa gelisah yang menghantuinya setiap hari.

Iklan-iklan yang didominasi warna hitam tersebut sesungguhnya cukup menarik dan enak dilihat, selain tepat dimunculkan saat ini, tatkala semua orang merasa cemas dengan situasi yang tidak menentu. Maka apa yang ditulis di iklan tersebut langsung diamini oleh pembaca. Dan, setelah itu, pembaca diharapkan terbujuk memakai produk pengiklan agar kecemasannya (sedikit) berkurang.

Petikan feature Kompas dan pemuatan foto "bintang iklan" yang namanya ditulis lengkap (nonartis) rupanya disengaja untuk menampilkan (memotret) apa yang tengah terjadi dan dirasakan masyarakat. Kecemasan masyarakat diwakili oleh kecemasan keempat perempuan dalam iklan itu.

Yang agak janggal adalah keempat tokoh yang ditampilkan semuanya perempuan. Mengapa? Apakah karena kecemasan dianggap oleh pembuat iklan sebagai sifat perempuan? Apakah karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang punya rasa cemas lebih tinggi dibandingkan dengan lakilaki?

Kecemasan sesungguhnya milik seluruh masyarakat. Kecemasan ada di sekujur hati semua orang, lalu dipompa jantung yang berdebardebar hingga menyebar ke segenap pembuluh darah yang menghidupkan tubuh.

Kecemasan bukan milik perempuan saja. Kecemasan dirasakan pula oleh laki-laki. Kecemasan juga bukan milik orang kota atau orang kaya saja. Kecemasan dirasakan oleh seluruh penduduk negeri ini.

Heri Winarko
Mahasiswa Komunikasi UGM
Jalan Sosioyustisia 02, Kampus Bulaksumur
Yogyakarta 55281


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data