|
JOSE Alexander ''Kay Rala" Xanana Gusmao berkaca-kaca matanya ketika ia bicara nasib Timor Timur. Suaranya yang berat mendadak tersendat-sendat saat ia mengungkapkan gawatnya perseteruan di antara warga Timor Timur (Tim-Tim). Konflik makin kencang setelah berbagai milisi—rakyat bersenjata—prointegrasi dibentuk. Puncaknya, di Kabupaten Liquica, meletus bentrokan antara rakyat, kelompok milisi pendukung integrasi, dan aparat keamanan, Senin pekan lalu. Dalam tragedi terbesar sejak kasus Santa Cruz pada 12 November 1991 itu, jumlah korban masih simpang-siur. Uskup Belo menyebut angka 25 orang tewas, sementara pihak ABRI menyebutkan angka lima orang tewas.
Selasa pekan lalu, dari rumah tahanannya di Salemba, Xanana, yang menjabat Presiden CNRT (Dewan Nasional Perlawanan Bangsa Timor) dan Panglima Tertinggi Falintil (Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional Timor Leste), menyerukan agar rakyat Tim-Tim membela diri terhadap pemerintah dan ABRI. Tapi banyak yang menafsirkan bahwa Xanana memaklumkan perang terhadap ABRI. Seruan itu disambut negatif oleh para pejabat tinggi, terutama Menteri Kehakiman Muladi, yang sempat mengancam akan mengembalikan Xanana ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.
Banjir reaksi itu membuat Xanana menutup diri, juga terhadap pers. Beruntung TEMPO bisa menemui pria berusia 52 tahun yang menjadi ''tokoh" sepanjang minggu lalu itu. Berikut petikan wawancara Purwani Diyah Prabandari, Mardiyah Chamim, Karaniya Darmasaputra, dan Ahmad Taufik dari TEMPO di rumah tahanan khusus yang ditempati Xanana sejak 10 Februari lalu.
Jadi Anda menyatakan perang kepada ABRI dan pemerintah RI?
Banyak kelompok yang berteriak-teriak mau perang. Ketika saya dipindahkan ke (penjara) ini, mereka (prointegrasi) bilang bahwa kalau Tim-Tim merdeka, mereka mau perang. Tapi, jika diberi otonomi, mereka bisa menerima. Saya pikir ini politik saja. Masalahnya, sejak Oktober tahun lalu mulai muncul beberapa kelompok milisi (rakyat dipersenjatai). Dan setiap hari mereka mengancam rakyat. Kami minta mereka menghentikan kekerasan, tapi mereka tidak mendengar. Barangkali karena di Ambon atau Sambas telah terjadi pembantaian yang lebih besar, sehingga kalau di Tim-Tim satu hari mati satu orang, itu kecil sekali. Hanya kami tidak bisa lupa bahwa selama 23 tahun ini rakyat Tim-Tim sudah banyak menderita.
Mengapa pernyataan Anda ditafsirkan sebagai maklumat perang?
Saya bilang itu bukan penyataan perang. Saya minta agar rakyat tidak dibunuh seperti binatang, karena hampir tiap hari rakyat menelepon ke sini. Mereka dari desa lari ke Dili. Mereka memprotes karena saya menerima tamu dan hidup dengan enak, makan tiga kali sehari.
Siapa yang menelepon? Rakyat bawah ataukah para pemimpin di sana?
Pimpinan di daerah-daerah. Mereka memberi tahu yang terjadi di sana. Tetapi mereka tetap banyak yang tidak melawan. Bahkan di Liquica, Pastor Rafael juga dilukai. Dan rakyat mau berdiri untuk melawan, tetap kami bilang jangan. Itu juga kelemahan politik dari kami.
Sejauh mana kepatuhan rakyat kepada seruan Anda?
Waktu ada yang terbunuh di Dili, semua orang marah, saya tetap bilang jangan berbuat apa-apa. Dan mereka tidak berbuat apa-apa. Sebelum kejadian di Liquica, Bupati Liquica berteriak di Dili bahwa 100 persen rakyat Liquica mau berintegrasi. Siapa bilang mereka mau kemerdekaan? Sekarang dia membunuhi rakyatnya sendiri. Karena itu, saya memerintahkan rakyat untuk membela diri. Selama ini saya masih minta mereka untuk menahan diri.
