Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/XXIIIIIIII/13 - 19 April 1999
   
Teater

Hidup yang Muram Bersama Beckett

Endgame, naskah absurd karya Samuel Beckett, dipentaskan di Teater Utan Kayu Jakarta. Gambaran tentang dunia manusia yang fatalistik.

Produksi:Teater Garasi Yogyakarta
Naskah:Samuel Beckett
Penerjemah:Yudi A. Tajudin
Sutradara:Landung R. Simatupang
Pemain:Yudi A. Tajudin, Whani Hari Darmawan, Kusworo Bayu Aji, Erythrina Baskorowati
Waktu dan tempat:Teater Utan Kayu, 9-10 April 1999


SEBUAH kamar dalam rumah tua, mungkin gudang atau kapal Nabi Nuh yang terapung. Dinding ruang berwarna pucat: dua jendela kaca, sebuah lukisan yang dipasang terbalik. Kursi kayu beroda kecil di ujung kaki-kakinya teronggok di tengah ruangan. Di depannya berdiri dua tong usang berselimut seprai tipis.

Di ruang hampir tanpa spirit itulah Hamm tertidur—dan juga hidup. Lelaki tua lusuh itu dilayani oleh Clov, pria lain yang mengabdi pada Hamm sejak kecil. Clov adalah indra bagi Hamm, yang lumpuh dan buta. Clov hidup dan bergerak berdasarkan tiupan peluit Hamm, yang meminta ini dan itu. Lalu masih ada Nagg dan Nell, orang tua Hamm, yang ''disimpannya" dalam dua tong usang tadi. Keduanya kurus dan tak berdaya.

Suasana murung dan relasi Hamm, Clov, Nagg, dan Nell itulah yang dibangun Samuel Beckett dalam lakon Endgame, yang dipentaskan Teater Garasi di Teater Utan Kayu, Jumat pekan lalu. Namun, tidak seperti dalam teater realis, Beckett menyajikan relasi yang tak lazim. Hamm dan Clov menjalin hubungan saling ketergantungan. Hamm membutuhkan Clov sebagai indra, Clov membutuhkan ruang fisik yang diperolehnya dari Hamm. Nagg dan Nell saling membutuhkan untuk mengusir sepi.

Namun relasi-relasi itu bagi Beckett bukan soal yang penting betul. Kesemuanya adalah perangkat untuk menggambarkan posisi manusia, yang di mata pelopor teater absurd itu seperti tanpa asa, sepi dan terasing. Hamm dan Clov mungkin saling mengejek tapi sesungguhnya keduanya sepakat bahwa dunia yang mereka tempati adalah udara dalam kubah hitam tanpa sinar apalagi harapan. ''Apa yang kau lihat?" tanya Hamm kepada Clov, yang memandang keluar jendela dengan teropong. ''Kosong..., kosong, kosong...," jawab Clov. Dan ketika Clov mengarahkan teropongnya ke laut, ia lagi-lagi hanya menemukan ketakberadaan. Clov meringis. ''Semuanya hilang," katanya. Camar, ombak, juga matahari telah menyingkir. ''Dan horizon? Tak ada sesuatu di horizon?" tanya Hamm lagi. ''Apa yang ada di horizon...? Cuma gelap dari kutub ke kutub."

Beckett memang membangun dialog yang mengiris. Ia seperti tidak ingin menyisakan optimisme dalam pentas sepanjang hampir dua jam itu. Di luar manusia, apakah alam atau Tuhan, semua tak bersahabat. ''Alam telah melupakan kita," tutur Hamm. ''Tak ada lagi alam," ujar Clov.

Pada akhir pertunjukan, Beckett memutus relasi antartokoh yang dibangunnya. Clov pergi meninggalkan Hamm. Nagg dan Nell terbenam dalam tongnya. Dan Hamm kembali mengutuk hidup yang dijalaninya. Dan dengan demikian, hidup bagi Hamm adalah permainan yang harus secepatnya diakhiri.

Endgame, seperti karya Beckett yang lain, Menunggu Godot, adalah karya teater yang tidak dimulai dari gagasan. Beckett memulainya dari perangkat dasar teater: benda, warna, bunyi, gerak, dan sunyi. Karena itu di pentas ini kita tak akan menemukan wacana, melainkan ungkapan. Bentrokan antartokoh bukanlah merupakan debat diskursif seperti kita temukan pada karya-karya Edward Albee. Kesemuanya lebih merupakan semburan perasaan Beckett ketimbang pertarungan ide. Tapi di sinilah kelebihanan Beckett: ia jadi bebas pretensi.

Dan di tangan Teater Garasi, lakon yang pertama kali dipentaskan di Prancis tahun 1957 ini benar-benar muncul sebagai cerita yang fatalistik. Terasa berat, tapi itulah Beckett. Konteks Eropa tidak dihapus. Suasana panggung dan pemain adalah imajinasi telanjang Beckett yang dibiarkan hidup apa adanya. Tanpa adaptasi, pertunjukan ini mungkin asing, tapi tetap asyik. Daya tahan pemain sempurna, intonasi dan pengadeganan efisien dalam Teater Utan Kayu yang sempit. Aksentuasi mengental terutama dengan casting dan tata rias yang kuat hasil garapan Retno Ratih Damayanti dan kawan-kawan. Ini memang pentas yang berhasil. Paling tidak menyadarkan penonton bahwa manusia sesungguhnya adalah makhluk yang terasing.

Arif Zulkifli



 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data