Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXIIIIIIII/17 - 23 Mei 1999
   
Ekonomi dan Bisnis

Meraba-raba Harga BCA

Berapa harga BCA? Bukan pertanyaan yang mudah. Jika dijual sekarang, ketika nasib bisnis perbankan sedang apes-apesnya, sulitlah mengerek nilai BCA setinggi harganya pada zaman normal dulu. Tapi, kalau menunggu nanti-nanti, ongkos untuk mempertahankan kesehatan BCA agar bisa melewati masa krisis juga tidak murah.

BCA bukan bank ringkih yang gampang masuk angin. Justru sebaliknya, dengan kekuatan jaringan ribuan cabang, BCA cepat pulih dari serangan krisis. Hanya sebulan setelah didera rush—serbuan nasabah yang mencairkan simpanan—Juni tahun lalu, BCA berhasil menggaet kembali dana masyarakat Rp 13 triliun. Akhir 1998, dana itu sudah membengkak menjadi Rp 55 triliun. Dan tiga bulan kemudian, akhir Maret lalu, sudah menggembung lagi jadi Rp 62 triliun.

Harus diakui, prestasi BCA mengembalikan kepercayaan masyarakat sungguh luar biasa. Barangkali tak ada satu pun bank di Indonesia yang kena rush bisa pulih secepat BCA. Hebatnya lagi, dana pihak ketiga yang masuk ke BCA saat ini murni dana publik—bukan dana yayasan Soeharto dan simpanan BUMN seperti dulu. Meskipun jumlahnya kecil-kecil, dana publik seperti ini lebih kebal terhadap guncangan. Dengan basis konsumen seperti itu, likuiditas BCA bolehlah bisa dibilang berlimpah.

Namun, likuiditas yang berlimpah tak otomatis membuat BCA bisa berjaya. Ada satu kekurangan yang cukup fatal: kemampuannya mencetak untung. Dengan duit berjibun seperti itu, laba BCA ternyata tak melembung seperti yang diharapkan. Dibandingkan dengan Bank Internasional Indonesia (BII) atau Bank Lippo, tingkat keuntungan BCA sangat rendah. Berdasarkan laporan keuangan 1997, hasil bunga bersih BCA ternyata cuma 2,1 persen dibandingkandengan pendapatan bunganya. Sedangkan pada BII dan Lippo, masing-masing 4,64 persen dan 4,38 persen.

Lalu mengapa operasional BCA seolah-olah begitu keropos? Mudah ditebak, terlalu banyak kredit yang disalurkan untuk grup sendiri. Berdasarkan hasil uji tuntas (due diligence) yang dilakukan auditor internasional, 90 persen kredit BCA mengalir ke kelompok Salim. Jumlahnya mendekati Rp 48 triliun. Besarnya pinjaman ke grup sendiri ini akan menaikkan risiko kredit. Soalnya, kredit ke grup sendiri biasanya tak disertai seleksi kelayakan kredit sebagaimana mestinya.

Dengan kondisi seperti itu, Direktur Riset SocGen Global Equities, Lin Che Wei, memperkirakan harga BCA saat ini hanya 4 sampai 5 kali nilai bukunya. Menurut kalkulasi Che Wei, nilai buku BCA diperkirakan mencapai Rp 1 triliun, sehingga harga BCA paling banter Rp 5 triliun.

Tapi seorang pejabat BPPN punya taksiran lebih tinggi. Konon, BCA akan ditawarkan dengan harga sekitar Rp 7,5 triliun. "Tapi itu bukan harga pasti," katanya. "Bergantung pada pemulihan ekonomi, apakah cepat tercapai atau tidak."

DSI, M. Taufiqurohman, Agus Hidayat


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data