Jadi penyerangan atas rumah Pastor Rafael yang membuat Anda mengeluarkan pernyataan tadi?
Orang bilang bahwa itu karena pernyataan saya. Tetapi itu bohong. Pernyataan itu saya buat Senin sore dan keesokan paginya baru diketahui terjadi penyerangan. Mereka (prointegrasi) lewat sana dan mulai mengintimidasi rakyat. Rakyat berdiri dengan parang dan kayu. Mereka lari dan minta bantuan tentara. Kemudian tentara datang dan mengambili semua senjata rakyat. Setelah tidak punya senjata lagi, rakyat diserang oleh kelompok prointegrasi. Empat orang meninggal. Banyak yang lari ke hutan. Kemudian ada berita lagi bahwa 17 orang hilang, tapi ABRI bilang tidak ada. Orang yang lari bilang bahwa semua mati. Sekarang di kota kecamatan, di gereja, mereka menembak orang. Tono Suratman (Komandan Resort Militer Tim-Tim) sendiri bilang bahwa Uskup mendapat laporan 45 orang yang tewas, tapi dibilang yang mati lima dan mayatnya juga tak ditemukan.
Tono Suratman bilang korban 45 orang itu kepada siapa?
Kepada uskup. Kemudian esok harinya Uskup ke sana. Ia melihat hanya ada saksi mata yang bilang kepadanya bahwa di dalam gereja ada 25 orang yang tewas. Sementara itu, yang (mati) di luar tidak diketahui berapa orang.
Apakah 45 orang itu tewas semuanya?
Itu kami tidak tahu. Tiba-tiba saja tidak ada mayatnya, semua hilang.
Bagaimana Anda bisa tahu 45-49 orang tewas?
Ada yang melihat. Karena kami punya orang di sana dan mereka pergi ke Dili. Mereka bilang orang ini mati, orang ini juga mati, dan seterusnya. Mereka saling kenal. Mereka bersikukuh dengan angka 25, walaupun saya tak percaya.
Menurut saksi Anda, ke mana mayat itu dibawa?
Orang bilang, sore itu, mayat-mayat dibawa dengan truk, seperti di Santa Cruz. Kami tidak menemukan satu mayat pun. Mereka bilang tadinya 15 korban tewas, kemudian bertambah hingga sekitar 50 orang, tetapi tetap tidak ada satu mayat pun ditemukan.
Ketika Anda menyatakan perang, apa yang Anda pikirkan?
Saya hanya memerintahkan rakyat untuk membela diri. Karena sampai sekarang saya selalu bilang jangan, meskipun banyak yang sudah mati.
Bukankah itu bisa memperburuk keadaan?
Kami berpikir kalau harus mati, matilah semua. Walaupun kami tidak membela diri, kami juga mati. Kami juga tertembak. Untuk apa lagi, jadi biar saja mati semuanya.
Apakah pernyataan Anda itu untuk menarik perhatian internasional?
Kami dari dulu selalu minta kekerasan dihentikan. Saya mengimbau kepada Jenderal Wiranto, tolong ambil sikap untuk musyawarah bersama. Juga kepada Habibie, saya ingatkan bahwa kekerasan itu mengacaukan komitmen Habibie terhadap dunia. Tolong lihat itu. Kami meminta suatu kekuatan netral di sana, supaya semua merasa aman. Kami tidak ingin perang. Itulah komitmen kami.
Apakah PBB tak bersedia mengirim pasukan penjaga perdamaian?
Saya kira Sekretaris Jenderal PBB tidak memiliki pasukan keamanan. Saya mengerti.
Jadi, Anda tidak berharap banyak kepada PBB?
Dari dulu kami minta bantuan dari negara-negara yang bisa membantu dari sisi personel dan finansial. Karena PBB bukan bankir dan bukan suatu negara yang punya apa-apa, kami minta kepada negara lain. Dulu waktu (Alexander) Downer (Menteri Luar Negeri Australia) ke sini, dia bilang Timor Timur masalah politik, jadi tidak bisa diselesaikan dengan kehadiran militer di sana. Karena itu, Downer memilih polisi PBB. Mereka bersenjata atau tidak, itu terserah. Tetapi syarat supaya proses perdamaian ini bisa lancar, lucuti semua senjata.
Lalu bagaimana cara rakyat membela diri?
Mempertahankan diri adalah jangan menyerahkan senjata kepada ABRI. Kejadian kemarin ini, tentara mengambil parang, kayu, atau apa saja yang dimiliki rakyat. Setelah diambil senjatanya, mereka diserang oleh milisi. Mereka dibunuhi seperti binatang.
Untuk membela diri, apakah berarti rakyat diminta menyiapkan senjata?
Saya tidak punya senjata. Selama 23 tahun ini kami tidak pernah mendapat satu peluru pun dari luar negeri.
Apa upaya Anda untuk melaksanakan rekonsiliasi?
Yang pertama, hentikan kekerasan terhadap rakyat. Saya bertemu orang dari Forum Perdamaian, Demokrasi, dan Keadilan (FPDK) yang menginginkan rekonsiliasi. Mereka minta saya untuk bersama-sama melucuti senjata. Saya belum bisa menerima itu. Tetapi negosiasi tetap berjalan. Pelan-pelan kami bicara. Saya bilang bahwa saya akan mempelajari dulu soal itu, tetapi sudah terjadi penembakan terhadap rakyat kecil di Maliana. Dua orang meninggal. Mereka berusia belasan tahun. Kami merasa bingung, bagaimana ini.
Kapan itu terjadi?
Bulan Maret lalu. Kemudian ada tembakan-tembakan di Baucau. Petugas-petugas komando distrik militer mendatangi penjara di sana dan menembaki para narapidana. Empat orang meninggal. Mereka juga menembaki rakyat di Dili dan Viqueque. Mereka juga menangkapi lebih dari 60 orang. Dan di Same mereka membakar tempat-tempat tinggal rakyat. Di Dili dan Baucau, orang CNRT harus bersembunyi semua. Mereka mendapat ancaman setiap hari.
Februari lalu, Zaky Anwar Makarim (mantan Kepala Badan Intelijen ABRI) dan Kol. Inf. Tono Suratman (Komandan Korem 164/Wira Dharma di Dili) datang ke sini (penjara). Kami membicarakan masalah Mahidi dan Halilintar (dua kelompok prointegrasi). Saya minta agar mereka dibubarkan dan dilucuti senjatanya. Tetapi mereka tidak mau karena khawatir diserang kelompok saya. Kami sepakat membuat pertemuan, tapi sampai sekarang belum jelas kabarnya. Kami merasa dipermainkan. Malahan kami mendapatkan kabar bahwa Tono Suratman sudah berada di Dili.
Dan kemudian pecah kejadian di Liquica. Itukah yang paling besar sejak peristiwa Santa Cruz?
Ya, itu memang yang paling besar sejak 1991.
Sering ada pernyataan bahwa serangan-serangan itu dimulai oleh pihak prokemerdekaan.
Dari Mei sampai September 1998, para gerilyawan bersikap pasif. Mereka makan dengan menembak rusa. Bulan September ada serangan dari ABRI. Kami melawan. Yang sebenarnya terjadi di Alas, orang yang dipersenjatai ABRI di Kota Alas itulah penyebabnya. Memang ada orang Indonesia yang dibunuh. Setelah ada serangan, kami mulai berpencar. Dan gerilyawan tidak begitu saja menerima kematian. Itu tindakan bodoh. Jadi mereka berbalik dan membunuh juga. ABRI bilang kalau kami (orang Tim-Tim) mati, itu wajar. Tetapi kalau dari mereka yang mati,
itu pembunuhan.
Apa yang akan Anda lakukan setelah jatuh korban ini?
Sekarang kami masih dingin, sedangkan kekuatan militer prointegrasi sudah membuat pernyataan akan berkumpul di Maliana (Jumat pekan lalu) dan di Zamulai tanggal 12 April. Jumlah mereka 2.000, tapi tadi pagi mereka sudah mengumpulkan 8.000 orang. Mungkin akan terus bertambah. Apakah mereka mau membunuh semua rakyat di sana, silakan.
Anda tidak akan mencabut pernyataan perang?
Saya bisa menjelaskan kepada Pak Muladi bahwa itu bukan pernyataan perang.
Bagaimana dengan ancaman Muladi untuk mengembalikan Anda ke penjara di lembaga pemasyarakatan biasa?
Saya sudah siap. Saya mendapat informasi bahwa kamar saya belum ditempati orang lain, jadi masih kosong.
|